#30 tag 24jam
Harga Gambir Stagnan Rp20.000 Per Kilogram, Petani Sumbar Menjerit
Harga gambir di Sumbar stagnan di Rp20.000/kg, membuat petani tertekan. Biaya produksi tinggi dan pendapatan rendah memicu alih fungsi lahan. Pemerintah rencanakan pabrik hilirisasi untuk meningkatkan [756] url asal
#harga-gambir #petani-gambir #gambir-sumbar #harga-komoditas #petani-sumbar #pabrik-hilirisasi #produksi-gambir #ekonomi-petani #lahan-gambir #harga-sawit #petani-sawit #harga-pertanian #komoditas-anda
(Bisnis.Com - Terbaru) 13/05/26 10:13
v/219865/
Bisnis.com, PADANG - Harga komoditas gambir yang digadang-gadangkan menjadi komoditas andalan di Provinsi Sumatra Barat tak kunjung membaik dan bertahan di harga rata-rata Rp20.000 per kilogram di tingkat petani.
Frengki, petani gambir di Pesisir Selatan, mengatakan harga gambir Rp20.000 per kilogram ini bukanlah harga kurang baik bagi petani dan buruh tani gambir. Karena, dengan kondisi harga-harga berbagai kebutuhan untuk memproduksi gambir saat ini mahal, nilai Rp20.000 hanyalah seperti tutup lobang gali lobang saja.
“Karena tak murah biaya untuk menjadi petani gambir ini, pas dijual dalam kondisi 18% kandungan airnya, jatuh sejatuhnya,” kata dia, Selasa (12/5/2026).
Dia menyatakan melihat kondisi harga gambir saat ini, dan dibandingkan kondisi perekonomian yang serba mahal di era sekarang, terasa terjadi ketimpangan perekonomian. Biaya besar, tapi pendapatan sedikit, dan kondisi malah terjadi penumpukan hutang ke bank dan pihak lainnya.
“Saya dapat informasi, pemerintah bakal melakukan cara untuk mengangkat perekonomian petani gambir ini. Bangun pabrik, dan saya dan petani lainnya menantikan itu terwujud, jika benar untuk membangun petani gambir,” sebutnya.
Dia bilang dalam kondisi harga gambir saat ini, mulai terbesit niat petani untuk alih fungsi lahan, serta ingin menjual lahan dan beralih menjadi petani sawit. Karena menjadi petani sawit dianggap lebih bagus dari bertani gambir, sebab harga sawit rakyat relatif terjaga, dan proses untuk mendapatkan hasil panen lebih mudah sawit ketimbang gambir.
“Sudah banyak sekarang lahan gambir dijual, tapi kebanyakan belum laku. Bahkan ada yang membiarkan kebun gambirnya menjadi hutan lagi, dipenuhi semak belukar. Karena dalam hitung-hitungan petani, rugi saja jika tetap ingin memproduksi gambir,” jelasnya.
Riko petani gambir juga memiliki rasa pesimis melihat kondisi perkebunan gambir saat ini. Baginya, dengan masih adanya masyarakat yang mengolah hasil gambirnya, bukan lagi soal mencari kaya, melainkan menjadi pelarian pekerjaan saja, supaya tidak menjadi pengangguran.
“Bertaninya lelah, sudah terjual pun hasil panennya, masih lelah juga. Kenapa tidak, gambir terjual itu tidak bisa disisihkan untuk tabungan, tapi lebih kepada membayar pinjaman atau utang. Karena selama keperluan rumah tangga dan keperluan untuk dikebun itu, kami petani rata-rata pinjam modal dulu, nanti pas panen baru bayar,” ungkapnya.
Dia menyebutkan kondisi seperti itu atau dikenal dengan tutup lobang kali lobang tersebut, akan dirasakan petani ketika harga gambir terpuruk, seperti yang terjadi beberapa terakhir tahun ini, rata-rata Rp20.000 per kilogram di tingkat petani dalam kondisi 18% kandungan airnya.
Artinya, harga Rp20.000 per kilogram bukanlah harga yang ideal bagi petani, jangankan untuk kaya, menjadi petani sejahtera atau sederhana saja sangatlah rumit diwujudkan.
