Bisnis.com, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat piutang pembiayaan di industri multifinance per Oktober 2025 ini mencapai Rp505,30 triliun.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK Agusman mengatakan nilai itu tumbuh 0,68%.
“Didukung oleh pembiayaan kerja yang tumbuh sebesar 9,28% year on year [YoY],” katanya dalam konferensi pers daring RDKB OJK November 2025, Kamis (11/12/2025).
Menilik perbandingannya secara bulanan, piutang pembiayaan turun tipis 0,36% (month to month/MtM) dari Rp507,14 triliun.
Lebih jauh, per Oktober 2025 pembiayaan bermasalah atau non performing financing (NPF) gross perusahaan pembiayaan tercatat sebesar 2,47%, sedangkan NPF net sebesar 0,83%. Adapun, gearing ratio tercatat sebesar 2,15 kali.
Berdasarkan catatan Bisnis, Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) berpendapat bahwa asosiasi hingga pemain industri memasang sikap hati-hati untuk 2026. Ketua Umum APPI Suwandi Wiratno menyatakan bahwa proyeksi tahun depan belum bisa dipastikan sebelum melihat perkembangan kinerja hingga akhir 2025.
Dia berujar bila melihat proyeksi Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) hingga asosiasi alat berat, relatif pertumbuhan tahun depan sama dengan yang dijual pada 2025 ini.
“Artinya flat kan, nah, kalau mereka [penjualan kendaraan] flat kita [kredit multifinance] bagaimana mau tumbuh? Belum lagi kalau kita sangat hati-hati, yang saya khawatirkan kita jadi agak berat untuk bertumbuh. Tahun ini aja mungkin kita akan tutup di kisaran 1%, kemarin per September 1,07% kan,” katanya seusai acara apresiasi APPI di Jakarta, Rabu (3/12/2025).
Sebab demikian, Suwandi menegaskan bagi asosiasinya yang penting saat ini bukan mengenai pertumbuhan, tetapi perusahaan bisa sehat, kualitasnya bagus, dan profitnya juga bagus.
Oleh karena itu, Direktur Utama Chandra Sakti Utama Leasing (CSUL) ini menegaskan APPI akan sedikit lambat menyampaikan proyeksi industri pembiayaan 2026. Pasalnya, masih ingin melihat kondisi awal tahun 2026 dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
“Kalau [ekonomi Indonesia] enggak tumbuh [lebih tinggi] berarti kita tumbuhnya mungkin ya kisaran 1%—3%, tetapi apakah itu sebagai official [statement] belum berani saya, lebih baik jangan disampaikan dulu,” jelas Suwandi.
Adapun, lanjutnya, tantangan bagi industri pembiayaan di tahun depan adalah harus bisa meyakinkan semua pihak untuk benar-benar memerangi tindak jahat yang dilakukan oknum-oknum komunitas atau LSM yang mengganggu industri pembiayaan. (Putri Astrian Surahman)