Bisnis.com, JAKARTA—Emiten pertambangan logam PT Ifishdeco Tbk. (IFSH) mencatatkan penjualan Rp1 triliun pada 2025 seiring dengan solidnya bisnis nikel dan pasir silika. Ke depan, diharapkan permintaan nikel global tetap kuat sehingga mendorong performa perseroan.
Pada 2025, IFSH membukukan penjualan bersih konsolidasian sebesar Rp1,00 triliun, meningkat 2,90% dibandingkan Rp972,71 miliar pada 2024. Pertumbuhan ini terutama didorong oleh peningkatan produksi dan penjualan silica dari entitas anak, PT Hangtian Nur Cahaya.
Di tengah tantangan fluktuasi harga komoditas, biaya produksi yang variatif, serta dinamika regulasi yang terus berkembang, perseroan mencatat laba kotor sebesar Rp291,25 miliar, turun 3,46%. Namun, kinerja operasional tetap solid dengan laba usaha sebesar Rp149,31 miliar, atau sedikit menurun 1,53% dibandingkan 2024.
Perseroan membukukan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp106,52 miliar, tumbuh 6,40% dari Rp100,11 miliar pada tahun sebelumnya.
Rivka Rotua Natasya, Corporate Secretary IFSH, menegaskan kinerja 2025 mencerminkan ketahanan perseroan dalam menghadapi kompleksitas fundamental bisnis di tengah dinamika industri nikel yang terus berkembang.
“Memasuki 2026, perseroan tetap optimis terhadap pertumbuhan permintaan nikel global yang kuat, didorong oleh ekspansi sektor penyimpanan energi dan kendaraan listrik. Seiring meningkatnya risiko geopolitik yang memengaruhi industri minyak, dorongan terhadap energi bersih dan kemandirian energi menjadi semakin penting,” paparnya dalam keterangan resmi, Kamis (5/3/2026).
Selain itu, IFSH terus mencermati pergerakan Harga Patokan Mineral (HPM) Indonesia yang belakangan menunjukkan tren positif dan berpotensi memperkuat sentimen di sektor nikel nasional.
Dengan struktur permodalan yang semakin solid dan tingkat liabilitas yang menurun, Rivka optimistis IFSH dapat menjaga stabilitas operasional sekaligus menangkap peluang pertumbuhan jangka panjang.
Total aset pada 2025 tercatat sebesar Rp1,06 triliun, meningkat 5,24% dibandingkan posisi akhir 2024 sebesar Rp1,01 triliun. Perseroan berhasil menurunkan total liabilitas menjadi Rp147,62 miliar, turun 13,12% dari Rp169,93 miliar pada tahun sebelumnya, mencerminkan pengelolaan kewajiban dan strategi deleveraging yang lebih konservatif.
Di sisi lain, total ekuitas meningkat menjadi Rp913,16 miliar, atau naik 8,96% dibandingkan Rp838,04 miliar pada 2024. Saldo laba turut menguat 6,85% menjadi Rp733,55 miliar, mencerminkan akumulasi profitabilitas yang berkelanjutan.