“Kalau ingin mengangkat ekonomi petani ini, terendahnya itu harusnya di harga Rp35.000 per kilogram dengan kandungan air 18% saat dijual ke pengepul,” ujarnya.
Riko berharap rencana pemerintah untuk mengangkat ekonomi petani gambir bisa segera terwujud, karena kondisi harga gambir yang tidak kurang baik ini, kondisi petani gambir tengah diujung pesimis, dan bahkan terancam perkebunan gambir perlahan-lahan bisa hilang, karena terjadi alih fungsi lahan. “Semoga tidak janji atau rencana saja, kami menanti janji untuk ditepati pemerintah,” tutupnya.
Sebelumnya, Kepala Dinas Perkebunan Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumbar Afniwirman mengatakan berdasarkan data tahun lalu produksi gambir nyaris 27 ribu ton per tahun, dengan produksi terbesar berada di Kabupaten Lima Puluh Kota dan disusul dari Kabupaten Pesisir Selatan.
“Jadi untuk lahan dan produksi gambir ini memang terus mengalami peningkatan. Tapi tidak dengan harganya, tren malah turun,” ujar dia.
Afniwirman menyatakan solusi dari untuk mengangkat nilai gambir ini yakni perlu untuk membangun pabrik hilirisasi. Dimana dalam hal ini Kementan telah memberikan kepercayaan kepada PTPN IV.
“PTPN IV kini sedang bekerjasama dengan Universitas Andalas (Unand) untuk melakukan sejumlah kajian dan riset lebih lanjut, sehingga nantinya gambir hadir dalam bentuk hilirisasinya,” jelasnya.
Menurutnya sembari gambir ini disiapkan pabrik hilirisasinya, Pemprov Sumbar juga terus memberikan perhatian kepada petani gambir yakni membantu memberikan bantuan alat produksi ekstrak daun itu, dengan harapan kualitas gambir terus membaik.
“Bantuan berupa alat kami lakukan dari tahun ke tahun,” tegasnya.
Afniwirman bilang Pemprov Sumbar sangat mendukung adanya pabrik hilirisasi gambir. Mengingat produksi gambir terbesar tersebar di dua kabupaten, saat ini juga tengah dipastikan, apakah pabrik didirikan di Kabupaten Lima Puluh Kota saja, atau hanya di Kabupaten Pesisir Selatan.
“Jadi lokasi pembangunan pabrik hilirisasi ini juga akan segera dipastikan. Kemudian bagaimana hasilnya, akan kami koordinasikan kembali dengan PTPN IV,” ungkap dia.
Dia berharap adanya langkah dari pemerintah untuk mensejahterakan petani gambir ini, bisa melepaskan petani gambir di Sumbar yang dinilai pelaku eksportir telah semena-mena dalam menetapkan harga, yang kini membuat petani jadi kurang bergairah.
“Soal harga ini, liciknya pedagang saja. Soal kualitas itu hanya alasan. Makanya, pabrik hilirisasi ini akan dapat membuktikan bahwa kualita gambir Sumbar sangat bagus,” tutupnya.
Hilirisasi Jadi Jurus Dongkrak Harga Gambir Sumbar
Indonesia mendorong hilirisasi gambir di Sumatra Barat untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan mengatasi ketergantungan ekspor ke India. [1,075] url asal
#gambir #hilirisasi-gambir #harga-gambir #petani-gambir #ekspor-gambir #pasar-gambir #produksi-gambir #kualitas-gambir #pabrik-hilirisasi #komoditas-gambir #sumatra-barat-gambir #eksportir-gambir #indu
(Bisnis.Com - Terbaru) 22/04/26 12:37
v/198983/
Bisnis.com, PADANG — Komoditas gambir di Provinsi Sumatra Barat tengah disiapkan masuk tahap hilirisasi melalui pembangunan pabrik pengolahan guna mendorong kenaikan harga komoditas khas Ranah Minang yang belakangan tertekan. Tekanan harga terjadi seiring ketergantungan ekspor gambir yang masih bertumpu pada pasar India.
Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Sumbar Novrial mengatakan harga rata-rata gambir tercatat terus melemah, dari US$2,20 per kilogram pada Januari, turun menjadi US$2,18 per kilogram pada Februari, dan kembali turun menjadi US$2,06 per kilogram pada Maret.
“Penurunan juga terjadi pada volume permintaan importir dari India,” katanya dikutip dari data resmi Disperindag, Selasa (21/4/2026).
Dia menyampaikan bahwa di Sumatra Barat terdapat sejumlah eksportir gambir, yang sebagian besar merupakan eksportir dari India, selain juga ada pelaku usaha lokal asal Payakumbuh. Menurutnya, kondisi harga gambir saat ini memang sedang mengalami penurunan.
Novrial menjelaskan bahwa dominasi India terjadi karena negara tersebut merupakan pasar ekspor terbesar bagi gambir. Selain ke India, sebagian kecil ekspor juga mengalir ke Nepal dan Bangladesh. Sempitnya pangsa pasar itu diduga menjadi salah satu penyebab sulitnya harga gambir di tingkat petani meningkat, sementara produksi terus bertambah.
Sejalan dengan itu, eksportir gambir Punit Kumar juga mengakui harga komoditas tersebut tengah mengalami penurunan. Dia menyebut harga gambir yang dibeli dari pengepul yang mengantarkan langsung ke gudang saat ini berada di kisaran Rp50.000 hingga Rp60.000 per kilogram, tergantung pada kualitasnya.
“Kami tentu lihat kualitas juga, kalau bagus, kami beli dengan harga bagus. Tapi kalau tidak bagus, kami juga menolaknya atau tidak bisa kami beli,” jelasnya.
Dia juga menilai kualitas gambir di Sumatra Barat cenderung menurun dari tahun ke tahun. Menurutnya, dahulu harga gambir di tingkat petani bahkan bisa mencapai Rp100.000 per kilogram, kemudian turun menjadi sekitar Rp75.000 per kilogram, hingga kini terus melemah.
Sementara itu, petani gambir di Kabupaten Pesisir Selatan, Frenki, mengatakan harga gambir saat ini hanya sekitar Rp22.000 per kilogram di tingkat petani, bahkan kerap turun hingga Rp18.000 per kilogram.
“Kami malah bilang harga gambir sekarang tidak manusiawi lagi, susah loh untuk bertani gambir ini. Malah di hargai Rp18.000 per kg. Seharusnya paling rendah itu di harga Rp35.000 per kg, harga ini bisalah sedikit-sedikit untuk disisihkan menabung buat masa depan keluarga,” tegasnya.
Di sisi lain, Kepala Dinas Perkebunan Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumbar Afniwirman menyebut produksi gambir di daerah tersebut justru terus meningkat.
“Jadi untuk lahan dan produksi gambir ini memang terus mengalami peningkatan. Tapi tidak dengan harganya, tren malah turun,” ujarnya
Afniwirman menyatakan peningkatan nilai gambir perlu didorong melalui pembangunan pabrik hilirisasi. Dalam hal ini, Kementerian Pertanian telah memberikan kepercayaan kepada PTPN IV yang kini bekerja sama dengan Universitas Andalas (Unand) untuk melakukan kajian dan riset lanjutan.
Dia menambahkan, sembari menunggu pembangunan pabrik tersebut, Pemprov Sumbar juga terus membantu petani melalui penyaluran alat produksi ekstrak daun.
“Bantuan berupa alat kami lakukan dari tahun ke tahun,” tegasnya.
Afniwirman mengatakan Pemprov Sumbar mendukung pembangunan pabrik hilirisasi gambir. Saat ini, pemerintah tengah memastikan lokasi pembangunan pabrik, apakah di Kabupaten Lima Puluh Kota atau Kabupaten Pesisir Selatan.
Dia berharap langkah tersebut dapat meningkatkan kesejahteraan petani gambir di Sumbar.
“Soal harga ini, liciknya pedagang saja. Soal kualitas itu hanya alasan. Makanya, pabrik hilirisasi ini akan membuktikan bahwa kualitas gambir Sumbar sangat bagus,” tutupnya.
Kolaborasi PTPN IV & Unand
Sebelumnya, PTPN IV PalmCo dan Universitas Andalas (Unand) telah menjalin kerja sama untuk memperkuat pengembangan gambir berbasis hilirisasi. Pada Januari 2026, keduanya mulai menyusun studi kelayakan pengembangan komoditas gambir nasional, sebagai langkah BUMN perkebunan masuk ke industri yang selama ini bertumpu pada petani rakyat.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, mengatakan kerja sama tersebut difokuskan pada studi kelayakan bisnis gambir terintegrasi, mulai dari budidaya, pengolahan, hingga pasar.
Indonesia sendiri merupakan produsen gambir terbesar dunia dengan lebih dari 80% pasokan global berasal dari dalam negeri, terutama dari Sumatra Barat. Namun, sebagian besar gambir masih diekspor dalam bentuk bahan mentah sehingga nilai tambah bagi petani belum optimal.
“Pengembangan gambir ini sejalan dengan visi pemerintah untuk memperkuat daya saing komoditas perkebunan melalui hilirisasi dan kemitraan berkelanjutan. Kami ingin hadir bukan hanya sebagai pelaku bisnis, tetapi sebagai katalis peningkatan nilai tambah dan kesejahteraan petani,” katanya.
PalmCo menilai gambir sebagai komoditas strategis baru yang berpotensi dikembangkan dengan pendekatan korporasi modern tanpa meninggalkan basis petani rakyat. Karena itu, pengembangan dimulai dari fondasi ilmiah melalui studi kelayakan bersama perguruan tinggi.
“Melalui sinergi dengan Universitas Andalas, kami optimistis gambir dapat tumbuh menjadi komoditas strategis baru yang mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan kesejahteraan masyarakat,” kata Jatmiko.
Direktur Sistem dan Sustainability PalmCo Ugun Untaryo menambahkan studi kelayakan tersebut akan menjadi pijakan utama sebelum perusahaan mengambil keputusan investasi, dengan kajian yang mencakup aspek teknis, ekonomi, lingkungan, dan sosial.
“Kami ingin memastikan pengembangan gambir dilakukan secara terukur dan berkelanjutan, dari hulu hingga hilir. Ini penting agar investasi yang dilakukan benar-benar memberikan manfaat jangka panjang,” kata Ugun.
Transformasi Ekonomi Gambir Sumbar
Sementara itu, Rektor Universitas Andalas Efa Yonnedi menyambut baik kolaborasi tersebut dan menilai keterlibatan perguruan tinggi penting agar gambir dapat dikelola secara modern dan berdaya saing.
“Universitas Andalas siap menghadirkan keahlian akademik dan riset terapan agar gambir tidak lagi diposisikan sebagai komoditas mentah, tetapi sebagai produk industri yang bernilai tinggi,” ujar Efa.
Pengamat Universitas Andalas Muhammad Makky menilai kebijakan pengembangan gambir sebagai langkah strategis yang dapat membuka pasar baru sekaligus memperbaiki rantai pasok dan meningkatkan kesejahteraan petani.
Dia menyebut arah kebijakan tersebut telah disusun dalam empat tahapan strategis yang dinilai terukur dan berorientasi bisnis.
“Ini bukan sekadar wacana. Desainnya jelas, dimulai dari pembukaan pasar, penguatan bahan baku, hingga pengembangan industri dan produk turunan. Kami melihat ini sebagai langkah yang sangat progresif dan realistis,” ujarnya.
Makky menjelaskan tahap awal difokuskan pada pembukaan akses ekspor langsung melalui kolaborasi BUMN dan eksportir lokal, yang diharapkan memangkas rantai distribusi dan memperbaiki harga di tingkat petani.
“Dengan rantai pasok yang lebih pendek, disparitas harga bisa ditekan. Ini penting agar petani mendapatkan harga yang lebih adil dan layak,” jelasnya.
Dia menambahkan, penguatan koperasi desa juga menjadi bagian penting agar petani bisa terhubung langsung dengan sistem pasok nasional.
Menurutnya, skema ini berpotensi memperkuat posisi tawar petani dalam rantai industri gambir.
Sementara itu, Mentan Amran menekankan bahwa hilirisasi gambir akan memberikan nilai tambah yang tinggi bagi perekonomian Sumbar.
Dia melihat Sumbar punya potensi besar untuk komoditas gambir, menghadirkan hilirisasi adalah langkah yang tepat, sehingga dapat memberikan dampak ekonomi yang besar bagi daerah, maupun nasional.
“Kami mohon dukungan bupati dan gubernur. Sawit sudah ada hilirisasinya, sudah jalan dan ekspor. Tapi gambir belum ada hilirisasinya. Nah, ini bisa menambah kesejahteraan petani kita di Sumbar,” tutupnya.
Permintaan Global Membaik, Ekspor Gambir Sumbar ke India Meningkat
Ekspor gambir Sumbar ke India meningkat seiring pulihnya permintaan global. Sumbar memasok 80% kebutuhan dunia, dan rencana hilirisasi diharapkan meningkatkan nilai ekonomi. [863] url asal
#gambir-ekspor #ekspor-gambir #gambir-sumbar #permintaan-global #pasar-india #produksi-gambir #hilirisasi-gambir #pabrik-hilirisasi #komoditas-unggulan #pertanian-sumbar #pasar-global #nilai-tambah-gam
(Bisnis.Com - Terbaru) 17/11/25 02:15
v/40013/
Bisnis.com, PADANG - Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumatra Barat mencatat tren ekspor gambir menunjukkan peningkatan dalam dua tahun terakhir dan hal ini dampak dari permintaan global membaik.
Kepala Disperindag Sumbar Novrial mengatakan melihat pada tahun 2023 yang berjumlah 11.865 ton dan pada 2024 ekspor gambir dari Sumbar mencapai 13.482 ton dengan nilai Rp574,7 miliar.
“Potensi ekspor gambir ini masih besar, karena Sumbar memasok sekitar 80% kebutuhan gambir dunia,. Kami juga mendorong mempercepat perluasan pasar dan penataan tata niaga gambir nasional,” katanya, Minggu (16/11/2025).
“Ekspor ini penting, agar kita tidak hanya bergantung pada pasar India yang saat ini menjadi tujuan utama ekspor gambir Indonesia,” sambungnya.
Gubernur Sumbar Mahyeldi menyambut positif keberlanjutan ekspor gambir dari Ranah Minang ini, karena dia menilai, peningkatan permintaan luar negeri menjadi sinyal pulihnya pasar global terhadap salah satu komoditas unggulan Sumbar.
“Ekspor ini menunjukkan permintaan global mulai pulih. Semoga ini menjadi pertanda baik bagi pengembangan pasar gambir ke depan,” ujarnya.
Dia menyampaikan bahwa perkebunan gambir di Sumbar sejauh ini terus menunjukan produktivitas yang bagus. Bahkan dari tahun ke tahun produksi gambir mengalami peningkatan.
Mahyeldi bilang sektor pertanian daerah memiliki peran dan kontribusi sebesar 21,37% terhadap PDRB tahun 2024, dan hampir 700 ribu rumah tangga petani yang menggantungkan hidup di sektor tersebut.
“Pertanian tetap menjadi tulang punggung ekonomi Sumbar,” tegasnya.
Dia menekankan pentingnya dukungan pusat, terutama untuk memperkuat produksi dan membuka peluang hilirisasi komoditas unggulan. Dimana untuk wilayah Sumbar memiliki lahan pertanian yang luas dengan hampir 700 ribu rumah tangga petani.
“Makanya dengan adanya dukungan dari pemerintah pusat sangat penting agar komoditas unggulan seperti padi, jagung, dan terutama gambir, bisa benar-benar memberi nilai tambah bagi masyarakat,” ujar Mahyeldi.
Di Sumbar, kawasan perkebunan gambir yang terluas berada di Kabupaten Lima Puluh Kota dan Kabupaten Pesisir Selatan. Di Kabupaten Lima Puluh Kota luas perkebunan gambir di daerahnya itu mencapai 17.535 hektar dengan produksi sebesar 8.320 ton per tahunnya, dan Lima Puluh Kota menjadi daerah produksi gambir terbesar di Sumbar.
Selanjutnya di Kabupaten Pesisir Selatan luas lahan 10.324 ha dan mampu memproduksi 7.227 ton gambir per tahunnya. Kabupaten Agam untuk luas lahan gambir 496 ha dengan produksi 122 ton per tahunnya. Begitupun dengan Kabupaten Pasaman luas lahan 125,93 ha produksinya bisa menyentuh 125 ton per tahunnya.
Menuju Hilirisasi Gambir
Perlu diketahui, Menteri Pertanian Amran Andi Sulaiman juga memiliki ide untuk mengangkat nilai gambir ini, dengan harga dampaknya tidak hanya kepada peningkatan kesejahteraan petani, tapi juga bisa memberikan dampak kepada perekonomian daerah, yakni dengan cara membangun pabrik hilirisasi gambir.
Dalam kunjunganya ke Padang pada September 2025 lalu, Amran menyebutkan kondisi yang terjadi saat ini, hasil produksi gambir di Sumbar dijual dalam kondisi produksi setengah jadi dan kemudian di ekspor ke India, Pakistan, Nepal, dan Bangladesh. Bahkan gambir asal Sumbar menjadi pemasok terbesar dari Indonesia untuk pasar global.
“Kalau hanya menjual produk gambir dalam kondisi setengah jadi, sementara hanya negara India yang membutuhkan gambir terbesar di dunia ini. Artinya hal itu akan sulit mengangkat perekonomian petani. Makanya saya berharap, pabrik hilirisasi gambir di Sumbar,” katanya.
Amran melihat apabila pabrik hilirisasi gambir berdiri di Sumbar, rantai pertumbuhan perekonomian akan terbangun. Dengan adanya pabrik hilirisasi, akan ada peningkatan kebutuhan gambir di Sumbar, dan hal ini akan terjadi perluasan perkebunan gambir, serta akan mengangkat harga gambir di tingkat petani.
Kemudian untuk pabrik hilirisasi gambir, kata Mentan, apabila resmi beroperasi dan menghasilkan berbagai produk, seperti untuk kebutuhan farmasi, tinta, produk makanan, hingga kosmetik. Maka dari produk jadi gambir itu, Sumbar menjadi daerah yang mewakili Indonesia sebagai produsen produk gambir pengisi pangsa pasar dunia.
“Kalau ini jalan, harga gambir di Sumbar tidak dihargai Rp60.000 seperti yang dibeli oleh eksportir saat ini. Tapi bisa naik jadi Rp70.000 untuk dipasok ke pabrik hilirisasi gambir yang ada di Sumbar,” ujarnya.
Amran juga merinci sisi cuan dari pabrik hilirisasi gambir, jika ekspor gambir di Sumbar per tahun 14.000 ton dengan harga Rp60.000 per kilogram, maka nilai ekspor yang diterima Rp 840 miliar. Kini bila seluruh gambir di Sumbar ditampung oleh pabrik hilirisasi gambir dengan harga beli gambir Rp70.000 per kilogram maka nilai penjualan yang terima petani per tahunnya mencapai Rp980 miliar.
“Jadi petani akan merasakan dampaknya, karena harga jual gambir naik, dan hal ini akan membuat petani jadi lebih sejahtera. Keberadaan pabrik hilirisasi pun akan memberikan dampak bagi pemerintah daerah berupaya pendapatan asli daerah, serta turut menyerap ribuan tenaga kerja,” sebutnya.
Oleh karena itu, Amran meminta kepada Gubernur Sumbar, agar mencari investor untuk membangun pabrik hilirisasi gambir itu. Mengingat Sumbar memiliki dua kabupaten sebagai penghasil gambir terbesar yakni Kabupaten Lima Puluh Kota dan Kabupaten Pesisir Selatan.
Menurutnya sebelum mencari investor, perlu bagi pemerintah daerah untuk menghitung nilai investasinya, dan memberikan gambaran potensi bisnisnya. Sementara dari sisi petani, Kementan siap mendorong petani perluasan perkebunan gambir, melalui penyediaan bibit gambir.
“Kami siap untuk membantu petani gambir ini, penyediaan bibit hingga pupuknya. Sekarang tinggal pemerintah daerahnya, mau atau tidak hadirnya pabrik hilirisasi gambir di Sumbar,” tegasnya.
Mentan mendorong pemda di Sumbar untuk menjajaki investor Cina, karena disana memiliki banyak teknologi yang berpeluang untuk mendirikan pabrik hilirisasi gambir.
“Saya berharap betul pabrik hilirisasi gambir ini benar-benar ada di Sumbar. Jika ingin maju dan berkembang itu, memang harus ada hilirisasinya,” tutup Amran.
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56