Bisnis.com, JAKARTA— Produsen memori asal China, Changxin Memory Technologies (CXMT), meluncurkan modul RAM server 32GB DDR4 3200 ECC dengan harga jauh lebih murah dibanding harga pasar global. Produk tersebut dijual di kisaran US$138–US$140, sedangkan produk sejenis dari produsen internasional umumnya berada di rentang US$300–US$400.
Melansir laman Technetbook pada Senin (9/2/2026) perbedaan harga ini memicu respons di pasar semikonduktor. Sejumlah saham produsen memori tercatat melemah setelah kabar tersebut beredar.
Winbond Electronics turun 9,05% dan Nanya Technology terkoreksi 5,61%. Investor juga melepas saham perusahaan memori lain seperti ADATA dan Apacer Technology karena kekhawatiran meningkatnya persaingan harga.
Langkah CXMT terjadi di tengah kondisi pasar memori global yang sedang mengalami kenaikan harga akibat lonjakan permintaan dari komputasi berbasis kecerdasan buatan (AI).
Di saat produsen besar seperti Samsung Electronics, SK Hynix, dan Micron memprioritaskan produksi memori kelas atas untuk pusat data AI, pasokan DRAM untuk kebutuhan umum seperti PC dan perangkat konsumen menjadi terbatas.
Kondisi tersebut membuat sejumlah produsen perangkat elektronik mulai mencari alternatif pemasok. Laporan Nikkei Asia menyebut HP dan Dell, produsen PC terbesar kedua dan ketiga di dunia, sedang menguji kualitas produk memori dari CXMT. Keduanya disebut mempertimbangkan penggunaan memori China untuk produk yang dijual di luar Amerika Serikat apabila hasil pengujian memenuhi standar.
Produsen PC asal Taiwan, Acer dan Asus, juga dilaporkan terbuka terhadap penggunaan DRAM China. Acer menyatakan pasokan memori diperkirakan akan membaik ketika fasilitas produksi baru dari pemasok China mulai beroperasi. Asus disebut telah meminta mitra produksinya di China untuk mengamankan pasokan memori lokal.
Kelangkaan pasokan memori bahkan berdampak pada industri lain. Nvidia dilaporkan menunda peluncuran GPU gaming terbarunya karena keterbatasan pasokan memori.
Selama ini, CXMT dan Yangtze Memory Technologies (YMTC) lebih banyak memasok pasar domestik China, termasuk Lenovo serta produsen ponsel seperti Huawei, Xiaomi, dan OPPO. Namun, perubahan dinamika pasokan global membuat kedua perusahaan mulai dilirik dalam rantai pasok internasional.
CXMT saat ini tengah menyiapkan ekspansi kapasitas produksi di Shanghai. Fasilitas baru yang dijadwalkan beroperasi pada 2027 disebut memiliki kapasitas dua hingga tiga kali lebih besar dibanding fasilitas di Hefei.
Sementara itu, YMTC menargetkan proyek Wuhan Phase III mulai produksi massal pada paruh kedua 2026, dengan sekitar 50% kapasitasnya dialokasikan untuk DRAM.
Analis pasar memperkirakan CXMT berpotensi menguasai sekitar 8% pangsa pasar DRAM global tahun ini, sementara YMTC diproyeksikan meraih sekitar 15% pasar NAND.
Ekspansi besar-besaran ini diperkirakan akan mengubah peta persaingan memori global pada periode 2026–2027, ketika tambahan kapasitas dari China mulai masuk ke pasar dan menjadi alternatif pasokan di tengah permintaan memori yang terus meningkat.