Bisnis.com, JAKARTA — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan gencatan senjata dengan Iran kini berada dalam kondisi “kritis” setelah menolak respons Teheran terhadap proposal perdamaian.
Melansir Al Jazeera, Senin (11/5/2026), penolakan cepat Trump terhadap tanggapan Iran memicu kekhawatiran bahwa konflik yang telah berlangsung selama 10 pekan itu akan terus berkepanjangan dan melumpuhkan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Merujuk pada proposal terbaru tersebut, Trump mengatakan bahwa respons Iran "sangat bodoh" dan gencatan senjata saat ini berada dalam posisi paling rapuh.
“Ini adalah kondisi terlemah setelah saya membaca sampah yang mereka kirimkan kepada kami. Saya bahkan tidak selesai membacanya. Ini benar-benar berada di titik kritis," kata Trump.
Beberapa hari setelah AS mengajukan proposal untuk membuka kembali jalur negosiasi, Iran pada Minggu merilis respons yang berfokus pada penghentian perang di seluruh front konflik, termasuk di Lebanon, tempat Israel masih bertempur melawan kelompok Hizbullah yang didukung Iran.
Iran juga menuntut kompensasi atas kerusakan akibat perang, menegaskan kedaulatannya atas Selat Hormuz, meminta AS menghentikan blokade laut, menjamin tidak ada serangan lanjutan, mencabut sanksi, serta menghapus larangan penjualan minyak Iran.
Trump pada Senin (11/5) juga mengklaim Iran bersedia menyerahkan “debu nuklir” kepada AS, merujuk pada stok uranium yang telah diperkaya. Dia menyebut hanya China dan AS yang memiliki kemampuan untuk mengambil material tersebut.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei membela proposal yang diajukan Teheran dan menyebut tuntutan Iran bersifat “masuk akal”.
“Satu-satunya hal yang kami tuntut adalah hak-hak sah Iran,” ujar Baghaei seperti dikutip Al Jazeera, Senin (11/5/2026).
Upaya mencapai kesepakatan antara AS dan Iran sejauh ini masih menemui jalan buntu. Trump mengancam akan kembali melanjutkan perang apabila Iran tidak memenuhi sejumlah konsesi yang oleh Teheran dianggap berlebihan dan bertentangan dengan kedaulatan negara tersebut.
Pejabat Iran juga menyatakan masih belum mempercayai AS, yang sebelumnya disebut pernah melancarkan serangan terhadap Iran di tengah periode negosiasi.
Ketidakpastian konflik terus mengguncang perekonomian global, terutama karena Selat Hormuz yang menjadi jalur utama pengiriman minyak dan gas dari Timur Tengah secara efektif masih tertutup.
AS saat ini juga memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran sebagai upaya membatasi kemampuan negara tersebut untuk mengekspor minyak.
Baghaei menekankan bahwa tuntutan Iran jelas, yaitu mengakhiri perang, mencabut blokade dan pembajakan oleh AS, serta membebaskan aset-aset Iran yang dibekukan secara tidak adil di bank-bank akibat tekanan AS.
“Jalur aman di Selat Hormuz dan penciptaan stabilitas keamanan di kawasan serta Lebanon juga menjadi tuntutan Iran, yang kami anggap sebagai tawaran yang bertanggung jawab dan murah hati," pungkasnya.