Bank Indonesia berhasil meningkatkan transaksi Local Currency Settlement (LCS) hingga US$22 miliar pada 2025, dengan China sebagai mitra utama. [331] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Upaya Bank Indonesia (BI) untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) alias dedolarisasi melalui skema Local Currency Settlement (LCS) menunjukkan perkembangan positif.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengungkapkan bahwa nilai transaksi LCS telah menembus angka US$22,13 miliar atau sekitar Rp367,22 triliun sepanjang tahun berjalan (year to date/ytd) atau Januari—November 2025. Capaian itu melonjak nyaris dua kali lipat dibandingkan realisasi periode yang sama tahun lalu sebesar US$12,5 miliar.
Lewat skema LCS, penyesaian transaksi perdagangan antardua negara hanya perlu menggunakan mata uang lokal masing-masing sehingga tidak perlu gunakan dolar AS lagi. "Jadi LCS ini juga kalau kita lihat datanya itu terus menunjukkan hasil yang sangat positif sekali," ujar Destry dalam konferensi pers Hasil RDG Desember 2025, Rabu (17/12/2025).
Dia menjelaskan bahwa lonjakan transaksi ini tidak lepas dari bertambahnya jumlah pelaku usaha yang memanfaatkan fasilitas ini. BI mencatat jumlah pelaku LCS kini berkisar antara 13.000 hingga 15.000 pelaku usaha.
Dari sisi dominasi mitra dagang, China masih menjadi negara utama dalam pemanfaatan LCS dengan Indonesia. Negeri Panda itu menguasai pangsa pasar sekitar 64% dari total transaksi, disusul oleh Jepang dengan porsi 17,8%.
Adapun pada tahun ini, BI telah menambah dua negara mitra baru dalam implementasi LCS, yakni Korea Selatan dan Uni Emirat Arab (UEA). Destry menyatakan penambahan negara mitra baru itu turut berkontribusi pada peningkatan volume transaksi sepanjang 2025.
Tak sampai situ, bank sentral terus tancap gas memperluas jangkauan kerja sama penggunaan mata uang lokal. Destry memastikan bahwa India dan Singapura akan menjadi negara selanjutnya yang mengimplementasikan LCS secara penuh dalam waktu dekat.
"Kita yang sudah tanda tangan MoU [nota kesepahaman] itu adalah dengan India dan satu lagi dengan Singapura," ungkapnya.
Selain kedua negara tersebut, BI juga tengah menjajaki kerja sama serupa dengan Hong Kong. Destry menilai Hong Kong merupakan mitra strategis mengingat besarnya nilai transaksi perdagangan dan investasi antara kedua wilayah.
"Kami tahu kita juga punya transaksi perdagangan dan investasi juga besar dengan Hong Kong," tutupnya.
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56