Bisnis.com, JAKARTA — Bank Indonesia (BI) melaporkan penjualan eceran terkontraksi sebesar 2,4% secara bulanan (month to month/MtM) pada September 2025, berbalik arah usai mengalami pertumbuhan pada bulan sebelumnya yang capai 0,6% MtM pada Agustus 2025
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menjelaskan bahwa kontraksi itu tercermin dalam survei penjualan eceran (SPE) September 2025.
Sejumlah kelompok yang alami penurunan penjualan yaitu Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau (-2,2% MtM), Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya (-3,4% MtM), serta Subkelompok Sandang (-19,2% MtM).
"Penjualan eceran pada September 2025 terkontraksi sebesar 2,4% MtM terutama dipengaruhi oleh penurunan pada Subkelompok Sandang," jelas Denny dalam keterangannya, Selasa (11/11/2025).
Di samping itu, masih ada sejumlah kelompok yang masih alami peningkatan penjualan, antara lain Kelompok Peralatan Informasi dan komunikasi (1,2% MtM) dan Suku Cadang dan Aksesori (1,4% MtM).
Sementara secara tahunan (year on year/YoY), penjualan eceran mengalami pertumbuhan sebesar 3,7%, lebih tinggi dibandingkan 3,5% YoY pada Agustus 2025. Berdasarkan kelompoknya, terjadi kenaikan penjualan di Kelompok Suku Cadang dan Aksesori (12,4% YoY), Makanan, Minuman, dan Tembakau (5,4% YoY), serta Barang Budaya dan Rekreasi (2,6% YoY).
Proyeksi Oktober Naik
Sementara pada bulan selanjutnya atau Oktober 2025, BI memproyeksikan kinerja penjualan eceran meningkat. Indeks Penjualan Riil (IPR) Oktober 2025 diprakirakan tumbuh sebesar 4,3% YoY, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan sebesar 3,7% YoY pada September 2025.
"Peningkatan penjualan eceran tersebut terutama bersumber dari kenaikan pertumbuhan penjualan Kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau, Barang Budaya dan Rekreasi, serta Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya," ujar Denny.
Pertumbuhan penjualan eceran juga diperkirakan terjadi secara bulanan sebesar 0,6%, didorong oleh kinerja penjualan mayoritas kelompok seiring dengan peningkatan permintaan masyarakat menjelang persiapan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal.
Lebih lanjut, dari sisi harga, diperkirakan terjadi peningkatan tekanan inflasi pada tiga dan enam bulan yang akan datang yaitu Desember 2025 dan Maret 2026.
Potensi peningkatan inflasi tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Desember 2025 (157,2) dan Maret 2026 (172,5), lebih tinggi dibandingkan dengan periode sebelumnya sebesar 134,6 dan 169,2.
"Peningkatan tersebut sejalan dengan kenaikan permintaan saat HBKN Natal 2025 dan HBKN Idulfitri 2026," tutup Denny.