Bisnis.com, SURABAYA – Siapa yang menyangka, dari berjualan produk olahan sambal di rumah dengan modal awal hanya Rp50 ribu saja, saat ini produk tersebut dapat menembus pangsa pasar internasional, tepatnya di negeri Paman Sam, Amerika Serikat.
Produk tersebut bernama Dede Satoe Sambal, yang digagas oleh Susilaningsih, pensiunan PNS Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Putrinya, Siti Fatimah Febrina selaku Executive Director Dede Satoe Sambal pun membagikan kisah menarik di balik berdirinya produk olahan sambal kemasan yang ikut didirikannya bersama ibundanya tersebut.
Shifa menjelaskan, keinginan untuk membuat sambal dalam kemasan tersebut terbersit oleh sang ibunda usai melakukan kunjungan kerja luar negeri hingga menjalankan ibadah umrah di Tanah Suci. Ia menerangkan bahwa sang ibu merasa kurang cocok dengan berbagai jenis kuliner yang disajikan di luar negeri, dan lebih cocok dengan makanan khas Nusantara.
"Saat musim dingin, ibu saya ngerasa di sana itu kan yang umum teh, kopi, roti, keju, susu, buah. Nah, ibu saya tuh bilang, 'Nah, harusnya kan kalau pas musim dingin gini kan paling enak tuh nasi panas, sambal, dan teri goreng'. Cuma pada waktu itu cari sambal enggak ada, cari cabai juga susah," ungkap Shifa kepada Bisnis, Kamis (6/11/2025).
Saat tiba di tanah air, Shifa pun menjelaskan bahwa sang ibu mencoba untuk merealisasikan cita-citanya, yakni membuat produk sambal olahan dalam kemasan yang praktis dan tahan lama. Awalnya, Shifa menyebut bahwa ibunya memulai usaha tersebut hanya dengan modal Rp50 ribu saja. Namun, saat produk itu ditawarkan ke tetangga dan warga sekitar rumahnya, sambal racikan Susilaningsih itu ternyata digandrungi oleh banyak orang.
"Tahun 2011 ibu saya membuat sambal Dede Satoe, dan awalnya ibu saya sendiri yang ngulek-ngulek. Jadi modalnya itu Rp50 ribu, itu beli 1 kilogram cabai, beli bahan-bahan lain, pakai uleg-an, pakai wajan di rumah untuk masak sambalnya. Lama-kelamaan, ketika diperkenalkan ke tetangga, ke teman-teman, saudara itu, respons mereka baik, wah ini enak nih, bisa nih dijual. Nah, dari situ akhirnya dijual dan mulai berkembang," bebernya.
Setelah pesanan atas produk sambal kemasan tersebut mulai menumpuk, Shifa pun menjelaskan bahwa ibundanya pun lalu mengajak warga di sekitar lingkungan rumah mereka, khususnya ibu rumah tangga di kawasan Jalan Tenggilis VI, Surabaya, untuk turut serta bekerja dalam memproduksi sambal.
Untuk kapasitas produksi Sambal Dede Satoe, Shifa menyebut bahwa pihaknya bisa memproduksi lebih dari 150 kilogram sambal per hari, dengan capaian kemasan sekitar 700 sampai 800 botol untuk sekali produksi.
"Kita ajak 'yuk mau enggak kupas bawang, petik batang cabai di rumah', boleh tetap dasteran, tetap bisa sambil mengurus anak, dan lain-lain, tapi dari situ nanti bisa berpenghasilan. Nah, untuk total perempuan yang ada di sekitar lingkungan kita yang kami ajak bekerja sekitar 15 orang. Jadi memang kami berusaha untuk berdampak terhadap sosial, lingkungan sekitar. Meskipun kita itu hanya sebatas industri rumah tangga, tapi kita usahakan untuk kita bisa berdampak," tegasnya.
Terkait pemilihan bahan baku, Shifa menegaskan, walau sambal kemasan yang digagas oleh ibundanya tersebut hanya diproduksi di rumah saja, tetapi kualitas dari setiap bumbu dan bahan yang digunakan untuk memproduksi sambal harus tetap diperhatikan dan melewati hasil kurasi yang teliti.
