JAKARTA, KOMPAS.com - Menjelang penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS), investor tidak hanya mencermati valuasi saham, tetapi juga sumber utama pendapatan perusahaan.
Lalu, risiko ketergantungan pada sosok Raffi Ahmad dan Nagita Slavina selaku pemegang saham sekaligus publik figur alias selebritas, hingga rencana penggunaan dana hasil IPO untuk mendukung pertumbuhan bisnis perusahaan.
Investment Specialist KISI Sekuritas, Ahmad Faris Mu’tashim, menilai kekuatan utama bisnis RANS masih bertumpu pada intellectual property (IP) atau nilai komersial yang melekat pada sosok Raffi Ahmad dan Nagita Slavina.
Menurutnya, kedua figur tersebut menjadi kontributor utama yang mendorong berbagai lini usaha RANS, meskipun perseroan juga telah memiliki sejumlah merek bisnis yang cukup terdiversifikasi di berbagai sektor.
“Mayoritas bisnis RANS ditopang oleh produk IP dari Raffi Ahmad dan Nagita Slavina sebagai kontributor utama, selain berbagai brand bisnis yang cukup terdiversifikasi di lintas sektor,” ujar Faris saat dihubungi Kompas.com, Selasa (30/6/2026).
Ketergantungan terhadap figur utama merupakan salah satu risiko yang perlu dicermati investor.
Pasalnya, apabila muncul isu negatif yang melibatkan talent yang menjadi penopang bisnis, kondisi tersebut berpotensi mempengaruhi citra perusahaan dan menimbulkan risiko reputasi bagi emiten.
Karena itu, Faris menilai RANS perlu mulai memperkuat strategi bisnis dengan mengembangkan atau mengorbitkan talent-talent baru.
Langkah itu dinilai penting agar keberlangsungan bisnis perusahaan tidak terlalu bergantung pada Raffi Ahmad dan Nagita Slavina sebagai motor utama pertumbuhan. “Jika ada isu jelek mengenai talent yang menjadi penopang tentu akan membawa risiko reputasi bagi emiten bersangkutan, sehingga perlu ada arah bisnis untuk mengorbitkan talent lain agar tidak terlalu bergantung pada talent utama,” paparnya.
Dana IPO RANS mayoritas untuk konser
Penggunaan dana hasil penawaran umum perdana saham menjadi salah satu faktor yang menentukan potensi pertumbuhan RANS ke depan.
Faris mencatat, alokasi dana menunjukkan fokus perseroan memperkuat kegiatan operasional, melakukan ekspansi bisnis, serta memperluas kepemilikan pada entitas afiliasi.
Terdapat tiga pos terbesar penggunaan dana IPO RANS yang akan dialokasikan untuk belanja operasional (operational expenditure/OPEX), belanja modal (capital expenditure/CAPEX), dan akuisisi.
Sebanyak 37,61 persen dana IPO digunakan sebagai OPEX untuk menyelenggarakan konser di berbagai kota di Indonesia.
Selanjutnya, 18,64 persen dialokasikan sebagai CAPEX untuk ekspansi wahana edukatif Cipungland.
Lalu, 19,80 persen untuk akuisisi kepemilikan saham PT Rans Kosmetika Indonesia yang tergolong sebagai transaksi afiliasi.
Mengingat bisnis meetings, incentives, conferences, and exhibitions (MICE) yang memiliki margin yang tergolong moderat atau sekitar 10-15 persen, manajemen RANS perlu meningkatkan nilai (value) bisnis melalui peningkatan volume usaha agar pertumbuhan kinerja dapat terus terjaga.
Langkah tersebut diperlukan agar RANS mampu membukukan pertumbuhan pendapatan dan laba yang sejalan dengan ekspektasi investor, terutama perseroan masuk ke pasar modal dengan valuasi yang tergolong premium.
“Mengingat bisnis MICE merupakan bisnis dengan margin moderat di 10-15 persen. Diharapkan manajemen dapat meningkatkan value dari bisnis dari segi peningkatan volume, dengan risiko downside dari valuasi premium di tengah kondisi pasar yang kurang menentu,” sebut dia.
Sinar Mas Land Group CEO Sinar Mas Land, Michael Widjaja, Founder Rans Entertainment Raffi Ahmad dan Founder GK Hebat, Kaesang Pangarep saat melakukan groundbreaking proyek pembangunan pusat kuliner terbesar di BSD City, Rabu (31/5/2023).RANS sendiri bersiap melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui IPO.
Berdasarkan prospektus awal, perseroan menawarkan sebanyak-banyaknya 2,525 miliar saham baru atau setara 20,02 persen dari modal ditempatkan dan disetor setelah IPO, dengan kisaran harga penawaran Rp 135-Rp 170 per saham.
Melalui aksi korporasi tersebut, RANS berpotensi menghimpun dana maksimal Rp 429,25 miliar, apabila seluruh saham terserap pada harga tertinggi.
Masa penawaran awal (bookbuilding) dijadwalkan berlangsung pada 23-25 Juni 2026, sementara tanggal efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diperkirakan pada 30 Juni 2026.
Adapun masa penawaran umum berlangsung pada 2-8 Juli 2026, distribusi saham secara elektronik pada 9 Juli 2026, dan pencatatan saham di BEI dijadwalkan pada 10 Juli 2026.
Valuasinya di atas rata-rata industri
Saham perusahaan milik artis Raffi Ahmad dan Nagita Slavina itu diperdagangkan dengan price to earnings (PE) ratio sekitar 27-35 kali, jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata PE perusahaan sejenis yang berada di kisaran 12-13 kali.
Faris mencatat valuasi saham RANS pada saat IPO tergolong premium.
Kondisi ini merupakan karakteristik yang umum dijumpai pada saham-saham yang baru melantai di bursa karena biasanya diperdagangkan dengan valuasi lebih tinggi dibandingkan perusahaan yang telah lebih dulu tercatat.
Dari perhitungannya, RANS diperdagangkan dengan PE ratio sekitar 27-35 kali.
Sementara rata-rata PE perusahaan sejenis di industrinya hanya berada pada kisaran 12-13 kali. Dengan demikian, valuasi RANS berada jauh di atas rata-rata industrinya.
“Secara valuasi by nature saham IPO akan selalu premium, melihat RANS yang diperdagangkan dengan PE 27-35 kali dibandingkan rata-rata PE industri di 12-13 kali,” ucapnya.
PE ratio dipahami sebagai rasio valuasi yang digunakan untuk mengukur seberapa mahal atau murah harga suatu saham dibandingkan dengan laba bersih yang dihasilkan perusahaan.
Rasio ini menunjukkan berapa kali investor bersedia membayar untuk setiap Rp 1 laba bersih perusahaan.
KOMPAS.com/Farahdilla Puspa Suasana laga dalam acara Lagi-lagi Tennis yang diselenggarakan RANS Entertainment di Tennis Indoor Senayan, Jumat (23/6/2023).Sebagai contoh, jika harga saham suatu perusahaan sebesar Rp 170 dan laba per saham (EPS) mencapai Rp 10, maka PE ratio perusahaan tersebut adalah 17 kali.
Artinya, investor bersedia membayar Rp 17 untuk setiap Rp 1 laba yang dihasilkan perusahaan.
Untuk diketahui, valuasi premium dapat dibenarkan jika perusahaan mampu membuktikan pertumbuhan pendapatan dan laba sesuai harapan pasar.
Sebaliknya, bila kinerja perusahaan tidak memenuhi ekspektasi, harga saham berpotensi mengalami koreksi karena investor menilai valuasi tidak lagi sebanding dengan fundamental perusahaan.
Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang