#30 tag 24jam
China Terus Perkuat Militer, AS Ajak Sekutu Melawan Beijing
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth pada hari Sabtu mendesak sekutu Asia untuk meningkatkan pengeluaran militer guna melawan kekuatan China yang semakin meningkat... | Halaman Lengkap [705] url asal
#konflik-as-vs-china #as-vs-china-memanas #perang-dagang-as-dan-china #perang-nuklir-as-vs-china
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 30/05/26 17:25
v/235780/
SINGAPURA - Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth pada hari Sabtu mendesak sekutu Asia untuk meningkatkan pengeluaran militer guna melawan kekuatan China yang semakin meningkat dan mencegah dominasinya di kawasan tersebut. Dia memperingatkan “peringatan yang beralasan” atas peningkatan kekuatan militer yang pesat.Hegseth, berbicara di Dialog Shangri-La di Singapura, forum utama Asia untuk para pemimpin pertahanan, militer, dan diplomat, mengatakan bahwa jaringan sekutu yang lebih kuat dan mandiri sangat penting untuk mencegah agresi dan menjaga keseimbangan kekuatan.
“Ada kekhawatiran yang beralasan mengenai peningkatan kekuatan militer China yang bersejarah dan perluasan aktivitas militernya di kawasan ini dan sekitarnya,” katanya.
“Pasifik yang didominasi oleh hegemon mana pun akan mengacaukan keseimbangan kekuatan regional,” kata Hegseth. “Tidak ada negara, termasuk China, yang dapat memaksakan hegemoninya dan mempertanyakan keamanan atau kemakmuran bangsa kita dan sekutu kita.”
AS mengharapkan sekutu dan mitra Asianya untuk meningkatkan pengeluaran pertahanan menjadi 3,5% dari PDB karena telah menjanjikan investasi sebesar USD1,5 triliun untuk militernya, kata kepala Pentagon.
“Kurangi Shangri-La, perbanyak kapal, perbanyak kapal selam,” kata Hegseth, dan menekankan bahwa sekutu menginginkan stabilitas, bukan eskalasi.
“Apa yang mereka inginkan, dan apa yang diberikan Amerika Serikat, adalah kekuatan yang disiplin, tekad yang teguh, dan kepemimpinan yang cukup percaya diri untuk berbicara dan bertindak dengan lembut sambil membawa tongkat besar.”
Hegseth juga menyampaikan nada yang terukur mengenai hubungan AS-Tiongkok, dengan mengatakan bahwa hubungan tersebut "lebih baik daripada beberapa tahun terakhir," dengan keterlibatan militer-ke-militer yang lebih sering membantu mengelola ketegangan.
"Kami lebih sering bertemu dengan rekan-rekan kami dari China dengan menjaga jalur komunikasi militer-ke-militer yang terbuka."
Zhou Bo, seorang peneliti senior di Universitas Tsinghua dan pensiunan kolonel senior Tentara Pembebasan Rakyat yang merupakan bagian dari delegasi Tiongkok, menggambarkan hubungan AS-Tiongkok sebagai "rumit."
Meskipun demikian, ia mengatakan Hegseth menyampaikan "nada yang jauh lebih baik" tahun ini daripada tahun lalu, dan mengaitkan perubahan tersebut dengan kunjungan Trump ke China.
"Kedua belah pihak memiliki saluran komunikasi yang terbuka, situasinya tidak seburuk yang digambarkan oleh dunia luar," kata Zhou.
China, yang menteri pertahanannya absen dari dialog untuk tahun kedua berturut-turut, menuduh Hegseth tahun lalu membuat pernyataan yang "menghina".
Hegseth menggemakan tuntutan lama Presiden Donald Trump agar sekutu menanggung lebih banyak biaya pertahanan mereka sendiri. Trump secara tegas mengatakan bahwa mitra Eropa dan NATO harus mengurangi ketergantungan pada Washington.
“Era Amerika Serikat mensubsidi pertahanan negara-negara kaya telah berakhir,” kata Hegseth. “Kita membutuhkan mitra, bukan protektorat,” tambahnya. “Kita tidak memiliki aliansi yang kuat kecuali semua orang memiliki peran serta. Tidak ada yang numpang gratis.”
Hegseth memuji kontribusi dari sekutu termasuk Korea Selatan, Filipina, Australia, Singapura, Malaysia, dan Thailand, dan mengatakan Jepang mengambil langkah konkret untuk memperkuat pertahanannya.
Tokyo dan Washington “harus masing-masing memberikan kontribusi untuk memperkuat aliansi AS-Jepang,” katanya.
Mengenai konflik Timur Tengah, Hegseth mengatakan Amerika Serikat siap untuk melanjutkan serangan terhadap Iran jika diplomasi gagal, karena para negosiator dari Washington dan Teheran berupaya menjembatani perbedaan besar yang menghalangi kesepakatan.
“Kemampuan kita untuk memulai kembali jika perlu... kita lebih dari mampu,” kata Hegseth. Ia menambahkan bahwa Trump tetap “sabar” dan berupaya mencapai “kesepakatan yang kuat” untuk memastikan Iran tidak memperoleh senjata nuklir.
Trump mengatakan pada hari Jumat bahwa ia akan mengumpulkan para penasihat di lingkungan Gedung Putih yang aman untuk membuat “keputusan akhir” tentang proposal untuk mengakhiri perang Iran.
Hegseth juga menepis kekhawatiran bahwa konflik tersebut akan mengalihkan perhatian dari prioritas Asia-Pasifik.
“Kita bisa melakukan dua hal sekaligus.”
