Bisnis.com, JAKARTA — Microsoft menawarkan program pensiun dini atau buyout kepada ribuan karyawannya di Amerika Serikat. Program ini menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam mengelola biaya di tengah percepatan investasi pada teknologi kecerdasan buatan.
Inisiatif tersebut menyasar sekitar 7% dari total tenaga kerja Microsoft di AS yang berjumlah 125.000 orang per Juni 2025. Dengan estimasi tersebut, sekitar 8.750 karyawan berpeluang mengambil tawaran kompensasi untuk meninggalkan perusahaan secara sukarela.
Melansir dari TechCrunch, Jumat (24/4/2026), memo internal perusahaan mengumumkan kriteria karyawan yang berhak mengikuti program ini adalah mereka yang menduduki posisi direktur senior ke bawah. Selain itu, syarat utamanya adalah gabungan antara usia dan masa kerja karyawan harus mencapai angka 70 atau lebih.
Executive Vice President sekaligus Chief People Officer Microsoft, Amy Coleman, mengatakan skema ini bertujuan memberikan fleksibilitas bagi karyawan senior untuk menentukan langkah karier berikutnya. Perusahaan berkomitmen memberikan dukungan finansial yang memadai dalam proses tersebut.
“Harapan kami adalah program ini memberikan pilihan bagi mereka yang memenuhi syarat untuk mengambil langkah berikutnya sesuai keinginan mereka sendiri, dengan dukungan perusahaan yang besar,” kata Coleman.
Raksasa teknologi ini dilaporkan akan membagikan detail teknis lebih lanjut kepada karyawan dan manajer yang memenuhi syarat pada 7 Mei mendatang. Program ini menandai pertama kalinya Microsoft menggunakan skema buyout berskala besar dalam 51 tahun sejarah perusahaan.
Secara operasional, efisiensi ini berkaitan erat dengan agresivitas Microsoft dalam membangun infrastruktur AI. Pada kuartal II/2026, belanja modal perusahaan tercatat mencapai Rp648 triliun, di mana sebagian besar dialokasikan untuk pembangunan pusat data secara global.
Microsoft tercatat telah mengumumkan rencana investasi infrastruktur awan dan AI senilai Rp311 triliun di Australia. Selain itu, perusahaan juga berkomitmen menggelontorkan dana sebesar Rp172 triliun dalam kurun empat tahun untuk pengembangan teknologi serupa di Jepang.
Kebutuhan dana yang besar untuk mengamankan posisi di pasar AI memaksa Microsoft terus menyesuaikan struktur organisasinya. Sebelumnya, pada Mei dan Juli 2025, perusahaan telah melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 15.000 karyawan untuk merampingkan manajemen.
Selain pengurangan jumlah staf, Microsoft melakukan perubahan pada struktur kompensasi karyawan. Manajer kini tidak lagi diwajibkan mengaitkan penghargaan saham secara langsung dengan bonus tunai untuk memberikan fleksibilitas dalam menghargai kinerja individu.
Perusahaan juga menyederhanakan proses tinjauan kinerja dengan mengurangi pilihan opsi pembayaran bagi manajer. Skema ini diambil guna menjaga margin keuntungan di tengah tekanan biaya operasional yang meningkat di seluruh sektor perangkat lunak.
Tren efisiensi ini juga terlihat pada perusahaan teknologi besar lainnya seperti Oracle dan Meta Platforms yang telah melakukan pengurangan staf secara signifikan. Langkah ini diambil untuk mengimbangi lonjakan belanja modal yang diperlukan agar tetap kompetitif dalam perlombaan AI.
Sebagai informasi, Microsoft mencatatkan total 228.000 karyawan secara global hingga periode Juni 2025. Hingga saat ini, manajemen terus melakukan penyesuaian tenaga kerja guna merespons dinamika industri yang dipicu oleh disrupsi alat pemrograman dan layanan berbasis AI.