Anne Ko dari Cimahi mendirikan Tungku Frozen untuk memasarkan kuliner lokal Indonesia secara global. Dengan produk frozen dan retort food, Anne berharap menembus pasar ekspor. [608] url asal
Bisnis.com, JAKARTA - Indonesia adalah negara yang terberkahi dengan kekayaan kuliner lokal yang melimpah. Namun, tidak semua kelezatan hidangan khas tiap daerah mudah ditemukan di luar wilayah asalnya, terutama yang membutuhkan bahan tertentu atau teknik masak yang lebih khusus.
Situasi ini mendorong Anne Ko, pelaku usaha perempuan asal Cimahi, untuk mendirikan Tungku Frozen. Dirinya melihat ada peluang bisnis menarik dari keterbatasan akses terhadap ragam makanan khas daerah di Indonesia ini.
Melalui produk frozen food, Anne berupaya menjembatani kuliner lokal ke akses pasar yang jauh lebih luas. Dengan pendekatan ini, kuliner lokal yang biasanya identik dengan hal-hal berbau tradisional, kini juga bisa tampil dalam kemasan lebih modern tanpa meninggalkan rasa khasnya.
"Waktu itu, saya pikir menarik juga untuk terjun ke frozen food tetapi lebih ke traditional food. Ini kan kuenya masih belum banyak digarap, kebanyakan kalau bicara frozeen food itu makanan olahan biasa," ungkap Anne.
Anne bercerita dirinya telah mulai menjalankan usaha sejak 2013. Usaha pertamanya adalah sebuah kafe yang berfokus pada kopi khas Jawa Barat. Dari sana, dia melakukan diversifikasi dengan meluncurkan Pizza Tungku. Sementara itu, lini bisnis Tungku Frozen baru dikembangkan kemudian, tepatnya pada masa pandemi Covid-19.
Saat awal merintis, Anne melakukan strategi dengan merilis produk frozen food kuliner-kuliner tradisional yang sudah populer terlebih dahulu. Strategi ini diambil agar konsumen lebih mudah menerima produknya.
Beberapa menu yang menjadi andalan Tungku Frozen antara lain sei sapi, ayam Taliwang, ayam betutu, sate lilit, dan dendeng batoko Kerinci. Selain itu, Anne juga menghadirkan aneka sambal kreasi, semua sambalnya diisi dengan daging. Di antaranya sambal cakalang asap, sambal rawa, sambal cumi, sambal terimata, serta sambal goreng Cirebon yang menggunakan daging sapi.
Anne sadar dalam kuliner tradisional, rasa yang autentik adalah salah satu hal penting yang harus dijaga. Oleh karena itu, sebelum meluncurkan satu menu baru, dia pun selalu melakukan perjalanan langsung ke daerah tersebut untuk mempelajari proses memasak dan mencicipi aslinya.
“Misalnya ke Lombok, saya ke sana beberapa kali untuk melihat prosesnya dan belajar langsung. Kebetulan suami saya orang Bali, jadi saya pun sering ke sana untuk belajar masakan Bali, termasuk ketika membuat makanan khas Kerinci, saya juga pergi ke sana langsung,” ujarnya.
Anne mengatakan saat ini peminat frozen food dengan cita rasa lokal ini makin meningkat. Biasanya, katanya, dirinya bisa memproduksi per hariannya mencapai 100-200 pack. Untuk sambal, imbuhnya, bisa lebih banyak lagi, di atas 300-an.
Meski bisnisnya terus berkembang, Anne mengakui bahwa tantangan terbesar sebagai pelaku UMKM adalah aspek pemasaran. Dia harus terus mengikuti perkembangan media sosial dan platform penjualan online, yang ritmenya sangat cepat. “Biasanya kami perlu banyak berkolaborasi dengan Gen Z dan generasi X, jadi prosesnya cukup menantang,” ujarnya
Di tengah dinamika tersebut, Anne menuturkan bahwa dia bersyukur dapat menjadi bagian dari mitra binaan UMKM Pertamina. Melalui program ini, dia memperoleh akses pembiayaan serta berbagai pelatihan, termasuk pelatihan pemasaran yang sangat membantunya dalam mengembangkan usaha.
"Saya jadi tahu teorinya, Triple Hook, Omni Channel, dan lain-lain. Itu semua sudah mulai saya mengikuti," imbuhnya.
Ke depan, selain memperkuat strategi pemasaran digital, Anne juga tengah menyiapkan pengembangan produk baru. Dia berencana mengolah kuliner lokal tidak hanya dalam bentuk frozen food, tetapi juga dalam format retort food.
Retort food merupakan produk yang diproses melalui sterilisasi komersial menggunakan suhu dan tekanan tinggi di dalam mesin retort, sehingga mampu membunuh mikroorganisme serta membuat makanan aman disimpan pada suhu ruang selama 1–2 tahun. “Retort itu mirip seperti proses pada sarden, praktis dan tahan lama,” jelasnya.
Anne berharap inovasi ini dapat membuka peluang yang lebih luas, termasuk menembus pasar ekspor. Dia menargetkan agar tahun depan produknya mulai masuk ke beberapa negara.
Tungku Frozen merupakan salah satu mitra binaan Pertamina dan didukung penuh untuk terus berkembang hingga menembus pasar global.
