Bisnis.com, JAKARTA – Mantan Ratu Thailand, Sirikit, yang meninggal dunia hari ini di usia 93 tahun, menjadi berita utama global atas kemewahannya selama puluhan tahun bersama suaminya dan dipandang oleh banyak orang sebagai simbol pemersatu saat negaranya mengalami krisis berulang kali.
Terkenal pada tahun 1960-an karena keanggunan dan karismanya, mendiang Sirikit secara teratur masuk dalam daftar wanita berbusana terbaik di dunia dan muncul di sampul majalah dari Time hingga Paris Match, yang menyebutnya sebagai "Ratu tercantik di dunia".
Di masa mudanya, wajah cantiknya juga pernah bersanding dengan presiden AS dan bintang-bintang Hollywood, dan beberapa media Barat membandingkannya dengan mantan ibu negara AS Jackie Kennedy.
Lahir di Bangkok pada 12 Agustus 1932, ketika negara tersebut beralih dari monarki absolut menjadi monarki konstitusional, Sirikit Kitiyakara adalah putri seorang diplomat yang juga merupakan anggota kerajaan kecil.
Dia bertemu Bhumibol Adulyadej, sepupu jauhnya, di Paris saat ayahnya menjabat sebagai duta besar Thailand untuk Prancis.
Mereka kemudian menikah pada tahun 1950, tepat sebelum penobatan Bhumibol, setelah masa pacaran yang dimulai saat ia pulih dari kecelakaan mobil di Swiss yang membuatnya kehilangan penglihatan sebelah matanya.
Sirikit berusia 17 tahun ketika mereka menikah dengan Bhumibol, memulai sebuah kemitraan kerajaan yang seolah menyalin dari kisah buku dongeng dan berlangsung selama hampir tujuh dekade.
Mereka memiliki empat anak, termasuk putra tunggal mereka, Raja Vajiralongkorn, yang naik takhta pada tahun 2016.
Sirikit mendampingi Bhumibol sepanjang masa pemerintahannya, dan hari ulang tahunnya ditetapkan sebagai Hari Ibu Nasional Thailand.
Dia dan Bhumibol sering bepergian ke seluruh negeri, sering kali mendengarkan langsung keluh kesah warga pedesaan Thailand, sehingga ia dijuluki "Ibu Bangsa".
Sirikit membangun citra global sebagai ikon gaya dan filantropis, membantu memanusiakan monarki saat Thailand menjalani transformasi selama beberapa dekade, termasuk 10 kudeta militer.
Namun, ketidakpastian menyelimuti suksesi kerajaan, tanpa pengumuman publik tentang pewaris raja saat ini, di antara ketujuh anaknya, empat telah resmi ditolak.
Pavin Chachavalpongpun, mantan diplomat dan akademisi Thailand juga menilai bahwa kepergian Ratu Sirikit juga menandai "berakhirnya sebuah era".
"Dia memiliki ikatan yang mendalam dengan rakyat, dan kepergiannya akan membangkitkan duka cita nasional yang mendalam," ujarnya.
Sirikit menghilang dari pandangan publik selama dekade terakhir hidupnya, ia berjuang melawan penyakit dan dilindungi oleh undang-undang pencemaran nama baik kerajaan Thailand yang ketat yang membuat diskusi tentang monarki penuh dengan risiko.
Sirikit tidak pernah berbicara secara terbuka tentang politik. Namun pada tahun 2008, dia menghadiri pemakaman seorang pengunjuk rasa Kaus Kuning, sebuah gerakan yang menentang mantan perdana menteri Thaksin Shinawatra dalam politik Thailand yang terpolarisasi dan berkode warna.
“Kehadirannya yang berkelanjutan melambangkan hubungan nyata antara pemerintahan saat ini dan era masa lalu yang sangat dihargai,” imbuh Pavin.
Dilansir Reuter, untuk mengenang kepergiannya, Pemerintah Thailand menetapkan masa berkabung selama satu tahun bagi anggota keluarga dan staf kerajaan.
Seluruh kantor pemerintah diminta mengibarkan bendera setengah tiang selama satu bulan, sementara tempat hiburan diminta menangguhkan kegiatan selama periode yang sama.