Ditanya tentang penjualan senjata ke Taiwan, Hegseth meremehkan kekhawatiran bahwa paket bernilai miliaran dolar dapat terpengaruh karena Amerika Serikat mengurangi persediaan senjatanya di tengah konflik Timur Tengah. “Kami merasa sangat yakin dengan persediaan kami dan bagaimana kami menggunakannya,” katanya.
Taiwan, yang dianggap China sebagai wilayahnya sendiri, telah menunggu persetujuan AS untuk penjualan senjata yang menurut laporan Reuters bisa bernilai hingga $14 miliar.
Trump menabur ketidakpastian di Taipei dengan mengatakan, setelah bertemu dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping bulan ini, bahwa ia belum memutuskan apakah akan menyetujui paket tersebut.
Keputusan apa pun tentang penjualan senjata di masa depan akan bergantung pada Presiden Trump, kata Hegseth, yang menandakan tidak ada perubahan dalam pendekatan Washington yang sudah lama ada meskipun ada keterlibatan baru-baru ini dengan Beijing.
“Keputusan-keputusan itu akan bergantung pada presiden dan sifat hubungan tersebut,” kata Hegseth. “Tidak ada perubahan dalam pernyataan kami.”
Demi Gencatan Dagang Berlanjut, China Beri Sinyal Terima Kenaikan Tarif AS
China memberikan sinyal bersedia menerima sejumlah kenaikan tarif impor dari Amerika Serikat (AS) sejauh tidak melampaui level yang telah disepakati kedua negara... | Halaman Lengkap [457] url asal
#perang-dagang #china #amerika-serikat #tarif-trump #perang-dagang-as-dan-china
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 21/05/26 07:58
v/227198/
BEIJING - China memberikan sinyal bersedia menerima sejumlah kenaikan tarif impor dari Amerika Serikat (AS) sejauh tidak melampaui level yang telah disepakati kedua negara tahun lalu. Langkah kompromi ini diambil demi melanjutkan pembicaraan guna memperpanjang masa gencatan senjata dagang, sekaligus menjadi indikasi bahwa hubungan antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia tersebut kian stabil."Kami berharap AS akan menghormati komitmennya dan bahwa, terlepas dari alasan apa pun yang diberikan untuk memberlakukan atau mengganti tarif terhadap China di masa depan, tingkat tarif AS terhadap China tidak akan melebihi tingkat yang disepakati," demikian pernyataan resmi Kementerian Perdagangan China dikutip dari Bloomberg, Kamis (21/5/2026).
Hal itu merujuk pada hasil negosiasi di Kuala Lumpur, Malaysia, Oktober tahun lalu. Kementerian Perdagangan China menambahkan, tim perdagangan dari kedua negara akan segera menggelar diskusi untuk memperpanjang perjanjian satu tahun yang telah dirumuskan sebelumnya.
Kesepakatan menyeluruh yang sempat diumumkan pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Pemimpin Negara di Busan, Korea Selatan tersebut, sukses menangguhkan sejumlah pemberlakuan tarif, pembatasan tanah jarang (rare earth), serta penyelidikan terhadap galangan kapal China hingga November tahun ini.
Menurut pihak kementerian, upaya untuk memperpanjang masa gencatan senjata ini selaras dengan kepentingan bersama kedua negara, sekaligus menjawab ekspektasi dari komunitas internasional. Pernyataan tersebut membawa angin segar dan optimisme hati-hati bahwa penghentian permusuhan dagang yang digagas Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump akan tetap bertahan, meskipun kunjungan Trump ke Beijing pekan lalu sempat diwarnai peringatan keras terkait isu Taiwan.
Sinyal dari Kementerian Perdagangan China ini mengindikasikan bahwa Beijing bersedia melunak menerima tarif AS, asalkan tarif efektifnya berada di kisaran 30% sesuai kesepakatan di Malaysia. Angka tarif tersebut sebelumnya sempat turun ke kisaran 21% setelah Mahkamah Agung (MA) AS membatalkan beberapa kebijakan tarif.
Di sisi lain, pemerintahan Trump dilaporkan sedang mengupayakan penyelidikan baru berbasis Pasal 301 (Section 301) untuk mengembalikan besaran tarif ke level semula sebelum adanya putusan pengadilan.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan, tarif-tarif tersebut kemungkinan besar akan dipulihkan paling lambat pada Juli mendatang, sebuah rencana investigasi yang sempat ditentang keras oleh Menteri Perdagangan China Wang Wentao. Dalam pernyataan lanjutan pada Rabu, Beijing juga mendesak AS untuk menghapus tarif unilateral demi menciptakan kondisi yang kondusif bagi perluasan kerja sama ekonomi dan perdagangan kedua belah pihak di masa depan.
Pasar saham China langsung bereaksi positif. Indeks acuan CSI 300 berhasil menghapus kerugian yang terjadi sebelumnya dan menutup perdagangan harian dengan posisi yang stabil. Selain kesepakatan tarif, Kementerian Perdagangan China turut membeberkan sejumlah poin kesepakatan lain, termasuk pembelian 200 pesawat Boeing oleh China dan pembentukan mekanisme kelembagaan untuk mengelola diskusi bilateral terkait perdagangan dan investasi.
Dewan Perdagangan juga mengonfirmasi akan mengupayakan pemotongan tarif pada komoditas senilai minimal USD30 miliar atau sekitar 7% dari total ekspor China ke AS tahun lalu, sekaligus menetapkan target untuk memperluas perdagangan sektor pertanian bilateral.
