Personel TNI dan warga bersinergi mempercepat proses perbaikan jembatan-jembatan di Aceh agar masyarakat dapat kembali menjalankan aktivitas sehari-hari ... [367] url asal
Jakarta (ANTARA) - Personel TNI dan warga bersinergi mempercepat proses perbaikan jembatan-jembatan di Aceh agar masyarakat dapat kembali menjalankan aktivitas sehari-hari setelah banjir dan longsor yang meluluhlantakkan wilayah tersebut.
“Bersama masyarakat setempat para personel TNI bekerja tanpa henti untuk membuka kembali daerah-daerah yang terisolasi akibat bencana,” tulis laporan dari Tim Media Presiden di Jakarta, Minggu.
Sinergi tersebut dilakukan di Desa Burni Bius, Kecamatan Silih Nara, Sabtu (31/1). Para prajurit TNI bergotong royong dengan warga setempat mengangkut material dan mengecor fondasi jembatan.
Kegiatan serupa di Desa Burlah, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah. Bersama warga setempat, para prajurit TNI mengecor fondasi jembatan gantung.
Demikian juga di Desa Ara Bungong, Kecamatan Peudada, Kabupaten Bireuen, para prajurit bahu-membahu dengan warga setempat membangun jembatan gantung. Mereka sedang menyelesaikan bagian fondasi jembatan itu.
Kebersamaan TNI dan masyarakat juga dalam pembangunan jembatan gantung di Desa Uyem Beriring, Kecamatan Tripe Jaya, Kabupaten Gayo Lues. Di lokasi itu, personel TNI gotong royong dengan masyarakat untuk mengangkut batu-batu fondasi serta menyiapkan lokasi fondasi jembatan.
Di Desa Batu Sumbang dan Pante Kera, Kecamatan Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur, pemasangan lantai jembatan gantung sedang dilakukan prajurit-prajurit TNI.
Selain itu, di Desa Gumpang Lempuh, Kecamatan Putri Betung, Kabupaten Gayo Lues, para personel TNI dan masyarakat setempat berbaris sejajar membentuk barisan panjang. Mereka bahu-membahu mengoper ember berisi pasir untuk pembangunan jembatan gantung.
Di Desa Blangtemung, Kecamatan Dabun Gelang, Kabupaten Gayo Lues, masyarakat setempat ramai-ramai membantu prajurit TNI memindahkan tiang besi untuk jembatan darurat.
Berkat kerja sama erat dengan masyarakat setempat, pembangunan jembatan dapat diselesaikan dengan cepat. Di Desa Karang Rejo, Kecamatan Bukit, Kabupaten Bener Meriah, pembangunan jembatan sudah hampir rampung. Para personel TNI menangani sisa-sisa material agar jembatan dapat dilalui masyarakat dengan aman dan nyaman.
TNI juga membantu perbaikan berbagai infrastruktur lainnya dalam rangka memulihkan kehidupan masyarakat pasca-bencana, seperti di Desa Jambak, Kecamatan Pante, Kabupaten Aceh Barat, alat berat milik Zeni TNI AD diturunkan untuk membangun tanggul dan memindahkan jalan yang hancur diterjang banjir.
Kehadiran TNI di masyarakat untuk mempercepat proses pemulihan ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto, yakni negara harus hadir untuk rakyat dalam menghadapi masa sulit bersama-sama.
Harga bahan pokok di Pasar Terpadu Kabupaten Gayo Lues, Aceh, kembali normal pascaakses bahan bakar minyak (BBM) berangsur pulih setelah banjir bandang dan ... [528] url asal
Gayo Lues, Aceh (ANTARA) - Harga bahan pokok di Pasar Terpadu Kabupaten Gayo Lues, Aceh, kembali normal pascaakses bahan bakar minyak (BBM) berangsur pulih setelah banjir bandang dan tanah longsor melanda daerah itu pada akhir November 2025.
