#30 tag 24jam
Mengenal Project Freedom Trump di Selat Hormuz
Project Freedom Trump di Selat Hormuz, diluncurkan 3 Mei 2026, dijeda setelah dua hari untuk menunggu perjanjian dengan Iran. Proyek ini bertujuan memandu kapal terjebak perang Iran keluar dari Teluk [1,354] url asal
#project-freedom #selat-hormuz #trump-project #amerika-serikat #iran-selat-hormuz #kapal-perang-as #teluk-persia #militer-as #perjanjian-iran #kapal-komersial #pasokan-minyak #keamanan-selat #konflik-a
(Bisnis.Com - Ekonomi) 06/05/26 18:30
v/213462/
Bisnis.com, JAKARTA — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menjeda inisiatif AS yang baru saja diluncurkan di Selat Hormuz, yaitu “Project Freedom” atau “Proyek Kebebasan”. Inisiatif AS bagi kapal-kapal di selat itu baru diluncurkan pada Minggu (3/5/2026) waktu AS.
Trump menulis di media sosialnya pada Selasa (5/5/2026) atau Rabu pagi waktu Indonesia (6/5/2026) bahwa Project Freedom akan dihentikan untuk sementara waktu. Dengan demikian, proyek Trump tersebut, hingga kini, hanya aktif selama dua hari.
“Project Freedom (Gerakan Kapal Melintasi Selat Hormuz) akan dijeda untuk sementara waktu guna melihat apakah Perjanjian [dengan Iran] dapat diselesaikan dan ditandatangani,” tulis Trump di Truth Social, seperti dikutip pada Rabu (6/5/2026).
Dia menyatakan bahwa proyek tersebut dijeda atas permintaan Pakistan, yang hingga kini menjadi mediator antara AS dan Iran, dan negara-negara lain. Lalu, keputusan itu juga diambil setelah Trump mengeklaim bahwa AS telah mendapat “keberhasilan militer yang luar biasa” melawan Iran serta bahwa ada kemajuan besar dalam penetapan perjanjian lengkap dan final dengan Iran.
Sebelumnya, Presiden AS mengatakan bahwa Project Freedom merupakan langkah kemanusiaan untuk membebaskan orang, perusahaan, dan negara-negara “yang sama sekali tidak melakukan kesalahan”.
Iran menangkis inisiatif tersebut dengan mengatakan bahwa kapal-kapal hanya dapat melintasi Selat Hormuz dengan izin mereka. Sejak diumumkan, militer Iran, seperti dilansir dariBBC News, mengatakan telah menembaki kapal perang AS untuk mencegah mereka berlayar di jalur air penting tersebut.
AS juga mengatakan telah menenggelamkan kapal-kapal kecil. Aksi saling balas itu pun mengancam gencatan senjata dan pencapaian kesepakatan yang dimaksudkan untuk mengakhiri perang di Asia Barat atau Timur Tengah itu.
Apa itu Project Freedom?
Secara ringkas, Project Freedom merupakan proyek AS untuk memandu kapal-kapal yang terjebak akibat perang Iran keluar dari Teluk Persia melalui Selat Hormuz, seperti dikutip dariThe Guardian. Trump menyebut bahwa proyek itu dilakukan atas nama Amerika Serikat, negara-negara di sekitar kawasan, tetapi “khususnya bagi Negara Iran”.
Saat ini AS mengatakan bahwa terdapat 22.500 pelaut di 1.550 kapal komersial yang terjebak di wilayah Teluk. Keadaan itu muncul setelah Selat Hormuz diblokir oleh Iran pasca negara tersebut dan wilayah sekitarnya diserang AS dan Israel pada akhir Februari 2026.
Sebagai informasi, sebelum perang ini, Selat Hormuz adalah jalur perairan penting global yang dilalui dengan bebas oleh seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) dunia.
Keadaan itu membuat makin tingginya kekhawatiran mengenai menipisnya persediaan di perairan itu bagi para pelaut. Kesehatan fisik dan mental mereka pun menjadi perhatian.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengatakan bahwa Project Freedom akan didukung oleh militer AS dengan menggunakan “kapal-kapal perusak berpeluru kendali, lebih dari 100 pesawat berbasis darat dan laut, anjungan tak berawak multidomain, dan 15.000 personel.”
Komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper mengatakan pada hari pertama operasi bahwa kapal-kapal dari 87 negara terdampar di wilayah Teluk. Dia menyebut bahwa AS telah menghubungi puluhan kapal dan perusahaan pelayaran untuk mendorong adanya kelancaran arus lalu lintas di wilayah perairan itu.
Saat Project Freedom diumumkan, belum dapat dipastikan mengenai kemungkinan bahwa AS akan mencoba memberikan pengawalan militer kepada kapal-kapal yang terdampar itu.
Mantan Wakil Asisten Sekretaris/Menteri Pertahanan AS untuk Timur Tengah, Mick Mulroy, mengungkapkanya keyakinannya kepadaBBCbahwa militer AS kemungkinan akan lebih fokus pada perlindungan udara, termasuk pertahanan dari serangan-serangan pesawat nirawak (drone) atau rudal. Menurutnya, hal itu akan lebih dipilih daripada mengawal kapal secara fisik dan langsung di perairan.
“Pertanyaannya adalah apakah kapal-kapal akan memercayai kemampuan mereka [AS] untuk lewat tanpa diserang, dan, yang lebih penting, pihak perusahaan asuransi,” ucap Mulroy sebelum proyek itu dijeda.
Intertanko, yaitu sebuah asosiasi perdagangan bagi pemilik dan operator tanker independen, mengatakan kepadaBBCbahwa pemerintahan Trump tidak melakukan koordinasi apa pun untuk operasi tersebut. Managing Director Intertanko Tim Wilkins menyebut bahwa hal itu membuat para anggota asosiasi khawatir akan keselamatan mereka saat melintasi Selat Hormuz.
Efektivitas Project Freedom
Efektivitas Project Freedom
CENTCOM menyampaikan pada Senin sore waktu setempat (4/5/2026) bahwa kapal-kapal perusak berpeluru kendali Angkatan Laut AS sudah beroperasi di Teluk Persia. Hal itu dilakukan setelah mereka melintasi Selat Hormuz untuk mendukung proyek itu.
CENTCOM juga mengatakan bahwa pasukan AS secara aktif membantu untuk memulihkan perlintasan bagi pelayaran komersial. Tidak ada rincian tambahan yang disampaikan.
“Sebagai langkah pertama, 2 kapal dagang berbendera AS telah berhasil melintasi Selat Hormuz dan sedang menuju perjalanan mereka dengan aman,” ujar Centcom tanpa memberikan identitas kapal-kapal itu.
Sejalan dengan perkataan AS, perusahaan pelayaran Maersk membenarkan bahwa salah satu kapalnya berhasil keluar dari Teluk Persia. Perusahaan juga menyatakan bahwa pelayaran tersebut didampingi oleh militer AS.
The Guardianmelaporkan bahwa, hanya dua kapal dagang yang diketahui telah melewati rute yang dijaga AS. Di lain pihak, masih ada ratusan kapal lainnya, yang mengangkut hingga 23.000 awak kapal, yang terjebak di Teluk Persia.
Meski begitu, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), yaitu salah satu angkatan bersenjata Iran, membantah bahwa ada kapal yang melewati Selat Hormuz.
Dengan penjedaan dalam Project Freedom, belum dapat dipastikan mengenai nasib kapal-kapal lain untuk dapat melintasi selat tersebut.
Dari pihak Iran, beberapa jam setelah Project Freedom dikatakan dimulai pada Senin, militer negara teokrasi itu mengatakan telah menembaki kapal perusak milik AS dan “Zionis”. Iran menyebut bahwa kapal-kapal itu telah diabaikan oleh AS.
CENTCOM kemudian dengan cepat membantah klaim Iran bahwa sebuah kapal perang telah dihantam oleh dua rudal.
