Bisnis.com, JAKARTA—PT Arsy Buana Travelindo Tbk. (HAJJ), emiten penyedia jasa dan fasilitas perjalanan religi, mencatatkan pertumbuhan pendapatan per September 2025 seiring dengan pertumbuhan kontribusi bisnis hotel.
Perseroan membukukan total pendapatan sebesar Rp727,25 miliar, tumbuh 7,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp677,89 miliar. Pertumbuhan ini mencerminkan fokus strategis HAJJ dalam memperkuat dominasi layanan akomodasi dan hotel sebagai pilar utama bisnis.
Kontribusi segmen hotel mendominasi pendapatan sebesar Rp647,55 miliar atau 89,04% dari total pendapatan, meningkat dari Rp601,31 miliar pada 9 bulan 2024.
Sementara pendapatan dari paket layanan (land arrangement) yang mencakup visa, handling, bus, mutowif, dan pesawat naik menjadi Rp79,70 miliar dari Rp76,58 miliar di periode yang sama tahun lalu.
Direktur Utama HAJJ Saipul Bahri menyampaikan kinerja per kuartal III/2025 menegaskan konsistensi strategi pertumbuhan berkelanjutan di tengah meningkatnya persaingan industri perjalanan religi.
“Fokus pada segmen hotel dan akomodasi telah memperkuat posisi kami di pasar. Permintaan perjalanan religi tetap kuat, dan strategi kami di Arab Saudi terbukti mampu memberikan dampak langsung terhadap profitabilitas,” ujar Saipul dalam siaran pers, Selasa (4/11/2025).
Dari sisi profitabilitas, laba kotor meningkat signifikan sebesar 101% menjadi Rp91,23 miliar, dibandingkan Rp45,44 miliar pada 9 bulan 2024. Margin laba kotor juga melonjak dari 6,70% menjadi 12,54%, mencerminkan efisiensi pembelian kamar dan manajemen biaya yang lebih baik.
Pada level operasional, laba sebelum pajak (EBT) meningkat 94% menjadi Rp46,47 miliar, dibandingkan Rp23,99 miliar di periode yang sama tahun lalu.
Laba bersih naik lebih dari dua kali lipat menjadi Rp35,50 miliar, tumbuh 113% dari Rp16,70 miliar di 9bulan 2024. Selain itu, EBITDA melonjak 145% menjadi Rp68,21 miliar dengan margin 9,38%, memperlihatkan peningkatan efisiensi dan kinerja operasional yang sangat kuat.
Menanggapi kebijakan pemerintah yang baru-baru ini melegalkan pelaksanaan Umrah Mandiri melalui Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2025, manajemen HAJJ menegaskan bahwa kebijakan tersebut tidak berdampak signifikan terhadap kinerja maupun prospek usaha Perseroan.
Hal ini karena hotel tetap menjadi kebutuhan utama bagi seluruh jamaah, baik yang berangkat melalui biro perjalanan maupun secara mandiri, sehingga permintaan hotel tetap stabil. Selain itu, pasar HAJJ tidak terbatas pada Indonesia saja, melainkan juga melayani jamaah dari berbagai negara Muslim di Asia Tenggara, Asia Tengah dan Timur Tengah.
“Diversifikasi pasar ini menjadikan kinerja perseroan tetap tangguh di tengah perubahan regulasi domestik,” jelas Saipul Bahri.
Direktur Keuangan HAJJ Agung Prabowo menambahkan performa perseroan mencerminkan kualitas pertumbuhan yang sehat. Manajemen memperlihatkan efektivitas strategi dalam menumbuhkan pendapatan tanpa mengorbankan efisiensi.
“Struktur biaya yang disiplin dan alokasi sumber daya yang tepat menjadi landasan penting bagi pertumbuhan jangka panjang,” jelas Agung.
Dengan struktur keuangan yang semakin solid dan tren permintaan yang tetap kuat, HAJJ optimistis dapat mempertahankan momentum pertumbuhan hingga akhir 2025 dan memperkuat posisi sebagai penyedia layanan perjalanan religi yang terintegrasi.