KOMPAS.com-Bank sentral Australia mempertahankan suku bunga acuan di level 4,35 persen pada Selasa.
Reserve Bank of Australia (RBA) menilai ekonomi mulai melambat akibat kondisi keuangan yang lebih ketat.
Namun, RBA tetap membuka peluang kenaikan suku bunga lanjutan jika inflasi belum terkendali.
Keputusan tersebut diambil dalam rapat kebijakan Juni.
RBA menyatakan inflasi masih terlalu tinggi dan bank sentral siap melakukan langkah yang dibutuhkan untuk menurunkannya.
Langkah itu mencakup kemungkinan menaikkan suku bunga acuan kembali.
RBA menyatakan akan melakukan apa pun yang diperlukan, "termasuk menaikkan target suku bunga acuan lebih lanjut jika diperlukan."
Pasar sebelumnya sudah memperkirakan RBA akan menahan suku bunga.
Ekspektasi itu muncul setelah sejumlah data domestik melemah, mulai dari inflasi, permintaan konsumen, hingga lapangan kerja.
Kesepakatan damai di Timur Tengah untuk membuka kembali Selat Hormuz juga menurunkan harga minyak.
Kondisi tersebut ikut mengurangi risiko inflasi dari sisi energi. Namun, RBA menilai risiko belum hilang sepenuhnya.
"Penyelesaian konflik di Timur Tengah masih dalam tahap awal, dan ada skenario yang masuk akal di mana inflasi lebih tinggi dan aktivitas lebih rendah daripada yang diperkirakan dalam perkiraan dasar Mei," kata dewan RBA dalam pernyataan.
"Masalah pasokan minyak global akan membutuhkan waktu untuk diselesaikan, mempertahankan tekanan ke atas pada harga energi global dan inflasi,".
Dollar Australia melemah
Keputusan RBA diambil secara bulat dan sebagian besar sesuai perkiraan pasar. Dollar Australia tetap melemah setelah keputusan tersebut.
Mata uang itu turun 0,3 persen menjadi 0,7052 dollar AS, atau sekitar Rp 12.502 per dollar Australia.
Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah Australia tenor tiga tahun naik tipis 2 basis poin menjadi 4,457 persen.
Basis poin merupakan satuan perubahan suku bunga atau imbal hasil. Satu basis poin setara 0,01 poin persentase.
Pasar swap memperkirakan peluang sekitar 30 persen RBA mengubah suku bunga pada Agustus.
Untuk sepanjang tahun ini, pasar hanya memperkirakan pengetatan tambahan sekitar 16 basis poin.
Angka tersebut lebih kecil dari satu kali kenaikan suku bunga standar.
Inflasi masih di atas target
RBA telah menaikkan suku bunga 75 basis poin sejak Februari untuk menahan tekanan inflasi.
Inflasi Australia melambat menjadi 4,2 persen secara tahunan pada April.
Namun, ukuran inflasi inti justru naik menjadi 3,4 persen. Angka itu masih berada di atas target inflasi RBA, yakni 2 persen sampai 3 persen.
Dengan suku bunga kini kembali berada di level tertinggi pascapandemi, ekonomi Australia mulai kehilangan tenaga.
Produk domestik bruto hanya tumbuh 0,3 persen secara kuartalan pada kuartal I.
Perlambatan terjadi karena konsumen mulai menahan belanja. Pasar tenaga kerja juga melemah.
Tingkat pengangguran naik ke 4,5 persen, level tertinggi dalam 4,5 tahun terakhir.
Pasar properti ikut melambat. Kenaikan harga rumah yang sebelumnya mencetak rekor mulai terhenti.
Permintaan pinjaman baru dari investor juga turun tajam. Penurunan itu dipicu usulan perubahan pajak oleh pemerintah.
RBA sebelumnya mengambil jalur lebih lunak dibandingkan banyak bank sentral utama dunia saat inflasi melonjak setelah pandemi.
Bank sentral Australia saat itu lebih memprioritaskan pemulihan pasar tenaga kerja daripada pengetatan cepat.
Suku bunga sempat mencapai 4,35 persen pada awal tahun lalu, lalu dipangkas tiga kali hingga turun ke 3,6 persen.
Namun, strategi tersebut berbalik menjadi tekanan setelah inflasi kembali meningkat.
RBA kemudian menaikkan suku bunga lagi sejak Februari hingga kembali ke level 4,35 persen saat ini.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang