Bisnis.com, JAKARTA – Emiten kesehatan PT Prodia Widyahusada Tbk. (PRDA) membukukan kinerja yang lesu sepanjang sembilan bulan 2025. Laba bersih yang mampu dibukukan Prodia susut menjadi Rp114,56 miliar pada periode ini.
Melansir Laporan Keuangan, sepanjang periode hingga September 2025, Prodia hanya mampu membukukan pendapatan senilai Rp1,58 triliun. Total pendapatan yang mampu dibukukan Prodia susut 1,11%year-on-yeardibandingkan periode yang sama 2024 senilai Rp1,59 triliun.
Susutnya pendapatan Prodia sejalan dengan menyusutnya kinerja Prodia di sejumlah wilayah operasi. Di Sumatera, misalnya, Prodia hanya mampu membukukan pendapatan senilai Rp178,76 miliar, turun 3,39% YoY. Begitu juga di Jakarta Raya yang hanya mampu membukukan pendapatan senilai Rp624,06 miliar, susut 4,17% YoY.
Meskipun begitu, sejumlah wilayah lain seperti Jawa Tengah justru bertumbuh 2,25% YoY, Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara tumbuh 3,23% YoY, dan Kalimantan tumbuh 2,68% YoY.
Sementara itu, beban pokok pendapatan yang dibukukan Prodia tercatat turut meningkat 5,35% YoY menjadi Rp672,57 miliar hingga kuartal III/2025, dari posisi Rp638,41 miliar pada periode yang sama 2024. Alhasil, laba bruto yang mampu dibukukan perseroan menyusut 5,42% YoY menjadi Rp907,97 miliar per periode yang berakhir September 2025.
Setelah dikurangi berbagai beban dan pajak, Prodia akhirnya hanya mampu membukukan laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk atau laba bersih senilai Rp114,56 miliar hingga kuartal III/2025. Laba bersih Prodia menyusut signifikan sebesar 41,06% YoY dari posisi Rp194,39 miliar pada periode yang sama 2024.
Alhasil, laba per saham yang semula tercatat sebesar Rp206,54 pada September 2024, susut menjadi Rp125,89 per lembar pada September 2025. Dengan kata lain, terdapat penyusutan laba per saham Prodia sebesar 39,04% YoY.
Direktur Utama Prodia Dewi Muliaty, menerangkan bahwa inflasi dan fluktuasi nilai tukar rupiah yang telah menekan daya beli masyarakat, turut meningkatkan biaya operasional perseroan. Dalam kondisi ini, Dewi mengatakan bahwa Prodia akan selalu berupaya untuk memastikan pertumbuhan bisnisnya.
“Kami berupaya menghadirkan nilai tambah melalui sinergi antar-segmen, mulai dari layanan rutin, esoterik dan genomik, serta mengoptimalkan layanan digital U by Prodia untuk memudahkan konsumen dalam melakukan pemeriksaan secara lebih praktis dan personal. Dengan pendekatan ini, kami memastikan pertumbuhan bisnis tetap berkelanjutan dan relevan dengan kebutuhan masyarakat,” katanya dalam rilis, Jumat (31/10/2025).
Dari sisi neraca aset, Prodia membukukan total aset senilai Rp2,58 triliun pada September 2025. Torehan total aset Prodia susut dari posisi Rp2,84 triliun pada Desember 2024 lantaran menyusutnya aset tidak lancar dan aset lancar perseroan.
Sementara itu, Prodia juga mampu menekan liabilitas perseroan menjadi hanya Rp267,90 miliar pada September 2025. Posisi itu turun cukup signifikan dari Rp355,45 miliar pada Desember 2024, yang disebabkan oleh menyusutnya liabilitas jangka pendek terhadap pihak ketiga dan pihak berelasi.
Namun, Prodia juga mencatatkan total ekuitas yang menyusut menjadi Rp2,58 triliun pada September 2025, dari posisi Rp2,84 triliun pada Desember 2024.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.