Bisnis.com, JAKARTA — Wacana merger dua perusahaan teknologi Grab Indonesia dengan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) dinilai menjadi tantangan bagi kinerja PT Super Bank Indonesia Tbk. (SUPA) ke depan.
Berdasarkan struktur kepemilikan per 27 November 2025, Grab tercatat sebagai pemegang saham pengendali Superbank melalui PT Kudo Teknologi Indonesia dengan porsi 19,16% dan sejumlah entitas berbasis Singapura. Sementara itu, 31,11% saham lainnya digenggam PT Elang Media Visitama, anak usaha PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. (EMTEK).
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Vinna Rachmawati menilai ekosistem terintegrasi antara Grab, OVO, dan Superbank selama ini menjadi penopang pertumbuhan bisnis perseroan. Produk utama, seperti Tabungan Utama, Saku, Celengan, dan Pinjaman Atur Sendiri (PAS) tercatat mampu tumbuh lebih dari 130% pada periode Desember 2024 hingga Juni 2025.
Namun, ketergantungan yang kuat terhadap ekosistem tersebut juga menjadi risiko terbesar perseroan. Model bisnis Superbank dinilai sangat bergantung pada kemitraan dengan Grab dan OVO, baik untuk distribusi produk maupun pengembangan layanan. Karena itu, setiap dinamika dalam hubungan kemitraan, termasuk potensi merger Grab dengan GOTO, bisa menimbulkan tekanan bagi kinerja Superbank.
"Usaha perseroan dapat terpengaruh oleh rencana apabila terdapat merger antara Grab dengan perusahaan lain. Namun, dampak yang mungkin timbul dari transaksi tersebut terhadap perseroan belum bisa dipastikan," ujar Vinna dalam kanal YouTube Phintraco Sekuritas, dikutip Selasa (9/12/2025).
Ia menambahkan, risiko-risiko tersebut berpotensi mengganggu kemampuan Superbank dalam menjalankan strategi ekspansi, serta menimbulkan dampak material yang merugikan apabila tidak diantisipasi.
Dari sisi kinerja, Superbank mulai mencatatkan keuntungan pada semester I/2025 dengan laba bersih Rp21 miliar. Pencapaian ini berbalik arah setelah perseroan membukukan rugi bersih selama beberapa tahun sebelumnya, termasuk rugi Rp135 miliar pada 2024.
Pendapatan Superbank juga meningkat signifikan menjadi Rp904 miliar per semester I/2025, dari Rp268 miliar pada akhir 2024. Meski demikian, beban pokok penjualan naik tajam menjadi Rp239 miliar, dibandingkan Rp22 miliar pada 2024.
Dari sisi profitabilitas, data Stockbit Sekuritas menunjukkan net interest margin (NIM) Superbank mencapai 10,2 persen pada semester I/2025. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan PT Bank Jago Tbk. (ARTO) yang mencatat 8,4 persen, tetapi masih berada di bawah PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB) dan PT Allo Bank Indonesia Tbk. (BBHI) yang masing-masing mencapai 15,2 persen dan 10,4 persen.
Adapun tingkat efisiensi yang tercermin melalui cost to income ratio (CIR) Superbank berada di level 74,2 persen. Sebagai bank digital yang mengandalkan efisiensi operasional, angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan kompetitor seperti ARTO yang berada di 58,2 persen, BBYB di 30 persen, dan BBHI di sekitar level yang lebih rendah.