"Misalkan sambal roa itu kita ambilnya langsung dari Sulawesi karena memang di sekitar kami tidak ada yang memproduksi. Jadi ikan roanya kita datangkan dari Sulawesi langsung untuk kita olah menjadi sambal roa. Untuk cabainya, kita juga ada kriteria-kriteria tertentu yang memang ini cabainya itu diolah Sambal Dede Satoe banget, seperti tingkat kadar airnya, kekeringannya, kepedasannya gimana, dan tipe cabainya," jelasnya.
Perjalanan produk Sambal Dede Satoe pun menapaki jejak yang tidak pernah disangka-sangka, yakni bisa menembus pasar internasional, tepatnya di Amerika Serikat. Shifa menjelaskan, perjalanan produk sambal kemasannya dapat sampai tiba di retail-retail negeri Paman Sam bermula saat gelaran Jatim Fair pada tahun 2016 lalu.
Saat gelaran event tersebut, Shifa menjelaskan bahwa produk sambal kemasan Dede Satoe banyak dilirik oleh para buyer, baik dalam maupun luar negeri. Salah satunya adalah buyer dari Amerika Serikat. Ibundanya, Susilaningsih pun kemudian dipertemukan dengan seorang buyer asal Amerika Serikat, yang ternyata juga merupakan seorang warga Indonesia yang tinggal di sana.
"Beliau juga datang ke tempat produksi kami, dan ditanya apakah sudah ada HACCP, ya sudah ada karena kan udah lihat langsung proses produksi. Dari situ juga akhirnya beliau tertarik lebih lanjut, kemudian kita diskusi pengiriman sampel, trial, dan lainnya hingga akhirnya pada tahun 2016 itu adalah pertama kali kami bisa ekspor ke Amerika Serikat," bebernya.
Untuk menembus pangsa Amerika, Shifa menjelaskan bahwa pihaknya harus mengurus banyak legalitas yang berkaitan dengan produk sambal kemasan maupun dokumen-dokumen resmi perusahaan. Sambal Dede Satoe pun juga harus melewati berbagai rangkaian uji kualitas mutu di laboratorium otoritas terkait, seperti Food and Drug Administration (FDA). Walau proses pengajuan dokumen legalitas terkesan birokratis, tetapi hal tersebut semakin membuka jalan cuan bagi produk sambal kemasan untuk dapat menyakinkan para calon konsumen.
"Awalnya pengiriman sekali setahun, dua kali setahun kemudian meningkat, empat kali dalam setahun meningkat sampai waktu pandemi tahun 2020, di mana penjualan di Indonesia aja lesu, kami juga tidak berharap banyak untuk pasar kami yang ada di luar negeri, tapi ternyata tidak disangka justru pada tahun 2020 itu pemesanannya itu setiap bulan itu pasti ada. Jadi dalam satu tahun itu, kami ada pemesanan dari US itu hingga 12 kali," paparnya.
Mengenai persaingan dengan produk sambal kemasan lainnya, Shifa mengungkapkan bahwa memang sudah banyak produk-produk lainnya yang sudah beredar di pasaran. Namun, ia menegaskan bahwa Sambal Dede Satoe dihasilkan dari setiap rangkaian proses produksi, kualitas bahan baku, hingga pengemasan produk yang terus terjaga dan tersertifikasi.
"Untuk seal-nya, biasanya 'kan hanya tutup plastik sebelum tutup utama. Kalau kami pakai aluminium foil, lalu produk kami bisa tahan lama sampai dua tahun, aman untuk dibawa ke mana saja, dan untuk kami distribusikan ke luar negeri. Produk kami juga tanpa memakai MSG, dan pengolahannya mulai dari hulu hingga hilir itu sangat ketat untuk pengawasannya karena kami sudah tersertifikasi HACCP sebagai sertifikasi dasar untuk ekspor. Selain itu ada juga sertifikasi USFDA, GMP, BPOM, PIRT, Halal MUI, dan kami juga sedang dalam pengurusan SNI," paparnya.
Sambal Dede Satoe pun saat ini sudah memiliki 17 varian rasa, di antaranya Sambal Surabaya, Sambal Petai, Sambal Kecombrang, Sambal Sereh, Sambal Korek Sambal Ikan Peda, Sambal Ikan Roa, Sambal Ikan Teri, Sambal Ikan Tuna, hingga Sambal Ikan Cakalang, dan bisa didapatkan hanya dengan harga Rp29.500 sampai Rp40.000 saja.