Pertemuan Xi Jinping dan Trump Gagal Buat Terobosan Perang Iran, Ini 3 Faktanya
Selama berminggu-minggu menjelang kunjungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke Beijing, pemerintahannya telah menekan China untuk menekan Iran di tengah negosiasi... | Halaman Lengkap [1,094] url asal
#konflik-as-vs-china #as-vs-china-memanas #perang-dagang-as-dan-china #perang-nuklir-as-vs-china #perang-as-vs-iran
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 16/05/26 17:07
v/222482/
WASHINGTON - Selama berminggu-minggu menjelang kunjungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke Beijing, pemerintahannya telah menekan China untuk menekan Iran di tengah negosiasi yang bertujuan mencapai kesepakatan damai antara Washington dan Teheran.Namun, ketika Trump meninggalkan Beijing pada Jumat sore dengan pesawat Air Force One setelah lebih dari 40 jam berada di ibu kota China dan serangkaian pertemuan dengan Presiden Xi Jinping, hanya ada sedikit bukti bahwa dua negara terkuat di dunia telah mencapai kesepakatan tentang bagaimana mengakhiri perang di Iran.
Sementara itu, perang itu sendiri sekarang memasuki hari ke-77.
Pertemuan Xi Jinping dan Trump Gagal Buat Terobosan Perang Iran, Ini 3 Faktanya
1. China Tetap Setia kepada Iran
Melansir Al Jazeera, perang di Iran dimulai pada 28 Februari ketika AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran di tengah pembicaraan antara Washington dan Teheran mengenai program nuklir Iran. Iran membalas pada hari yang sama dengan serangan rudal dan drone di seluruh wilayah, termasuk target di Israel serta aset militer AS di Bahrain, Kuwait, Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab.Pemerintahan Trump bersikeras bahwa perang tersebut dibenarkan, dan bertujuan untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir — meskipun Teheran telah berulang kali secara terbuka mengatakan bahwa mereka tidak berniat untuk membangunnya.
Namun China, yang sebelumnya juga mengutuk perang tersebut, semakin mempertegas penentangannya terhadap konflik tersebut, dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan saat Trump berada di Beijing.
“Posisi China mengenai situasi Iran sangat jelas. Konflik tersebut telah menimbulkan kerugian besar bagi rakyat di Iran dan negara-negara regional lainnya,” kata Kementerian Luar Negeri China dalam sebuah pernyataan yang diposting di akun X-nya.
Lebih dari 3.000 warga Iran telah tewas selama perang tersebut, menurut angka pemerintah.
“Menemukan cara untuk menyelesaikan situasi ini sedini mungkin adalah kepentingan bukan hanya AS dan Iran, tetapi juga negara-negara regional dan seluruh dunia,” kata pernyataan Tiongkok.
Pernyataan itu menambahkan bahwa China menyambut baik upaya gencatan senjata yang sedang berlangsung — yang dimediasi oleh Pakistan — dan percaya bahwa dialog adalah jalan ke depan. “Penting untuk mencapai gencatan senjata yang komprehensif dan langgeng sesegera mungkin,” tambah pernyataan itu.
Pernyataan itu menunjuk pada rencana empat poin untuk perdamaian dan stabilitas Timur Tengah yang sebelumnya diajukan Xi, yang menyerukan hidup berdampingan secara damai, penyelesaian yang dinegosiasikan secara politik, keamanan bersama, dan kerja sama yang didorong oleh pembangunan. Ditambahkan bahwa Tiongkok akan terus bertindak sesuai dengan rencana ini.
2. Kesepakatan Tercapai Mengenai Selat Hormuz
Gedung Putih mengatakan dalam sebuah pernyataan, yang diposting di akun X-nya pada hari Kamis: “Kedua pihak sepakat bahwa Selat Hormuz harus tetap terbuka untuk mendukung arus energi yang bebas.”Sejak awal Maret, Iran telah membatasi pengiriman melalui selat tersebut, jalur air sempit yang menghubungkan produsen minyak Teluk dengan laut lepas dan yang dilalui oleh 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia sebelum perang. Iran telah mengizinkan kapal dari negara-negara tertentu untuk melintas, tetapi mereka diharuskan untuk bernegosiasi transit dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Dalam proposal sebelumnya untuk mengakhiri perang, Iran telah mengusulkan pengenaan biaya atau tol bagi kapal yang ingin melewati negara tersebut. Washington telah berulang kali menolak prospek tersebut. Pada bulan April, AS mengumumkan blokade angkatan laut terhadap kapal yang memasuki atau meninggalkan pelabuhan Iran, yang semakin menambah gangguan pasokan minyak dan gas global.
Pernyataan Gedung Putih menambahkan: “Presiden Xi juga memperjelas penentangan China terhadap militerisasi Selat dan setiap upaya untuk mengenakan tol atas penggunaannya, dan beliau menyatakan minat untuk membeli lebih banyak minyak Amerika untuk mengurangi ketergantungan China pada Selat di masa mendatang.”
Dalam pernyataannya, Kementerian Luar Negeri China mengakui bahwa “konflik tersebut telah memberikan tekanan berat pada pertumbuhan ekonomi global, rantai pasokan, tatanan perdagangan internasional, dan stabilitas pasokan energi global, yang merugikan kepentingan bersama komunitas internasional”.
Namun pernyataan China tidak menyebutkan pungutan tol Iran atau militerisasi selat tersebut.
Pertemuan Trump-Xi terjadi di tengah krisis energi global yang dipicu oleh penutupan Selat Hormuz. China adalah salah satu negara yang sangat bergantung pada minyak Teluk yang dikirim melalui selat tersebut, dan merupakan pembeli utama minyak Iran.
3. AS dan China Sepakat Iran Seharusnya Tak Memiliki Senjata Nuklir
“Kedua negara sepakat bahwa Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir,” kata Gedung Putih dalam pernyataannya.Pernyataan China tidak secara eksplisit menyebutkan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Sebaliknya, pernyataan itu mengatakan: “Penting untuk menjaga momentum dalam meredakan situasi, tetap pada arah penyelesaian politik, terlibat dalam dialog dan konsultasi, dan mencapai penyelesaian tentang masalah nuklir Iran dan masalah lain yang mengakomodasi kekhawatiran semua pihak.”
