Bisnis.com, JAKARTA – Pengamat Keuangan Syariah Sutan Emir Hidayat menyebut kinerja PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) berpotensi melesat jika menjadi entitas yang lebih mandiri.
Sutan menyampaikan pengalihan kepemilikan ini juga akan berpengaruh terhadap strategi pengembangan industri perbankan syariah di Indonesia secara keseluruhan. Pasalnya, BSI sebagai bank syariah akan lebih leluasa dalam menentukan arah bisnisnya, jika pemisahan tersebut benar terjadi.
“Kinerja BSI sedang sangat baik. Jika menjadi entitas yang lebih mandiri, ruang geraknya akan lebih luas, fleksibel, dan fokus pada pengembangan pasar keuangan syariah nasional. Ini bisa menjadi peluang BSI untuk melesat lebih jauh,” kata Sutan dalam keterangannya kepada Bisnis, Senin (20/10/2025).
Selain itu, Sutan menyebut bahwa rencana tersebut dapat meningkatkan kepercayaan investor terhadap BSI. Apalagi, saat ini BSI telah menjadi bank bullion, sama seperti Pegadaian.
“Tentu melihat apalagi sekarang harga emas yang lagi, ini tentu saya rasa keputusan strategis ini akan mendorong naiknya harga saham BSI,” ujarnya.
Kendati begitu, Sutan mengingatkan bahwa proses pemisahan perlu dilakukan secara hati-hati. Dia mengatakan, BSI selama ini mendapat dukungan besar dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), baik dari infrastruktur, likuiditas, maupun jaringan.
Jika pemisahan dilakukan, kata dia, diperlukan masa transisi yang terencana dan mekanisme pengalihan dukungan yang jelas, agar tidak terjadi gangguan pada operasional maupun persepsi pasar.
Menurutnya, terdapat tiga faktor utama keberhasilan pemisahan BSI dari Bank Mandiri. Pertama, tata kelola dan manajemen risiko yang kuat. Kedua, permodalan yang cukup dan berkelanjutan. Ketiga, roadmap transisi yang terukur dan transparan.
Apabila ketiga faktor ini terpenuhi, dia menyebut bahwa BSI tidak hanya siap lepas, tetapi juga berpotensi menjadi pemain utama dalam industri perbankan syariah di kawasan regional.
Untuk diketahui, hal tersebut disampaikan Sutan di tengah berhembusnya wacana pemisahan (spin off) BSI dari Bank Mandiri ke Danantara, yang disebut-sebut akan menjadi salah satu agenda strategis dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) dalam waktu dekat.
Sementara itu, Chief Executive Officer Danantara Rosan Roeslani enggan menanggapi wacana pemisahan BSI dari Bank Mandiri. Saat dikonfirmasi mengenai rencana tersebut, Rosan tidak berkomentar banyak.
“Ya terima kasih ya,” jawabnya singkat, usai menghadiri agenda HIPMI-Danantara Indonesia Business Forum 2025 di Kempinski, Jakarta Pusat, Senin (20/10/2025).
Wacana tersebut sebelumnya sempat disampaikan oleh Erick Thohir, yang kala itu masih menjabat sebagai Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Pada Juni 2025, Erick menyampaikan bahwa proses pemisahan BSI dari BMRI masih dalam tahap kajian. Erick mengatakan BSI nantinya akan berada di bawah pengelolaan BPI Danantara.
“Belum, masih proses [pemisahan BSI dari Bank Mandiri]. Kan nanti dari Danantara akan mengajukan ke kami, baru kita lihat seperti apa prospeknya,” ujar Erick saat ditemui kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (2/6/2025).
Erick menegaskan bahwa peran Kementerian BUMN saat ini adalah sebagai regulator. Oleh karena itu, kajian dan pengajuan resmi akan dilakukan terlebih dahulu oleh Danantara sebelum keputusan diambil. “Iya, nanti ada kajian dari mereka, kan sekarang posisi saya sebagai regulator,” jelas Erick.