Bisnis.com, JAKARTA — Lonjakan jumlah judul buku dan pertumbuhan penulis baru belum mampu mendorong optimalisasi serapan pasar industri buku nasional, di tengah persoalan distribusi yang tak kunjung dibenahi.
Data Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) mencatat lebih dari 122.000 judul buku diterbitkan sepanjang 2025, dengan sekitar 5.000 entitas penerbit yang mayoritas beroperasi di Pulau Jawa.
Di sisi lain, narasi rendahnya minat baca masih kerap mengemuka. Padahal, tren menunjukkan minat membaca justru meningkat, terutama didorong oleh generasi muda dan pemanfaatan platform digital.
Founder Patjar Merah Windy Ariestanty menilai persoalan utama bukan pada produksi maupun pembaca, melainkan akses distribusi yang terbatas.
“Persoalannya memang dari dulu adalah saluran distribusi yang tidak kunjung dikembangkan,” ujarnya.
Menurutnya, peningkatan jumlah buku bukan sinyal negatif. Kondisi tersebut justru menunjukkan ekosistem penulisan berkembang, dengan variasi bacaan yang semakin beragam.
Namun, distribusi yang tidak merata membuat banyak buku sulit diakses, terutama di luar Pulau Jawa. Akibatnya, potensi pembaca tidak sepenuhnya terjangkau.
Keterbatasan distribusi juga berdampak pada disparitas harga. Buku di luar Jawa bisa lebih mahal hingga 20%–25%, sementara pembelian daring dari Jawa dibebani ongkos kirim tinggi.
“Jadi pembaca di luar Jawa harus membeli beberapa buku sekaligus supaya biaya ongkir masuk akal,” ujar Windy.
Selain itu, Windy menyoroti bias dalam pengukuran literasi. Angka penjualan buku kerap disamakan dengan tingkat membaca masyarakat, padahal tidak selalu berbanding lurus.
Dia menegaskan bahwa membeli, meminjam, dan membaca merupakan aktivitas yang berbeda. Tanpa metode pengukuran yang tepat, potret literasi berisiko tidak akurat.
Pandangan serupa disampaikan penulis Boy Candra. Dia menilai persoalan distribusi dan akses masih menjadi hambatan utama dalam industri buku nasional.
“Akses dan distribusi. Ini selalu jadi masalah menurutku. Aku belum merasa pemerintah serius soal ini. Harga buku di luar Jawa bisa beda cukup tinggi dibanding di Pulau Jawa,” ujarnya.
Boy Candra juga menyoroti ketimpangan infrastruktur literasi, mulai dari terbatasnya toko buku hingga belum meratanya perpustakaan yang mudah diakses.
“Akses masih belum meratanya toko buku juga. Paling banyak toko buku di kota besar. Atau belum meratanya perpustakaan yang lengkap dan mudah diakses,” ujarnya.
Meski kehadiran marketplace dinilai membantu, Boy menilai hal tersebut belum cukup untuk menyelesaikan persoalan mendasar distribusi buku di Indonesia.