Iran tidak pernah secara resmi menyatakan niat untuk mengembangkan senjata nuklir, dan China sebelumnya telah bekerja sama dengan AS, negara-negara Eropa, dan Rusia dalam mengamankan kesepakatan nuklir era Barack Obama dengan Iran, yang bertujuan untuk membatasi program nuklir Teheran. Iran diyakini memiliki sekitar 440 kg (970 lb) uranium yang diperkaya hingga 60 persen. Ambang batas 90 persen uranium yang diperkaya diperlukan untuk menghasilkan senjata nuklir.
Apa artinya ini?
Pernyataan yang dikeluarkan oleh kedua belah pihak menunjukkan bahwa, pada intinya, tidak ada pihak yang bergeser dari posisi awal mereka terhadap Iran. China telah memperjelas bahwa mereka akan tetap berpegang pada rencana empat poin Xi, sementara AS telah menegaskan kembali penentangannya terhadap program nuklir Iran.
Itu bukan yang diinginkan AS, menurut pernyataan publik para pemimpinnya.
Setelah mendorong China selama berminggu-minggu untuk mengambil peran yang lebih aktif dalam meyakinkan Iran untuk membuka Selat Hormuz, para pejabat pemerintahan Trump — menjelang KTT — mengatakan bahwa mereka tidak membutuhkan bantuan Beijing.
Berbicara kepada wartawan pada hari Selasa, Trump mengatakan, “Saya “Saya rasa kita tidak membutuhkan bantuan apa pun dengan Iran,” dan mengatakan bahwa AS akan memenangkan perang “dengan cara apa pun”. Pada hari Selasa, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth juga memberikan kesaksian dalam sidang di Capitol Hill mengenai perang melawan Iran dan biaya yang terus meningkat. Selama kesaksiannya, ia mengatakan bahwa China memiliki “banyak pengaruh” atas Iran. Namun, ia mengakui bahwa, “Saya pikir pengaruh terbesar ada di tangan Presiden Trump.”
Tetapi baik sebelum maupun selama KTT, pejabat senior lainnya di pemerintahan Trump lebih langsung dalam permintaan mereka kepada China.
“Serangan dari Iran telah menutup selat. Kita membukanya kembali.” “Jadi saya mendesak Tiongkok untuk bergabung dengan kami dalam mendukung operasi internasional ini,” kata Menteri Keuangan AS Scott Bessent pekan lalu.
Dan pada hari Kamis, saat berada di Tiongkok, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan Washington akan mendorong Beijing untuk berbuat lebih banyak — sambil menegaskan bahwa AS tidak membutuhkan bantuan Tiongkok.
“Adalah kepentingan mereka untuk menyelesaikan ini,” kata Rubio, merujuk pada China dan ketergantungannya pada Selat Hormuz sebagai jalur impor energi. “Kami berharap dapat meyakinkan mereka untuk memainkan peran yang lebih aktif dalam membuat Iran menghentikan apa yang mereka lakukan sekarang dan coba lakukan sekarang di Teluk Persia.”
Pakar Militer Ini Sebut AS Tak Siap Perang Melawan China
Operasi Epic Fury mungkin telah dihentikan sementara dengan gencatan senjata yang goyah dengan Iran, tetapi AS telah menghabiskan lebih dari setengah amunisi pra-perangnya.... | Halaman Lengkap [421] url asal
#as-vs-china-memanas #konflik-as-vs-china #perang-nuklir-as-vs-china #perang-dagang-as-dan-china #perang-as-vs-iran
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 29/04/26 06:19
v/205870/
WASHINGTON - Operasi Epic Fury mungkin telah dihentikan sementara dengan gencatan senjata yang goyah dengan Iran , tetapi AS telah menghabiskan lebih dari setengah amunisi pra-perangnya. Itu terungkap dalam laporan terbaru dari Center for Strategic and International Studies (CSIS).AS banyak menggunakan persediaan rudal Tomahawk, Patriot, dan rudal lainnya dalam 39 hari pertama perang gabungan dengan Israel melawan Iran, menurut CSIS. Mengisi kembali persediaan tersebut dapat memakan waktu satu hingga empat tahun.
Apa akibatnya?
Mark Cancian, mantan pejabat Pentagon, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa para perencana perang AS – yang bahkan sebelum perang percaya bahwa “persediaan tidak memadai untuk perang dengan China” – sekarang “cukup cemas”.
“Jadi ada celah kerentanan di sini. Kita memang memiliki beberapa amunisi yang berlimpah, jadi bukan berarti kita akan melempar batu ke musuh. Tetapi itu bukanlah amunisi pilihan,” kata Cancian, yang ikut menulis laporan CSIS.
Pada saat yang sama, ia menambahkan, “Amerika Serikat telah menunjukkan apa yang dapat dilakukan militernya” dalam menyerang Iran.
Calon musuh “harus melihat ini dan bertanya-tanya apakah militer AS mungkin lebih tangguh daripada yang mereka kira sebelumnya,” kata Cancian.
Sebelumnya, Presiden Donald Trump mengkritik Kanselir Jerman Friedrich Merz atas perang di Iran setelah Merz mengatakan bahwa Iran mempermalukan Amerika Serikat dalam pembicaraan untuk mengakhirinya.
“Kanselir Jerman, Friedrich Merz, berpikir tidak apa-apa bagi Iran untuk memiliki Senjata Nuklir. Dia tidak tahu apa yang dia bicarakan!” Trump menulis dalam sebuah unggahan di Truth Social.
