Bisnis.com, SURABAYA — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda menjelaskan fenomena hujan deras disertai petir dan angin kencang yang terjadi beberapa hari terakhir di Surabaya dan Sidoarjo, disebabkan oleh proses pemanasan matahari sejak pagi yang menguat pada siang hari, sehingga mendorong pertumbuhan awan hujan secara signifikan.
Prakirawan BMKG Juanda Trya Chandra mengatakan, semakin kuat pemanasan matahari pada siang hari, semakin tinggi pula pertumbuhan awan konvektif yang memicu potensi hujan pada sore hingga malam hari.
“Selain itu, kondisi atmosfer yang lembap saat musim hujan membuat pembentukan awan berlangsung lebih cepat dan intens, sehingga hujan lebat, petir, dan angin kencang lebih sering terjadi pada rentang waktu tersebut,” ujarnya, Jumat (6/3/2026).
Trya menambahkan, hujan deras yang disertai angin kencang beberapa hari terakhir juga dipengaruhi gangguan atmosfer di wilayah Jawa Timur.
Gangguan tersebut antara lain pola angin konvergensi, aktivitas gelombang atmosfer Madden-Julian Oscillation (MJO) dan gelombang low frequency, serta keberadaan sedikitnya tiga sistem tekanan rendah di selatan Indonesia.
MJO adalah gangguan atmosfer berupa paket awan, hujan, angin, dan tekanan yang bergerak dari barat ke timur, biasanya mulai dari Samudra Hindia, melintasi Indonesia/Maritime Continent, lalu ke Samudra Pasifik.
Satu siklus MJO biasanya berlangsung sekitar 30–60 hari, sehingga sering disebut sebagai fenomena intramusiman (subseasonal).
Ketika fase aktif MJO tepat berada di sekitar Indonesia (umumnya fase 3–4 pada indeks RMM), peluang hujan lebat dan kejadian hujan ekstrem meningkat signifikan di banyak wilayah Indonesia, terutama bagian barat dan tengah.
Kombinasi faktor ini memicu pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) yang masif di sekitar Surabaya dan Sidoarjo.
“Wilayah ini dekat dengan Selat Madura yang suhu muka lautnya masih cukup hangat, sehingga suplai uap air untuk pembentukan awan hujan tetap tinggi. Hal tersebut bisa menyebabkan hujan deras disertai petir dan angin kencang,” kata Trya.
BMKG Juanda mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan karena cuaca ekstrem diperkirakan masih berpotensi terjadi di Jawa Timur hingga 10 Maret 2026.
Warga diingatkan untuk mewaspadai risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir, genangan, pohon tumbang, dan angin kencang yang dapat muncul secara tiba-tiba.
“Masyarakat juga diimbau selalu memantau kondisi cuaca terkini berdasarkan citra radar cuaca WOFI dan informasi peringatan dini 3 harian serta peringatan dini 2–3 jam ke depan yang selalu kami bagikan melalui kanal resmi BMKG Juanda,” pungkasnya.