Bisnis.com, JAKARTA — Buku Majapahit karya Herald van der Linde menghadirkan sejarah bukan sebagai deretan tahun dan peristiwa yang kaku. Buku yang mengulas epos dan babad sebuah kerajaan yang pernah berjaya di Nusantara ini dikemas layaknya naskah film perang yang epik.
Majapahit adalah kerajaan besar di Nusantara yang kekayaan dan kekuasaannya dibangun dari perpaduan muslihat politik, panen raya padi, dan angkatan laut yang sedemikian perkasa sampai-sampai bahkan orang Portugis, pelaut hebat Eropa, pun terkesan.
Meski demikian, peninggalan fisik kerajaan ini tidak banyak tersisa. Sumber-sumber sejarah yang tersedia pun terbatas jumlahnya dan kerap dipertanyakan tingkat ketepatannya.
Ditulis berdasarkan sumber-sumber primer dan naskah-naskah kuno, cerita dalam buku ini menuturkan kisah para raja yang eksentrik, konflik berdarah dalam lingkar keluarga istana, hingga sosok juru tulis kerajaan yang gemar mabuk, tetapi tetap memiliki kejernihan batin untuk merekam setiap peristiwa yang disaksikannya.
Alih-alih bertutur dengan bahasa akademik yang berat, van der Linde memilih pendekatan naratif yang renyah. Detail latar, percakapan yang direkonstruksi, serta penggambaran tokoh-tokoh kunci membuat pembaca seolah duduk di bangku penonton, membayangkan kisah dramatik tentang bangkit dan runtuhnya Majapahit.
Sejak halaman awal, pembaca diajak memasuki lorong waktu yang membawa pada gemuruh politik, intrik kekuasaan, hingga ambisi besar raja-raja yang pernah berkuasa di Majapahit. Konflik, pengkhianatan, dan strategi politik disajikan dengan tempo yang terjaga, menghadirkan ketegangan sekaligus refleksi tentang bagaimana kekuasaan dibangun, dan pada akhirnya, diuji oleh waktu.
Cerita dimulai dengan kisah heroik sekaligus penuh ironi di pendopo agung di lingkungan megah istana kerajaan Singasari di Jawa Timur. Kala itu, Raja Singasari, Kertanegara, tengah menerima tamu seorang utusan dari Kubilai Khan, penguasa legendaris yang menguasai sebagian besar wilayah Asia.
Dia menuntut Kertanegara mengakui kekuasaannya dengan mengirimkan anggota keluarganya ke istananya di Beijing. Namun, alih-alih tunduk, Kertanagara murka. Dia menghadiahi sang raja dengan merusak wajah utusan tersebut sebagai wujud penolakan.
Kubilai Khan pun marah besar. Dia lantas menyiapkan armada bertahun-tahun untuk menyerang Singasari. Namun, sebelum serangan besar-besaran tiba, Kertanegara tewas dan kerajaannya runtuh terlebih dahulu.
Ketika pasukan Kubilai Khan tiba di Jawa, bukan dendam yang terbalas, mereka lagi-lagi mendapat kesialan. Pasukannya justru diperalat oleh Raden Wijaya (menantu Kertanegara) untuk mengalahkan seorang raja di Jawa Timur yang tengah berkuasa. Manuver politik tersebut menjadi salah satu peristiwa kunci yang kemudian melahirkan Majapahit.
Gaya bertuturnya yang imajinatif membuat pembaca tak akan bosan membaca buku ini. Setiap halamannya akan membuat pembaca menelusuri peradaban masa lalu, dari bagaimana kisah awal Majapahit ditemukan, cerita tentang penulis kerajaan, Mpu Prapanca, yang berkeliling dan menulis kondisi negerinya, hingga bagaimana ketegangan muncul saat keturunan raja saling membunuh demi bisa berkuasa.
Sebuah sentuhan emosional juga dimunculkan dalam beberapa adegan, termasuk pada tradisi seorang istri yang memilih menyatu dalam prosesi kremasi jika sang suami telah tiada. Momen tersebut menghadirkan potret tragis tentang nilai, keyakinan, dan konsekuensi cinta di tengah pusaran politik dan ambisi di era.
Dengan gaya yang mengalir dan imajinatif tanpa meninggalkan pijakan riset, Majapahit menjadi bacaan yang tidak hanya informatif, tetapi juga memikat. Ia membuktikan bahwa sejarah, ketika diceritakan dengan cara yang tepat, bisa terasa sehidup dan sedebar kisah dalam layar lebar.