Merz mengatakan Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.
Dalam teguran yang luar biasa tajam atas konflik tersebut, Merz mengatakan pada hari Senin bahwa kepemimpinan Iran mempermalukan Amerika Serikat dan membuat para pejabat AS melakukan perjalanan ke Pakistan dan kemudian pergi tanpa hasil.
Merz juga mengatakan dia tidak melihat strategi keluar apa yang dikejar AS dalam perang Iran – komentar yang menggarisbawahi perpecahan mendalam antara Washington dan sekutu NATO Eropa-nya, yang telah memburuk atas Ukraina dan masalah lainnya.
Kemudian, tingkat persetujuan Presiden Trump telah merosot ke level terendah dalam masa jabatannya saat ini, karena warga Amerika semakin kecewa dengan penanganannya terhadap biaya hidup dan perang yang tidak populer dengan Iran.
Menurut jajak pendapat Reuters/Ipsos terbaru, 34 persen warga Amerika menyetujui kinerja Trump di Gedung Putih, turun dari 36 persen dalam survei sebelumnya.
Posisi Trump di mata publik AS cenderung menurun sejak menjabat pada Januari 2025, ketika 47 persen warga Amerika memberikan dukungan kepadanya.
Popularitasnya telah merosot sejak AS dan Israel melancarkan perang melawan Iran pada 28 Februari, yang menyebabkan lonjakan harga bensin.
Hanya 22 persen responden jajak pendapat yang menyetujui kinerja Trump dalam hal biaya hidup, turun dari 25 persen.
China Mengangkangi Tarif Trump, Surplus Perdagangan Cetak Rekor Rp19.886 Triliun
China melaporkan surplus perdagangan terbesar di dunia yakni mencapai USD1,19 triliun atau setara Rp19.886 triliun di tengah tarif Trump. Ekspor China menyentuh... | Halaman Lengkap [389] url asal
#tarif-trump #tarif-resiprokal-trump #china #ekonomi-china #perang-dagang-as-dan-china
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 14/01/26 21:55
v/103753/
JAKARTA - Ekspor China menyentuh angka tertinggi sepanjang masa pada tahun 2025, ketika tarif dan kebijakan perdagangan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memicu gejolak ekonomi global. China melaporkan surplus perdagangan terbesar di dunia yakni mencapai USD1,19 triliun atau setara Rp19.886 triliun (dengan kurs Rp16.711 per USD).Ini menjadi pertama kalinya surplus perdagangan China selama satu tahun penuh melewati angka USD1 triliun, mengalahkan rekor tahun 2024 sebesar USD993 miliar. Kondisi tersebut seakan menjadi tanda bahwa tarif Trump hampir tidak memengaruhi perdagangan secara keseluruhan.
Ekspor China Bangkit, Surplus Perdagangan Melesat Tembus Rp16.693 Triliun
Perdagangan dengan AS memang menunjukkan pelemahan, namun hal itu diimbangi oleh kenaikan ekspor China ke tempat lain, terutama ke Asia Tenggara, Afrika, dan Amerika Latin. Wakil direktur Bea Cukai China, Wang Jun dalam konferensi pers pada hari Rabu (14/1/2026) mengatakan, bahwa angka-angka tersebut sangat "luar biasa dan diperoleh dengan susah payah" mengingat tantangan dalam perdagangan global.
Ia juga mencatat adanya kenaikan ekspor untuk sektor teknologi hijau, produk terkait kecerdasan buatan, dan robotika. Surplus besar ditopang oleh kuatnya permintaan luar negeri terhadap barang-barang China seiring meningkatnya perdagangan dengan mitra global termasuk negara-negara Asia Selatan serta negara-negara lain di Afrika dan Eropa, ketika pasar domestik melemah.
Ekonomi China seperti diketahui telah terbebani oleh krisis properti dan meningkatnya utang, yang membuat pelaku bisnis ragu untuk menanamkan investasi. Di sisi lain konsumen lebih berhati-hati dalam berbelanja. Akibatnya kebutuhan impor barang berkurang, dimana menurut data terbaru hanya naik sebesar 0,5%.
Trump Ancam Tarif 25% ke Negara Mitra Iran, China Murka Beri Peringatan Keras
Sementara itu yuan tidak bertenaga, pasokan barang melimpah, dan inflasi di negara-negara Barat juga membuat ekspor China lebih menarik. Hasilnya menjadi berkah bagi Beijing, seperti diungkapkan oleh analis kebijakan perdagangan Deborah Elms dari Hinrich Foundation seperti dilansir BBC.
China mendapatkan manfaat dari penjualan dan lebih banyak lapangan kerja yang tercipta dari bisnisnya di luar negeri. "Akan tetapi produk China bisa menghadapi pengetatan pengawasan dari pasar asing yang berada di bawah tekanan untuk bersaing dengan produknya," katanya.
Keberhasilan China kemungkinan akan berlanjut pada tahun 2026 saat barang dan jasa China menjadi semakin terintegrasi dalam bisnis global, lanjut Elms.
Angka terbaru ini akan dilihat Beijing sebagai tanda bahwa China memiliki pelanggan di seluruh dunia, selain AS. Akan tetapi Wang memperingatkan, bahwa China menghadapi lingkungan eksternal yang tidak pasti.