Anne Ko dari Cimahi mendirikan Tungku Frozen untuk memasarkan kuliner lokal Indonesia secara global. Dengan produk frozen dan retort food, Anne berharap menembus pasar ekspor. [608] url asal
Bisnis.com, JAKARTA - Indonesia adalah negara yang terberkahi dengan kekayaan kuliner lokal yang melimpah. Namun, tidak semua kelezatan hidangan khas tiap daerah mudah ditemukan di luar wilayah asalnya, terutama yang membutuhkan bahan tertentu atau teknik masak yang lebih khusus.
Situasi ini mendorong Anne Ko, pelaku usaha perempuan asal Cimahi, untuk mendirikan Tungku Frozen. Dirinya melihat ada peluang bisnis menarik dari keterbatasan akses terhadap ragam makanan khas daerah di Indonesia ini.
Melalui produk frozen food, Anne berupaya menjembatani kuliner lokal ke akses pasar yang jauh lebih luas. Dengan pendekatan ini, kuliner lokal yang biasanya identik dengan hal-hal berbau tradisional, kini juga bisa tampil dalam kemasan lebih modern tanpa meninggalkan rasa khasnya.
"Waktu itu, saya pikir menarik juga untuk terjun ke frozen food tetapi lebih ke traditional food. Ini kan kuenya masih belum banyak digarap, kebanyakan kalau bicara frozeen food itu makanan olahan biasa," ungkap Anne.
Anne bercerita dirinya telah mulai menjalankan usaha sejak 2013. Usaha pertamanya adalah sebuah kafe yang berfokus pada kopi khas Jawa Barat. Dari sana, dia melakukan diversifikasi dengan meluncurkan Pizza Tungku. Sementara itu, lini bisnis Tungku Frozen baru dikembangkan kemudian, tepatnya pada masa pandemi Covid-19.
Saat awal merintis, Anne melakukan strategi dengan merilis produk frozen food kuliner-kuliner tradisional yang sudah populer terlebih dahulu. Strategi ini diambil agar konsumen lebih mudah menerima produknya.
Beberapa menu yang menjadi andalan Tungku Frozen antara lain sei sapi, ayam Taliwang, ayam betutu, sate lilit, dan dendeng batoko Kerinci. Selain itu, Anne juga menghadirkan aneka sambal kreasi, semua sambalnya diisi dengan daging. Di antaranya sambal cakalang asap, sambal rawa, sambal cumi, sambal terimata, serta sambal goreng Cirebon yang menggunakan daging sapi.
Anne sadar dalam kuliner tradisional, rasa yang autentik adalah salah satu hal penting yang harus dijaga. Oleh karena itu, sebelum meluncurkan satu menu baru, dia pun selalu melakukan perjalanan langsung ke daerah tersebut untuk mempelajari proses memasak dan mencicipi aslinya.
“Misalnya ke Lombok, saya ke sana beberapa kali untuk melihat prosesnya dan belajar langsung. Kebetulan suami saya orang Bali, jadi saya pun sering ke sana untuk belajar masakan Bali, termasuk ketika membuat makanan khas Kerinci, saya juga pergi ke sana langsung,” ujarnya.
Anne mengatakan saat ini peminat frozen food dengan cita rasa lokal ini makin meningkat. Biasanya, katanya, dirinya bisa memproduksi per hariannya mencapai 100-200 pack. Untuk sambal, imbuhnya, bisa lebih banyak lagi, di atas 300-an.
Meski bisnisnya terus berkembang, Anne mengakui bahwa tantangan terbesar sebagai pelaku UMKM adalah aspek pemasaran. Dia harus terus mengikuti perkembangan media sosial dan platform penjualan online, yang ritmenya sangat cepat. “Biasanya kami perlu banyak berkolaborasi dengan Gen Z dan generasi X, jadi prosesnya cukup menantang,” ujarnya
Di tengah dinamika tersebut, Anne menuturkan bahwa dia bersyukur dapat menjadi bagian dari mitra binaan UMKM Pertamina. Melalui program ini, dia memperoleh akses pembiayaan serta berbagai pelatihan, termasuk pelatihan pemasaran yang sangat membantunya dalam mengembangkan usaha.
"Saya jadi tahu teorinya, Triple Hook, Omni Channel, dan lain-lain. Itu semua sudah mulai saya mengikuti," imbuhnya.
Ke depan, selain memperkuat strategi pemasaran digital, Anne juga tengah menyiapkan pengembangan produk baru. Dia berencana mengolah kuliner lokal tidak hanya dalam bentuk frozen food, tetapi juga dalam format retort food.
Retort food merupakan produk yang diproses melalui sterilisasi komersial menggunakan suhu dan tekanan tinggi di dalam mesin retort, sehingga mampu membunuh mikroorganisme serta membuat makanan aman disimpan pada suhu ruang selama 1–2 tahun. “Retort itu mirip seperti proses pada sarden, praktis dan tahan lama,” jelasnya.
Anne berharap inovasi ini dapat membuka peluang yang lebih luas, termasuk menembus pasar ekspor. Dia menargetkan agar tahun depan produknya mulai masuk ke beberapa negara. Tungku Frozen merupakan salah satu mitra binaan Pertamina dan didukung penuh untuk terus berkembang hingga menembus pasar global.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found
in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56