Bisnis.com, JAKARTA — Harga saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) turut terkerek usai tersengat aliran dana asing dalam dua pekan terakhir yang mencapai total net buy Rp4,6 triliun.
Analis Mirae Asset Sekuritas, Farras Farhan mengatakan aksi investor asing borong saham BBCA sejak 17 Oktober 2025 menjadi katalis positif untuk pergerakan harga. Adapun, dalam sepekan terakhir periode 27-31 Oktober 2025, asing tercatat membeli bersih saham BBCA sebesar Rp1,6 triliun.
Dia menuturkan harga saham BBCA rebound dari level terendah dalam sebulan dari 16 Oktober 2025 level Rp7.250, menguat 17,6% menjadi Rp8.525 pada 31 Oktober 2025.
“Harga saham naik yang sejalan dengan akumulasi asing terjadi karena BBCA sudah undervalued. Biasanya BBCA diperdagangkan dengan valuasi lebih dari 4x price to book value [PBV], tetapi belakangan ini diperdagangkan di bawah 4x PBV,” kata Farras dalam keterangannya, Minggu (2/11/2025).
Dia menjelaskan dengan PBV di bawah 4x menjadi sentimen yang menarik untuk investor, tak terkecuali investor asing. Di sisi lain, momentum kinerja sepanjang 9 bulan 2025 juga menjadi pemicu lain saham BBCA diakumulasi oleh investor.
Diketahui, BBCA mencatatkan laba bersih sebesar Rp43,4 triliun dari Januari-September 2025 atau tumbuh 5,7% secara year-on-year (yoy). Hal ini juga didukung dengan peningkatan pendapatan usaha serta beban yang masih terjaga.
Pendapatan operasional BBCA yang berasal dari pendapatan bunga maupun non-bunga tercatat mencapai Rp85,2 triliun atau tumbuh 6,9% yoy. Sementara beban usaha mencapai Rp28,0 triliun atau naik 5,0% yoy pada periode yang sama.
Laba usaha sebelum pencadangan (Pre-Provision Operating Profit/PPOP) tumbuh 7,9% yoy menjadi Rp57,3 triliun. Farras juga menambahkan jika profitabilitas BBCA masih sangat solid di tengah upaya bank untuk meningkatkan pencadangan.
“Beban pencadangan/Cost of Credit [CoC] BBCA memang mengalami kenaikan, tetapi masih in-line dengan guidance manajemen di 0,5% dan ini sudah diantisipasi oleh pelaku pasar. Di sisi lain kenaikan pencadangan juga bukan hanya terjadi di BBCA saja melainkan tren industri,” katanya.
Dia mengatakan bahwa pertumbuhan kredit BBCA per September 2025 yang mencapai 7,6% yoy juga masih relatif lebih tinggi dibanding industri perbankan yang tumbuh di kisaran 7,2% yoy.
"Pedoman kinerja yang ditetapkan oleh manajemen BBCA di tahun 2025 memiliki feasibilitas yang tinggi untuk dicapai," ujarnya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.