6 Cara China Mempemalukan AS Tanpa Senjata dan Perang pada 2025
Surplus perdagangan China – selisih antara nilai barang yang diimpor dan diekspor – telah mencapai USD1 triliun untuk pertama kalinya. Itu merupakan sebuah... | Halaman Lengkap [895] url asal
#china #as-vs-china-memanas #konflik-as-vs-china #perang-nuklir-as-vs-china #perang-dagang-as-dan-china
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 11/12/25 03:30
v/68476/
BEIJING - Surplus perdagangan China – selisih antara nilai barang yang diimpor dan diekspor – telah mencapai USD1 triliun untuk pertama kalinya. Itu merupakan sebuah tolok ukur penting dalam peran negara tersebut sebagai "pabrik dunia", yang memproduksi segala sesuatu mulai dari kaus kaki dan tirai hingga mobil listrik. Itu menunjukkan cara terbaik China mempermalukan AS.6 Cara China Mempemalukan AS Tanpa Senjata dan Perang pada 2025
1. Ekspor China Meningkat Tajam
Selama 11 bulan pertama tahun ini, ekspor China meningkat menjadi USD3,4 triliun sementara impornya sedikit menurun menjadi USD2,3 triliun. Hal itu membuat surplus perdagangan negara tersebut mencapai sekitar USD1 triliun. Itu diungkapkan Administrasi Umum Bea Cukai China pada hari Senin.Pengiriman barang ke luar negeri dari China telah meningkat pesat meskipun ada perang dagang global Presiden AS Donald Trump, yang sebagian besar terdiri dari tarif "timbal balik" yang luas terhadap sebagian besar negara, yang diluncurkan awal tahun ini dalam upaya untuk mengurangi defisit perdagangan AS.
Namun, China, yang awalnya terkena tarif AS sebesar 145 persen sebelum diturunkan untuk memungkinkan perundingan perdagangan, sebagian besar lolos dari kebuntuan tersebut dengan meningkatkan pengiriman ke pasar di luar AS.
2. China Sudah Mendiversifikasi Pasar Ekspornya
Setelah kemenangan Trump dalam pemilihan presiden 2024, China mulai mendiversifikasi pasar ekspornya dari AS sebagai imbalan atas hubungan yang lebih dekat dengan Asia Tenggara dan Uni Eropa. Mereka juga membangun pusat produksi baru di luar Tiongkok untuk akses tarif rendah.Ekspor China kembali tumbuh bulan lalu setelah penurunan yang tidak terduga pada bulan Oktober, naik menjadi 5,9 persen lebih tinggi dari tahun sebelumnya dan jauh melampaui kenaikan impor sebesar 1,9 persen, menurut Administrasi Umum Bea Cukai Tiongkok.
Surplus barang China untuk 11 bulan pertama tahun 2025 naik 21,7 persen dari periode yang sama tahun lalu. Sebagian besar lonjakan tersebut didorong oleh pertumbuhan yang kuat dalam barang-barang berteknologi tinggi, yang melampaui peningkatan ekspor secara keseluruhan sebesar 5,4 persen.
3. Otomotif China Mengalahkan Jepang dan Jerman
Ekspor otomotif, terutama kendaraan listrik, meningkat pesat karena perusahaan-perusahaan China merebut pangsa pasar Jepang dan Jerman. Total pengiriman mobil melonjak lebih dari satu juta menjadi sekitar 6,5 juta unit tahun ini, menurut data dari perusahaan konsultan yang berbasis di China, Automobility.Dan meskipun China masih tertinggal dari pemimpin AS seperti Nvidia dalam chip canggih, negara ini menjadi dominan dalam produksi semikonduktor (digunakan dalam segala hal mulai dari mobil listrik hingga perangkat medis). Ekspor semikonduktor meningkat sebesar 24,7 persen selama periode tersebut.
Kemajuan teknologi China juga telah mendorong industri pembuatan kapal, di mana ekspor meningkat 26,8 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2024.
Meskipun Washington telah menurunkan tarif impor China dalam beberapa bulan terakhir, tarif tersebut tetap tinggi. Bea masuk rata-rata untuk barang-barang Tiongkok saat ini mencapai 37 persen. Karena alasan ini, pengiriman barang China ke AS telah turun 29 persen secara tahunan hingga November.
4. Memindahkan Fasilitas Produksi ke Asia Tenggara
Beberapa perusahaan China telah memindahkan fasilitas produksi mereka ke Asia Tenggara, Meksiko, dan Afrika, sehingga memungkinkan mereka untuk menghindari tarif Trump atas barang-barang yang datang langsung dari Tiongkok. Meskipun demikian, perdagangan secara keseluruhan antara kedua negara tetap menurun.Sebagai contoh, dalam delapan bulan pertama tahun ini, AS mengimpor barang senilai sekitar USD23 miliar dari Indonesia, peningkatan hampir sepertiga dibandingkan periode yang sama pada tahun 2024. Secara umum dipahami bahwa peningkatan ini disebabkan oleh pengalihan barang-barang China melalui Indonesia.
“Peran pengalihan perdagangan dalam mengimbangi dampak negatif dari tarif AS tampaknya masih meningkat,” tulis Zichun Huang, seorang ekonom di Capital Economics, dalam catatan kepada kliennya pada hari Senin. Huang menambahkan bahwa “ekspor ke Vietnam, pusat pengalihan [barang China] utama, terus tumbuh pesat.”
Seiring melambatnya perdagangan dengan AS, China semakin gencar mengembangkan hubungan dengan mitra dagang utama lainnya. Hal ini termasuk peningkatan 15 persen dalam pengiriman barang China ke Uni Eropa, dibandingkan tahun sebelumnya, dan peningkatan 8,2 persen dalam ekspor ke negara-negara di Asia Tenggara.
5. Mata Uang China yang Lebih Lemah
Alasan lain keberhasilan perdagangan China adalah mata uangnya yang relatif murah dibandingkan mata uang lainnya dalam beberapa tahun terakhir. Nilai tukar renminbi yang lebih rendah membuat ekspor relatif murah untuk diproduksi, dan impor relatif mahal untuk dikonsumsi.China menerapkan "pengambangan terkendali" pada renminbi – artinya bank sentral melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk mempertahankan nilainya terhadap mata uang lain – dengan tujuan menjaga stabilitas harga.
