Bisnis.com, JAKARTA — Pembangkitan listrik global berbasis bahan bakar fosil tercatat menurun untuk pertama kalinya sejak penutupan Selat Hormuz pada Maret 2026. Penurunan selama periode tersebut ditopang peningkatan pasokan listrik dari energi surya dan angin, alih-alih dari batu bara.
Berdasarkan analisis Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA), pembangkitan listrik berbasis fosil turun 1% secara tahunan (year-on-year/YoY) pada Maret 2026. Penurunan terutama terjadi pada pembangkit gas yang melemah 4% YoY, sementara pembangkitan batu bara relatif stagnan.
Sejalan dengan tren ini, volume pengapalan batu bara turun 3% dan menyentuh level terendah sejak 2021. Realisasi ini kontras dengan ekspektasi pasar yang memperkirakan adanya pertumbuhan permintaan batu bara imbas dari krisis geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Di luar China, pembangkitan bertenaga batu bara turun 3,5% dan gas terkoreksi 4% pada Maret 2026. Kondisi ini tak lepas dari kenaikan energi berbasis surya sebesar 14% dan angin di angka 8%.
Pembangkit bertenaga air juga naik tipis 2%, meski pertumbuhan tersebut terpengaruh penurunan pembangkitan nuklir.
CREA menilai tambahan kapasitas energi terbarukan, terutama surya dan angin, yang mencatat rekor pada 2025 berperan dalam menekan ketergantungan terhadap energi fosil sekaligus meredam dampak gangguan pasokan energi akibat blokade Selat Hormuz.
Lead Analyst CREA Lauri Myllyvirta mengatakan peningkatan energi bersih mampu mengimbangi penurunan pasokan dari pembangkit gas tanpa mendorong peningkatan penggunaan batu bara.
“Kenaikan energi bersih dapat mengkompensasi penurunan pembangkitan bertenaga gas di tengah blokade Selat Hormuz. Kondisi ini juga mencegah lonjakan konsumsi di pembangkit bertenaga batu bara,” katanya dalam keterangan tertulis, Rabu (15/4/2026).
Myllyvirta berpandangan dinamika geopolitik global dapat menjadi momentum untuk mempercepat transisi energi, terutama guna mengurangi risiko gangguan pasokan dan lonjakan harga energi.
Di sisi lain, tren berbeda terjadi di China. Data Dewan Kelistrikan China menunjukkan pembangkitan listrik berbasis batu bara naik 2% pada Maret 2026. Peningkatan tersebut dipicu peralihan dari gas ke batu bara di wilayah pesisir akibat kenaikan harga migas.
Meski demikian, level pembangkitan batu bara di China masih lebih rendah dibandingkan 2024, setelah sebelumnya turun 6% pada Maret 2025.
Secara global, peningkatan kapasitas energi bersih juga menunjukkan peran signifikan dalam sistem energi. Tambahan kapasitas surya dan angin pada 2025 diperkirakan menghasilkan sekitar 1.100 terawatt hour (TWh) listrik per tahun, jauh lebih besar dibandingkan potensi listrik sekitar 590 TWh dari gas alam cair (LNG) yang sebelumnya melintasi Selat Hormuz.
Pada 2025, sekitar 19% perdagangan LNG global atau sekitar 112 miliar meter kubik melewati Selat Hormuz. Volume tersebut setara dengan total produksi listrik tahunan Prancis.