Bisnis.com, JAKARTA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim Negeri Paman Sam memasuki era keemasan saat membela rekam jejak ekonominya dalam pidato kenegaraan (State of the Union) di tengah merosotnya dukungan publik jelang pemilu paruh waktu.
Dalam pidatonya pada Selasa (24/2/2026) waktu setempat, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat berada dalam kondisi terbaiknya.
“Negara kita kembali lebih besar, lebih baik, lebih kaya, dan lebih kuat dari sebelumnya. Anda belum melihat apa-apa. Kita akan semakin baik. Ini adalah Era Keemasan Amerika," kata Trump dikutip dari Bloomberg, Rabu (25/2/2026).
Pidato tersebut disampaikan pada momen krusial bagi pemerintahan Trump. Dia menghadapi penurunan tingkat kepuasan publik, sejumlah ketegangan kebijakan luar negeri—termasuk ancaman aksi militer terhadap Iran—serta pukulan terhadap kebijakan tarif andalannya yang dibatalkan oleh Mahkamah Agung AS.
Pernyataan Trump, serta respons dari Partai Demokrat, dinilai akan menentukan arah kontestasi pemilu paruh waktu yang berpotensi mengakhiri dominasi Partai Republik di DPR dan Senat.
Oposisi Partai Demokrat mendapat momentum seiring menurunnya penilaian publik terhadap penanganan ekonomi Trump, dipicu kekhawatiran atas tingginya harga dan dampak tarif.
Untuk membalikkan sentimen tersebut, Gedung Putih menyatakan Trump akan menyoroti upaya penciptaan lapangan kerja, komitmen investasi asing dan swasta senilai triliunan dolar, serta langkah-langkah menekan harga, termasuk obat resep.
Trump juga mendorong pembatasan pembelian rumah tapak oleh investor institusi dan meminta Kongres meloloskan legislasi terkait, serta mengusulkan agar perusahaan teknologi menanggung porsi biaya energi yang lebih besar.
Presiden AS itu mendesak Demokrat memulihkan pendanaan Departemen Keamanan Dalam Negeri dan menyoroti intervensi AS di Belahan Barat, termasuk serangkaian serangan militer terhadap kapal yang diduga terlibat perdagangan narkotika serta penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
Secara umum, Trump diperkirakan memanfaatkan panggung pidato untuk mengklaim keberhasilan ketimbang menawarkan koreksi arah kebijakan.
Dia juga mengangkat tema patriotisme menjelang peringatan 250 tahun kemerdekaan AS dan menghadirkan sejumlah peraih medali emas Olimpiade, termasuk anggota tim hoki es putra AS.
“Ini benar-benar titik balik bersejarah. Dan kita tidak akan pernah kembali ke kondisi beberapa waktu lalu. Kita tidak akan mundur,” tegasnya.
Di tengah sorotan isu keterjangkauan harga, Trump dalam beberapa pekan terakhir menunjukkan frustrasi terhadap hasil jajak pendapat. Dia bahkan mengklaim telah menang dalam isu tersebut, pernyataan yang memicu kegelisahan di kalangan sekutunya.
Hubungan Trump dengan sejumlah pihak, termasuk Mahkamah Agung, juga memanas. Dia mengkritik hakim—termasuk dua yang ia nominasikan—yang ikut membatalkan kebijakan tarifnya. Sejak putusan itu, pemerintahannya berupaya merancang skema tarif pengganti, memicu ketidakpastian di kalangan mitra dagang utama AS.
Sejumlah inisiatif yang diumumkan Trump dinilai masih membutuhkan persetujuan Kongres atau memiliki cakupan lebih terbatas dibandingkan klaimnya. Upaya menekan biaya hidup, seperti usulan pembatasan suku bunga kartu kredit maksimal 10%, juga belum menunjukkan kemajuan signifikan di Capitol Hill.
Pidato kali ini mengingatkan pada situasi empat tahun lalu ketika Presiden saat itu, Joe Biden, menghadapi tekanan serupa akibat inflasi tinggi dan konflik global. Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa menurunkan harga bukan perkara mudah.
Trump sendiri menepis hasil survei opini publik dan menunjuk harga bensin serta telur sebagai indikator utama. Dia juga menyatakan akan mencalonkan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve berikutnya dengan harapan dapat memangkas suku bunga secara agresif untuk mendorong pertumbuhan—langkah yang berisiko kembali memicu inflasi.
Terlepas dari kemegahan seremoni State of the Union, pidato tersebut tetap menjadi panggung penting bagi Trump untuk berbicara langsung kepada pemilih, mengonsolidasikan basis pendukung, serta mengarahkan ulang pesan Partai Republik menjelang pemilu—jika ia tetap berpegang pada naskah yang disiapkan.