Selama bertahun-tahun, banyak ekonom berpendapat bahwa mata uang China undervalued (nilai tukarnya lebih rendah dari seharusnya). Menurut mereka, hal itu memberikan keunggulan kompetitif bagi eksportir dengan meningkatkan daya tarik produk-produk murah China dengan mengorbankan negara lain, yang menyebabkan ketidakseimbangan perdagangan yang besar.
Memang, dengan mempertimbangkan dinamika inflasi global, nilai tukar efektif riil – ukuran daya saing barang-barang China – sebenarnya berada pada level terlemahnya sejak tahun 2012.
6. China Mendominasi Perdagangan Logam Tanah Jarang
China juga mendominasi perdagangan logam tanah jarang, yang sangat penting untuk pembuatan berbagai macam barang, mulai dari ponsel pintar hingga pesawat tempur.Dua belas dari 17 logam tanah jarang dalam tabel periodik dapat ditemukan di China, dan negara ini menambang antara 60 persen dan 70 persen dari sumber daya logam tanah jarang dunia. Selain itu, China juga melakukan 90 persen pengolahan logam-logam ini untuk penggunaan komersial.
Sebagai konteks historis, surplus perdagangan barang manufaktur China lebih besar sebagai bagian dari perekonomiannya daripada surplus yang dimiliki AS pada tahun-tahun setelah Perang Dunia II, ketika sebagian besar negara manufaktur lainnya sedang bangkit dari reruntuhan perang.
Trump Puji Pertemuan dengan Xi Jinping sebagai Langkah Menuju Perdamaian Abadi
Presiden AS Donald Trump mengatakan pertemuannya dengan mitranya dari China, Xi Jinping, awal pekan ini akan membuka jalan bagi perdamaian abadi antara kedua negara.... | Halaman Lengkap [272] url asal
#donald-trump #amerika-serikat #konflik-as-vs-china #as-vs-china-memanas #perang-dagang-as-dan-china
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 02/11/25 15:47
v/24491/
WASHINGTON - Presiden AS Donald Trump mengatakan pertemuannya dengan mitranya dari China, Xi Jinping, awal pekan ini akan membuka jalan bagi perdamaian abadi antara kedua negara. Itu bisa menjadi sinyal positif bagi geopolitik.Kedua pemimpin bertemu untuk pertama kalinya dalam enam tahun pada hari Kamis di sela-sela KTT APEC di Busan, Korea Selatan. Beijing mengatakan mereka mencapai konsensus untuk menyelesaikan "masalah perdagangan utama."
China setuju untuk menangguhkan kontrol ekspor logam tanah jarang terbarunya dengan imbalan pemotongan tarif timbal balik dari AS. Perjanjian tersebut juga mencakup janji AS untuk mengurangi tarif impor China dan menangguhkan investigasi terhadap sektor maritim dan logistik Beijing.
"Pertemuan G2 saya dengan Presiden Xi dari China merupakan pertemuan yang luar biasa bagi kedua negara kita," tulis Trump di Truth Social pada hari Sabtu, dilansir RT.
"Pertemuan ini akan membawa perdamaian dan kesuksesan abadi. Tuhan memberkati China dan AS!"
Hubungan bilateral telah tegang akibat ketegangan perdagangan selama bertahun-tahun yang dimulai ketika Trump memberlakukan tarif besar-besaran terhadap barang-barang China selama masa jabatan pertamanya.
Berdasarkan kesepakatan baru, AS akan menurunkan tarif produk Tiongkok dari 57% menjadi 47% dan menangguhkan pembatasan ekspor yang menargetkan beberapa perusahaan China. AS juga akan mengurangi tarif terkait fentanil, sementara China menyesuaikan langkah-langkah pembalasannya.
Beijing mengatakan akan mencabut pembatasan ekspor logam tanah jarang selama satu tahun sementara mempelajari rencana jangka panjangnya.
Material yang digunakan dalam elektronik dan teknologi militer menjadi sasaran setelah AS memperketat kontrolnya sendiri terhadap ekspor semikonduktor canggih dan peralatan pembuat cip.
China juga setuju untuk melanjutkan pembelian kedelai AS dan produk pertanian lainnya, yang sempat terhenti selama ketegangan perdagangan baru-baru ini, sementara sebagian besar pembatasan perdagangan lainnya tetap berlaku.
Ini Penyebab Perang Dagang AS dan China Memanas Lagi Menurut Ekonom
Meningkatnya ketegangan antara AS dan China selama akhir pekan menjadi sorotan dunia. [803] url asal
#donald-trump #logam-tanah-jarang #perang-dagang-amerika-serikat-dan-china #perang-dagang-as-dan-china #tarif-100-persen
(Kompas.com - Money) 14/10/25 05:35
v/2205/
NEW YORK, KOMPAS.com - Meningkatnya ketegangan antara AS dan China selama akhir pekan menjadi sorotan dunia.
Dikutip dari CNBC, Selasa (14/10/2025), perang dagang Amerika Serikat dan China menggarisbawahi semakin dalamnya ketidakpercayaan yang memecah belah dua ekonomi terbesar dunia tersebut.
Dalam dua hari setelah mengakhiri periode liburan Golden Week pada Rabu (8/10/2025), China mengumumkan pembatasan ekspor logam tanah jarang.
SHUTTERSTOCK Ilustrasi perang dagang AS dan China.Tidak hanya itu, China memasukkan lebih banyak perusahaan AS ke dalam daftar hitam dan mengenakan tarif kepada kapal-kapal yang terkait dengan AS untuk bersandar di pelabuhan-pelabuhan China.
