Bisnis.com, JAKARTA – PT Arkora Hydro Tbk. (ARKO) membukukan kinerja keuangan yang solid sepanjang Januari-September 2025. Emiten pembangkit listrik tenaga air Grup Astra ini mencatat lonjakan pendapatan dan laba bersih masing-masing dua digit.
Berdasarkan laporan keuangan, pendapatan ARKO hingga kuartal III/2025 mencapai Rp247,43 miliar. Angka ini melambung 61,18% dibanding pendapatan periode yang sama tahun sebelumnya Rp153,51 miliar.
Pertumbuhan ini ditopang oleh segmen bisnis utama perseroan yang kompak menguat. Pendapatan dari jasa konstruksi melambung 78,59% dari Rp122,97 miliar pada kuartal III/2025 menjadi Rp201,75 miliar pada periode tahun ini.
Kemudian, segmen penjualan listrik berkontribusi sebesar Rp45,68 miliar. Angka ini juga meningkat 31,55% dibanding Rp34,72 miliar pada periode sebelumnya.
Terakhir, segmen jasa lainnya untuk periode 9 bulan 2025 ini tidak mencatatkan pendapatan, berbeda dengan 9 bulan 2024 dengan torehan Rp5,81 miliar.
Dengan demikian, meskipun beban pokok pendapatan perseroan juga meningkat 84,24% YoY menjadi Rp158,13 miliar, pertumbuhan pendapatan yang signifikan mendongkrak laba kotor perusahaan dari sebelumnya Rp67,73 miliar menjadi Rp89,30 miliar pada periode Januari-September 2025. Laba kotor ini naik 31,85% YoY.
Dari sisi bottom line, laba periode berjalan yang dibukukan Arkora Hydro selama 9 bulan 2025 mencapai Rp47,70 miliar, atau meningkat 17,69% YoY dari Rp40,53 miliar. Dari jumlah tersebut, laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk atau laba bersih sebesar Rp47,67 miliar, atau naik 17,57% secara tahunan.
Arkora Hydro saat ini memiliki tiga proyek pembangkit listrik tenaga air yang sudah beroperasi. Pertama, proyek Cikopo di Garut, Jawa Barat yang telah beroperasi sepenuhnya pada Maret 2017 dengan kapasitas produksi sebesar 7,4 megawatt (MW) dengan perkiraan produksi energi sekitar 52.000 MWh per tahun.
Kedua, proyek Tomasa di Poso, Sulawesi Tengah yang telah beroperasi secara komersial pada Oktober 2019. Kapasitas produksi pembangkit tersebut sebesar 10 MW dengan perkiraan produksi energi sekitar 63.072 MWh per tahun.
Ketiga, proyek Yaentu di Poso, Sulawesi Tengah yang telah beroperasi secara komersial pada Oktober 2024. Kapasitas produksi pembangkit tersebut sebesar 10 MW dengan perkiraan produksi energi sekitar 63.011 MWh per tahun.
Selain itu, ada dua proyek yang sedang dibangun, yaitu proyek Kukusan II di Tanggamus Lampung yang dibangun sejak 2022 dan akan beroperasi secara komersial pada 2025 ini. Kapasitas produksi pembangkit listrik tersebut sebesar 5,4 MW dengan perkiraan output energi tahunan sebesar 35.054 MWh.
Kemudian, ada proyek Tomoni di Luwu Timur, Sulawesi Selatan yang mulai dibangun sejak 2024 dan diperkirakan akan beroperasi secara komersial pada 2026. Kapasitas terpasang sebesar 10 MW, dengan perkiraan output energi tahunan mencapai 56.940 MWh.
Adapun, kinerja fundmental perseroan yang solid sepanjang tahun turut membuat harga saham ARKO terapresiasi pasar. Pada perdagangan intraday hari ini, Jumat (31/10/2025) pukul 14.53 WIB, ARKO menguat 3,54% ke Rp1.610. Level harga ini mencerminkan pertumbuhan 75% secara year to date (YtD).