Bisnis.com, JAKARTA — Indeks harga saham gabungan (IHSG) ambrol pada perdagangan hari ini, Rabu (28/1/2026), usai pengumuman MSCI. Investor ke depannya diperkirakan akan kembali melirik saham dengan fundamental baik.
Tim Riset Syailendra Capital menuturkan efek dari pengumuman MSCI ini dirasakan oleh deretan saham momentum yang telah naik signifikan sejak dua hingga tiga tahun terakhir, dengan penurunan masif sekitar 15%.
“Momentum tren Index Contenders mulai menunjukkan pelemahan dan terdapat indikasi telah mencapai puncaknya,” tulis Tim Riset Syailendra Capital, Rabu (28/1/2026).
Ke depannya, lanjut Tim Riset Syailendra investor akan kembali mencermati pilihan saham yang berfokus ke kondisi fundamental yang solid atau dengan pertumbuhan laba yang terjaga.
Lalu mampu membayar dividen dengan yield yang atraktif, emiten dengan komoditas tertentu seiring dengan pembatasan suplai yang mendorong kenaikan harga komoditas global, dan emiten yang melakukan aksi korporasi tertentu dengan risk to reward yang menarik.
Sebagaimana diketahui, BEI melakukan mekanisme trading halt usai IHSG ambles lebih dari 8% pada perdagangan hari ini, Rabu (28/1/2026).
Anjloknya IHSG ditekan oleh koreksi saham BBCA sebesar 6%, BMRI turun 5,61%, BBRI melemah 5,24%, TLKM jeblok 12,44%, BUMI anjlok 14,53%, RAJA merosot 15,75% dan AMMN melorot 12,50%.
Melansir RTI Infokom, BEI terlihat telah membuka trading halt pada pukul 14.43 waktu JATS. Sampai pukul 14.50 WIB, IHSG tercatat masih melemah 8,57% ke level 8.210,44.
Sampai 14.50 WIB, hanya 23 saham yang berada di zona hijau, dan sembilan saham lainnya stagnan. Sisanya, sebanyak 772 saham berada di zona merah.
Adapun Bursa Efek Indonesia (BEI) menegaskan komitmennya untuk memperkuat transparansi dan koordinasi lintas otoritas pasar modal guna menjaga kredibilitas Indonesia di mata investor global.
Sekretaris Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia Kautsar Primadi Nurahmad mengatakan BEI bersama Self-Regulatory Organization (SRO) lainnya, yakni PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dan PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), serta dengan dukungan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), telah menindaklanjuti pengumuman MSCI yang dirilis pada Rabu (28/1/2026).
Menurut Kautsar, masukan yang disampaikan MSCI dipandang sebagai bagian penting dari upaya berkelanjutan untuk memperkuat kredibilitas pasar modal Indonesia, mengingat indeks MSCI menjadi salah satu referensi utama investor internasional dalam menentukan alokasi aset global.
“Sejalan dengan hal tersebut, kami berkomitmen untuk mengupayakan yang terbaik dalam rangka meningkatkan bobot saham Indonesia dalam indeks MSCI,” ujar Kautsar.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui penguatan transparansi data pasar, termasuk penyediaan informasi yang lebih akurat dan andal sesuai praktik terbaik global. Salah satu langkah konkret yang telah dilakukan adalah membuka akses data free float secara lebih luas dan terstruktur.
“BEI telah menyampaikan pengumuman data free-float secara komprehensif melalui website resmi BEI sejak 2 Januari 2026 serta akan disampaikan secara rutin setiap bulannya,” jelas Kautsar.
Ke depan, BEI bersama SRO dan OJK akan terus berkoordinasi dengan MSCI guna memastikan keselarasan pemahaman serta implementasi peningkatan transparansi informasi pasar.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.