Presiden AS Donald Trump kemudian mengancam akan mengenakan tarif 100 persen lebih tinggi untuk barang-barang dari China.
Langkah ini kemudian dibalas oleh China, yang menyatakan bahwa pembatasan tanah jarang yang dilakukannya merupakan tindakan yang "sah".
Lalu, apa penyebab perang dagang AS dan China kian memanas?
"Akar penyebab ketegangan ini adalah kurangnya rasa saling percaya," ujar Larry Hu, kepala ekonom China di Macquarie, dalam catatannya.
"Selama perundingan di London pada bulan Juni, kedua negara menyetujui kesepakatan yang melibatkan 'tanah jarang untuk teknologi,'" ujarnya.
"Tidak mengherankan, keduanya merasa dikhianati ketika mereka menganggap pihak lain bertindak dengan itikad buruk," tutur Hu.
Hu menjelaskan, neningkatnya ketegangan perdagangan merupakan akibat dari salah persepsi di kedua belah pihak.
Menurut dia, Beijing mungkin merasa perlu menanggapi aturan baru AS yang dirilis pada 29 September 2025 yang memperluas cakupan kontrol ekspor ke anak perusahaan yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh perusahaan-perusahaan dalam daftar AS.
SHUTTERSTOCK Ilustrasi perang dagang AS-China.Sementara itu, AS kemungkinan melihat perubahan tersebut sebagai penyesuaian teknis.
Di sisi lain, Beijing mungkin menganggap pembatasan logam tanah jarangnya meniru upaya Washington yang luas untuk membatasi akses China ke teknologi canggih.
Adapun persepsi AS adalah bahwa pembatasan tersebut merupakan strategi negosiasi yang bertujuan untuk menciptakan daya tawar sebelum pertemuan potensial antara presiden kedua negara.
Dampaknya pun langsung terasa. Sebagian tercermin dari aksi jual di pasar saham AS pada Jumat (10/10/2025).
“Salah satu aturan dalam paket baru ini mewajibkan perusahaan untuk mendapatkan lisensi dari Kementerian Perdagangan China untuk mengekspor produk yang diproduksi di mana pun di dunia jika produk tersebut mengandung logam tanah jarang China senilai setidaknya 0,1 persen dari nilai produk tersebut,” ujar Gabriel Wildau, direktur pelaksana Teneo.
“Secara teori, aturan ini dapat memaksa perusahaan seperti Nvidia, TSMC, dan Intel untuk mendapatkan izin dari regulator China untuk menjual produk mereka di AS," sebut Wildau.
Wildau menyatakan, aturan China ini dimodelkan berdasarkan ‘aturan produk langsung asing’ milik Departemen Perdagangan AS.
"Yang memberlakukan persyaratan lisensi pada setiap produk yang dibuat dengan teknologi asal AS, di mana pun produk tersebut diproduksi," terangnya.
Bursa saham China melemah pada Senin (13/10/2025) menyusul penurunan pasar saham AS, meskipun indeks berjangka saham AS rebound di tengah harapan ketegangan tidak seburuk yang dikhawatirkan sebelumnya.
"Pada episode spesifik yang menjadi fokus pasar, kedua belah pihak mungkin masih akan kembali berunding untuk menemukan solusi jangka pendek. Namun, itu tidak akan menjadi solusi jangka panjang," tutur Jianwei Xu, ekonom senior untuk China di Natixis.
"Kepercayaan di antara mereka sudah hilang," imbuh dia.
AFP/SAUL LOEB Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengacungkan jempol sambil membawa payung saat akan menaiki pesawat kepresidenan Air Force One untuk berangkat ke Israel, dari Pangkalan Udara Gabungan Saint Andrews di Maryland, Minggu (12/10/2025).Trump telah mengisyaratkan akan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping di KTT APEC di Korea Selatan pada akhir Oktober 2025.
China belum mengonfirmasi atau membantah rencana tersebut.
Pandangan dari dalam negeri China adalah bahwa AS akan mempertahankan tekanannya terhadap negara tersebut, meskipun para pemimpin kedua negara diperkirakan akan bertemu, kata Liu Weidong, peneliti di Institute of American Studies, Chinese Academy of Social Sciences.
"Sejarah telah menunjukkan bahwa tekanan AS tidak efektif, dan hanya akan mengarah pada hubungan yang lebih konfrontatif antara China dan AS," paparnya.
Ia menggambarkan pembatasan ekspor logam tanah jarang terbaru sebagai demonstrasi upaya China untuk memperingatkan perusahaan asing yang "tidak bersahabat" sambil menyambut perusahaan lain.
"Dan sebagai upaya untuk menjaga stabilitas bilateral melalui tindakan pencegahan yang moderat dan terkendali," imbuh Liu.
Trump dan Xi berbicara melalui telepon bulan lalu, tetapi belum bertemu langsung sejak pemimpin AS tersebut memulai masa jabatannya pada Januari 2025.
Trump sebelumnya mengindikasikan bahwa ia mungkin akan mengunjungi China tahun depan, diikuti oleh Xi yang akan berkunjung ke AS.
Kedua negara masih bernegosiasi karena tanggal efektif untuk beberapa langkah yang diumumkan ditetapkan setelah KTT APEC di Korea Selatan, kata Kepala Ekonom China di Nomura, Ting Lu.
“Meskipun ketegangan meningkat, masih ada peluang untuk penyelesaian diplomatik, karena jadwal tersebut menciptakan penyangga strategis: penerapan tarif Trump, yang dijadwalkan pada 1 November, mendahului tenggat waktu Beijing pada 1 Desember untuk pembatasan ekspor logam tanah jarang selama sebulan penuh," paparnya.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56