Bisnis.com, JAKARTA – Sistem operasi platform TikTok di Amerika Serikat (AS) telah berubah usai berpindah tangan melalui konsorsium atau perusahaan patungan yang dipimpin oleh beberapa perusahaan yakni Silver Lake, Oracle, dan MGX (perusahaan investasi UAE).
Sejumlah perusahaan tersebut dilaporkan kini telah mengendalikan saham kepemilikan sebesar 45 persen dari platform media sosial video tersebut, yang diberi nama TikTok USDS Joint Venture LLC.
Perusahaan patungan tersebut juga telah mengumumkan sejumlah investor beserta dewan direksinya pada Kamis (22/1/2026).
Adam Presser, seorang pegiat di TikTok sekaligus mantan eksekutif WarnerMedia, ditunjuk menjadi CEO TikTok AS, sementara itu Will Farrell yang juga seorang pegiat TikTok dan Booz Allen Hamilton akan bertindak sebagai kepala keamanan yang mengawasi privasi dan keamanan data.
Sementara itu, dewan direksi perusahaan patungan tersebut akan berisi CEO TikTok Shou Chew, co-CEO Silver Lake Egon Durban, direktur pelaksana Susquehanna International Group Mark Dooley, penasihat senior TPG Timothy Dattels, CEO DXC Raul Fernandez, wakil presiden eksekutif Oracle Kenneth Glueck, serta kepala strategi dan keamanan MGX David Scott.
Melansir dari Yahoo Finance, berdasarkan kesepakatan yang dirilis pada Desember 2025 lalu, operasi bisnis TikTok di AS akan dimiliki oleh perusahaan patungan yang diberi nama TikTok USDS Joint Venture LLC, yang terdiri dari Silver Lake, Oracle, dan MGX yang akan memiliki 45 persen kepemilikan.
Rincian lainnya, selain 45 persen kepemilikan dari tiga perusahaan tersebut yakni 5 persen akan dimiliki investor baru, 30,1 persen akan dipegang afiliasi perusahaan ByteDance yang sudah tetap, dan 19,9 persen akan dipegang secara paten oleh ByteDance.
Kesepakatan pembentukan perusahaan gabungan ini sebenarnya telah lama direncanakan. Dengan situasi TikTok yang menghadapi potensi pelarangan dari pemerintah AS pada tahun lalu, pembentukan perusahaan patungan baru dapat berjalan usai Presiden AS Donald Trump mengarahkan Departemen Kehakiman untuk menunda pemblokiran hingga pembeli dapat ditemukan, dan persetujuan dari otoritas China.
Kesepakatan ini juga dapat terbentuk melalui persetujuan keamanan data dan pengawasan dari pemerintah AS, dengan bergabungnya sejumlah perusahaan tersebut untuk mengelola TikTok semakin memperjelas bahwa AS yang akan mengambil kendali penuh.
“Perusahaan akan melatih ulang, menguji, dan memperbarui algoritma rekomendasi konten pada data pengguna AS. Algoritma rekomendasi konten akan diamankan di lingkungan cloud Oracle di AS,” jelas TikTok, melansir dari Yahoo Finance, Sabtu (24/1/2026).