Bisnis.com, JAKARTA — RHB Sekuritas Indonesia mempertahankan rekomendasi beli untuk saham PT Bank Syariah Indonesia(Persero) Tbk. (BRIS) usai membukukan kinerja positif sepanjang 2025.
Andrey Wijaya, analis RHB Sekuritas Indonesia, menjelaskan bahwa pihaknya mempertahankan rating optimistis untuk saham bank syariah terbesar di Tanah Air itu dengan target harga sebesar Rp3.000.
Target harga saham itu menyiratkan potensi imbal hasil (return potential) sebesar 24,48% dari harga saham perseroan pada penutupan perdagangan hari ini, Senin (9/2/2026), yakni pada level Rp2.410. Adapun, harga saham BRIS hari ini terpantau menguat 1,26%.
“Pertahankan rekomendasi beli dengan target harga berbasis GGM sebesar Rp3.000 mencerminkan potensi kenaikan 26% dari posisi saat ini [harga sebelum perdagangan Rp2.380], dengan estimasidividend yieldsepanjang 2026 sekitar 1%,” jelas Andrey dalam laporan RHB Sekuritas, Senin (9/2/2026).
Menurutnya, Bank Syariah Indonesia mengawali 2026 dengan fundamental yang solid. Sebab, BRIS didukung oleh biaya dana yang secara struktural lebih rendah, pertumbuhan pendapatan berbasis komisi yang lebih cepat, serta kontribusi pembiayaan berbasis emas yang kian meningkat.
Manajemen BRIS, sebutnya, memandu pertumbuhan pembiayaan dua digit, margin bunga bersih (net interest margin/NIM) yang lebih tinggi, serta biaya kredit yang terjaga.
Sekuritas ini juga menyoroti kinerja BRIS sepanjang 2025 yang juga dinilai kuat dengan ditopang oleh peningkatan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII), akselerasi pendapatan berbasis komisi, pertumbuhan pembiayaan konsumer dan emas yang sehat.
“[Selain itu] bauran pendanaan yang makin kuat berbasis CASA [dana murah], kualitas aset yang resilien, sertaleveragestrategis yang kian besar dari bisnis bullion banking dan platform digital BYOND,” ungkap Andrey.
Dalam catatanBisnis, BRISmembukukan laba bersih senilai Rp7,56 triliun untuk periode 2025. Realisasi itu meningkat sebesar 8,02% secara tahunan (year-on-year/YoY) dibandingkan torehan 2024, yakni Rp7,00 triliun.
Direktur Keuangan dan Strategi BSI Ade Cahyo Nugroho menyampaikan, capaian positif ini tidak lepas dari pertumbuhan sejumlah komponen, salah satunyafee based incomeatau pendapatan berbasis komisi. Tercatatfee based incomeBSI tumbuh 25,06% YoY menjadi Rp6,89 triliun dari tahun lalu Rp5,51 triliun.
“Peningkatanfee-based incomeini memang secara lebih detail dikontribusi oleh produk-produk baru kita, terutama yang berkaitan dengan emas,” kata Cahyo dalam Konferensi Pers Kinerja Tahun 2025 BSI secara daring, Jumat (6/2/2026).
Di sisi lain, peningkatan profitabilitas perseroan juga didorong oleh penurunan biaya dana ataucost of fund(CoF). Penurunan CoF secara tahunan itu antara lain didorong oleh pertumbuhan tabungan haji.
Seiring dengan penurunan CoF, Cahyo mengatakan bahwa dana pihak ketiga (DPK) perseroan tumbuh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pembiayaan.
Dalam paparannya, DPK perseroan tumbuh 16,20% YoY menjadi Rp380,48 triliun dari tahun lalu sebesar Rp327,45 triliun. Di sisi lain, pembiayaan mencapai Rp318,84 triliun, tumbuh 14,49% YoY dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp278,48 triliun.
“Ini sinyal positif, dengan likuiditas yang berlimpah, merupakan awalan dari kita untuk bisa tumbuh di pembiayaan lebih agresif, sebagaimana ditargetkan oleh pemerintah,” ujarnya.
------------------------------
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.