Bisnis.com, JAKARTA — China meluncurkan roket pembawa Smart Dragon-3 (SD-3) untuk memperkuat infrastruktur internet berbasis satelit. Misi ini sekaligus mempercepat pengembangan jaringan komunikasi China di orbit bumi rendah, yang selama ini didominasi Starlink secara global.
Melansir dari China Aerospace Science and Technology Corporation (CASC), operasional roket komersial SD-3 tersebut dilakukan di lepas pantai Yangjiang, Provinsi Guangdong, China selatan. Misi tersebut dikelola sepenuhnya oleh Pusat Peluncuran Satelit Taiyuan.
Pihak CASC mengatakan bahwa pengembangan SD-3 difokuskan untuk menjawab tantangan tingginya permintaan peluncuran komersial. Roket ini menggunakan konfigurasi propelan padat empat tahap yang dirancang untuk efisiensi biaya dan kecepatan operasional.
“Peluncuran ini merupakan bagian dari upaya validasi transmisi data orbital berkecepatan tinggi dan hubungan antar-satelit,” kata pihak CASC dalam keterangan resminya dilansir dari Guangdong News, Senin (20/4/2026).
Secara teknis, Smart Dragon-3 dikembangkan oleh First Academy dari CASC. Wahana ini memiliki kemampuan untuk mengirimkan muatan hingga 1.500 kilogram ke Orbit Sinkron Matahari (SSO) pada ketinggian 500 kilometer.
Penggunaan platform laut memberikan fleksibilitas operasional yang signifikan bagi program luar angkasa China. Kapabilitas ini memungkinkan optimalisasi azimuth peluncuran serta meminimalkan risiko keamanan bagi wilayah berpenduduk di daratan.
Inisiatif tersebut merupakan bagian dari proyek konstelasi "Thousand Sails" (G60 Starlink) dan "Guowang". Kedua proyek ini diproyeksikan menjadi tulang punggung jaringan internet satelit berdaulat milik Negeri Tirai Bambu tersebut.
Hingga Maret 2026, China tercatat telah berhasil mengerahkan sekitar 160 satelit operasional di dalam jaringan internet utamanya. Peluncuran terbaru ini menjadi penerbangan ke-11 bagi armada roket Smart Dragon-3.
Keberhasilan uji coba teknologi ini sangat krusial bagi China untuk memenuhi target International Telecommunication Union (ITU). Standar global tersebut mewajibkan pengerahan 10% dari kapasitas konstelasi yang terdaftar pada akhir 2032.
Sektor ruang angkasa negara tersebut kini tengah mengejar jadwal peluncuran yang sangat agresif sepanjang tahun 2026. Hal ini dilakukan demi mencapai skala ekonomi dalam arsitektur internet berbasis ruang angkasa.
Selain entitas milik negara, sejumlah perusahaan komersial seperti LandSpace dan Deep Blue Aerospace juga terlibat aktif. Sektor-sektor ini menargetkan lebih dari 100 misi orbital sepanjang tahun berjalan.
Upaya masif ini menempatkan China dalam posisi kompetitif untuk mengamankan slot orbit dan frekuensi transmisi data secara global. Pembangunan infrastruktur ini diharapkan memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi ekspor teknologi komunikasi di masa depan.
Secara keseluruhan, peluncuran SD-3 mencerminkan integrasi antara teknologi militer-sipil dalam memperkuat posisi China di ekonomi ruang angkasa global. Fokus utama tetap tertuju pada kemandirian teknologi komunikasi di tengah persaingan geopolitik yang semakin dinamis.