Meski demikian, mereka mengonfirmasi bahwa Iran menembakkan rudal jelajah ke arah kapal-kapal perang AS dan kapal-kapal komersial berbendera AS. Untuk kapal-kapal komersial, mereka menyebut bahwa Iran menyerang dengan berbagai pesawat nirawak dan kapal kecil.
Uni Emirat Arab (UEA), yaitu sekutu AS yang juga berbatasan dengan Teluk Persia, mengatakan sebuah tanker yang berafiliasi dengan ADNOC, perusahaan minyak milik mereka, menjadi sasaran dua pesawat nirawak saat melintasi Selat Hormuz. UEA menyebut bahwa tidak ada yang terluka setelah pihaknya juga setidaknya tiga kali mengintersepsi rudal-rudal.
Terdapat juga dugaan serangan lain di perairan tersebut yang menghantam kapal kargo Korea Selatan. Kapal itu berlabuh di wilayah Selat Hormuz yang berada dekat dengan UEA.
Iran mengatakan bahwa mereka akan mengambil “tindakan tegas” terhadap kapal-kapal yang tidak menggunakan rute yang disetujui oleh mereka di Selat Hormuz. Negosiator utama Iran pun menuduh AS membahayakan keamanan pelayaran dengan blokade mereka terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Iran menyatakan bahwa AS tidak ingin melihat Iran berada dalam kondisi seperti saat ini.
Dari sisi AS, Komandan Cooper mengatakan bahwa beberapa helikopter serang AS digunakan untuk menenggelamkan enam kapal kecil Iran, yang diklaim menargetkan kapal-kapal sipil di wilayah perairan itu. Iran membantah hal tersebut.
Kelanjutan Perang di Asia Barat
Kelanjutan Perang di Asia Barat
Walaupun Project Freedom dijeda, Trump menyebut bahwa blokade di Selat Hormuz akan tetap berlangsung secara penuh.
Media milik pemerintah Iran mengatakan bahwa jeda tersebut menunjukkan bahwa Trump memilih “mundur” setelah menerima “kegagalan yang terus-menerus” dalam upayanya untuk membuka kembali selat itu bagi pelayaran global.
Pakar Timur Tengah yang pernah menjadi penasihat bagi pemerintahan AS, Grant Rumley, menyebut bahwa rencana untuk mengamankan perlintasan bagi kapal-kapal di Teluk Persia merupakan hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Dia menyebut, sebelum penundaannya, bahwa proyek sejenis itu kemungkinan akan membutuhkan opsi militer yang lebih kuat.
Menurutnya, terdapat anggapan bahwa perang akan terus terjadi.
“Saya pikir, konsensus umumnya adalah bahwa dimulainya kembali permusuhan hanyalah masalah waktu kapan… bukan apakah [perang itu] akan terjadi,” ucapnya, seperti dikutip dariBBC News.
Senada, Peneliti Program Keamanan Internasional di lembaga pemikir Chatham House, yaitu Nitya Labh London, mengatakan bahwa operasi AS memiliki risiko yang sangat tinggi dan dapat membuat eskalasi lebih lanjut.
Menurutnya, apabila Project Freedom Trump berhasil mengeluarkan beberapa kapal dari Selat Hormuz, hal itu hanya akan bisa menjadi suatu bantuan sementara. Dia menegaskan bahwa perlu upaya yang lebih berkelanjutan untuk membuka selat itu.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan bahwa gencatan senjata belum berakhir dengan berlangsung Project Freedom.
“[Project Freedom] adalah proyek yang terpisah dan berbeda,” ujarnya merujuk kepada gencatan senjata tersebut.
Soal gencatan senjata itu, Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal AS (JCS) Dan Caine mengatakan bahwa Iran telah menembaki kapal komersial sebanyak 9 kali, menyita 2 kapal kontainer, dan menyerang pasukan AS 10 kali sejak perjanjian gencatan senjata pada awal April 2026. Meski begitu, dia menilai bahwa tindakan-tindakan tersebut, untuk saat ini, masih berada di bawah ambang batas untuk memulai kembali serangan-serangan besar. (Laurensius Katon Kandela)
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56