Pedagang sayur, Rika (45), saat ditemui di Pasar Terpadu Gayo Lues, Kecamatan Blangkejeren, Rabu, mengatakan harga kentang sempat naik hingga Rp25,000 dari harga normal Rp15.000 per kilogram.
"Kalau kentang, kami jual dulu Rp15.000, terus naik Rp25.000. Kena dampak kami itu. (Sekarang) sudah turun (ke) Rp15.000," ucapnya ketika berbincang dengan ANTARA.
Rika menuturkan naiknya harga sayur-mayur setelah bencana hidrometeorologi melanda karena BBM sulit diakses sehingga ongkos logistik meningkat. Di samping itu, akses jalan yang menghubungkan Gayo Lues dengan daerah pemasok bahan pokok terputus.
"Dulu enggak ada datang. Jalannya sudah longsor, kekmana? Limpul (lima puluh) pun dibawa orang. (Harga BBM) Rp50.000 pun per liter dibawa orang. Kekmana mau jalan, enggak ada bensinnya," ujar dia.
Rika (45), pedagang sayur di Pasar Terpadu Kabupaten Gayo Lues, Aceh, Rabu (28/1/2026). (ANTARA/Fath Putra Mulya)
Senada, pedagang beras, Seripah (44), mengatakan harga beras sempat menyentuh Rp35.000 per liter usai bencana. Namun, memasuki akhir Januari 2026, harga beras sudah turun ke angka Rp28.000-an.
Menurut Seripah, harga berangsur turun karena pasokan beras dari luar Gayo Lues sudah mulai masuk kembali. Saat bencana terjadi, kata dia, beras yang diandalkan hanya dari berbagai kampung di Gayo Lues yang sebagian besar terdampak bencana.
"Waktu dulu harga beras itu naik. Sekarang enggak lagi," tuturnya ditemui di lokasi yang sama.
Seripah (44) (kanan), pedagang beras di Pasar Terpadu Kabupaten Gayo Lues, Aceh, Rabu (28/1/2026). (ANTARA/Fath Putra Mulya)
Sementara itu, pedagang telur, Ami (50), menyebut harga satu papan telur atau setara 30 butir saat ini berkisar Rp50.000, setelah sebelumnya sempat melonjak ke Rp80.000. "Itu harga normal," ucap dia.
Ami mengatakan melonjaknya harga telur terjadi karena akses jalan menuju Gayo Lues terbilang ekstrem. Menurut dia, waktu tempuh dari luar Gayo Lues saat bencana terjadi bisa mencapai 36 jam.
"Biasanya kan cuma 7-8 jam," katanya sembari menyebut pasokan telur mayoritas dikirim dari Sumatera Utara.
Selain karena akses jalan yang sulit, Ami menyebut BBM juga mempengaruhi tingginya harga telur ketika itu. "Sulit sekali BBM kalau dulu waktu terjadi itu kan otomatis beberapa hari, ya, jalannya kan semuanya amblas," katanya.
Kendati harga bahan pokok kembali normal, daya beli masyarakat di Gayo Lues masih perlu genjotan.
Para pedagang menuturkan bahwa transaksi jual beli di pasar terpadu dalam beberapa hari terakhir belum menggeliat. Kondisi ini disebut terjadi karena mata pencarian masyarakat Gayo Lues, yang sebagian besarnya bertani dan berkebun, belum sepenuhnya pulih.
"Kemarin pertanian orang habis, ya. Ada yang sawahnya habis. Ada yang di sawah itu menanam cabai, habis. Menanam bawang, jagung, segala macamlah. Yang berkebun di hutan, ada yang longsor. Kopinya ada yang longsor," ucap Ami.
"Biasanya orang kalau mau Ramadan, orang banyak belanja, beli perlengkapan. Soalnya jauh dari (Kecamatan) Terangun, dari Pining. Ini kan enggak bisa jalan. Jalannya belum bagus, duitnya enggak bagus. Susah. Biarpun susah, sudah agak lumayan ketimbang hari itu (saat bencana terjadi) enggak ada harapan kayaknya orang," imbuh dia.