Bisnis.com, JAKARTA — PT Bach Multi Global Tbk. (BACH), calon emiten penjualan dan penyewaan genset serta jasa konstruksi dan pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi, bersiap melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui penawaran umum perdana saham (IPO) dengan kisaran harga Rp400–Rp500 per saham.
Berdasarkan prospektus perseroan, dalam aksi korporasi tersebut, BACH menawarkan sebanyak 615 juta saham baru atau setara 15,06% dari modal ditempatkan dan disetor setelah IPO.
Saham tersebut akan dilepas dengan harga penawaran di kisaran Rp400 hingga Rp500 per saham.
Dengan demikian, perseroan berpotensi menghimpun dana segar sebesar Rp246 miliar hingga Rp307,5 miliar dari aksi IPO ini.
Berdasarkan prospektus, masa efektif IPO BACH diperkirakan jatuh pada 29 Juni 2026, dengan masa penawaran umum berlangsung pada 1–3 Juli 2026.
Saham perseroan direncanakan resmi tercatat di BEI pada 7 Juli 2026. Bertindak sebagai penjamin efek adalah Erdikha Elit Sekuritas.
Manajemen BACH menjelaskan bahwa dana hasil IPO setelah dikurangi biaya emisi akan dialokasikan untuk dua tujuan utama.
Sekitar Rp91,02 miliar akan digunakan untuk pembayaran sebagian utang kepada PT Bank Permata Tbk, yang berasal dari fasilitas pinjaman jangka panjang Omnibus Revolving Loan dengan penarikan pada periode Januari hingga Maret 2026.
Sementara itu, sisa dana sekitar Rp213,48 miliar akan difokuskan sebagai modal kerja, khususnya untuk pembelian genset yang akan dijual maupun disewakan kepada pelanggan.
Langkah ini diharapkan memperkuat kapasitas operasional perseroan dalam memenuhi permintaan pasar, terutama di sektor penyediaan energi sementara dan dukungan infrastruktur telekomunikasi yang terus berkembang.
Sebagai informasi, calon emiten berkode saham BACH tersebut bergerak di sektor yang dinilai memiliki prospek jangka panjang, seiring meningkatnya kebutuhan listrik cadangan (backup power) dari sektor industri, konstruksi, hingga telekomunikasi.
Selain penjualan, bisnis penyewaan genset menjadi salah satu pendorong pendapatan yang stabil, terutama untuk proyek-proyek jangka pendek dan kebutuhan darurat energi.
_____
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.