Bisnis.com, JAKARTA -- Indonesia akan menjadi kiblat fesyen muslim dunia. Kata-kata itu masih menjadi pegangan Pendiri sekaligus CEO DS Modest, Annisa Herdyana buat membangun kepercayaan diri bahwa merek lokalnya sanggup bersaing di pasar global.
Wanita yang akrab disapa Anin itu bahkan percaya jenama fesyen muslim lokal umumnya sanggup menjadi produk ekspor unggulan Tanah Air, terutama ke negara dengan pangsa pasar penduduk muslim besar.
"DS Modest sendiri mulai banyak pesanan Malaysia dan Brunei, bahkan baru ada juga order ke Qatar dan Uni Emirat Arab. Jadi brand fesyen muslim Indonesia sebenarnya punya potensi semakin populer secara global," ungkapnya ketika ditemui Bisnis dalam acara Anugerah Produk Indonesia (API) 2025, dikutip Kamis (13/11/2025).
Keyakinan Anin bukan tak berdasar, sebab laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE) 2024-2025 pun masih menempatkan Indonesia sebagai jawara di bidang fesyen muslim, sekaligus mempertahankan peringkat ke-3 sebagai negara dengan indikator ekonomi halal terbaik dunia.
Fenomena itu membawa Anin semakin bersemangat untuk membawa produk unggulan DS Modest go global, terutama mukena sampai sajadah traveling mini besutannya yang saat ini memegang rekor MURI.
"Walaupun kompetisi di lokal sendiri semakin ketat, kami masih punya mimpi menjadi brand top of mind kategori alat ibadah, dan bisa mengembangkan sayap sampai negara tetangga," tambah Anin.
Wanita kelahiran Yogyakarta itu menekankan kepercayaan diri sebagai salah satu aspek penting dalam membangun sebuah merek. Pasalnya, Anin punya pengalaman unik terkait hal itu selama merefleksikan perjalanannya membangun DS Modest.
Tepatnya sebelum DS Modest berdiri pada 2016, Anin bersama sang kakak awalnya hanya ingin membantu perkembangan usaha konveksi ibunda di bilangan Bantul, Yogyakarta yang waktu itu hanya menerima maklum dan order instansi, seperti pembuatan seragam dan pakaian dinas.
Oleh karena itu, sejarah pilihan nama DS Modest pun diambil dari nama Ibunda, Dyah Suminar dengan harapan membawa berkah buat anak-anaknya.
"Waktu itu, industri fesyen muslim sedang ramai sekali brand lokal yang mulai dikenal publik. Itulah awal kami memberanikan diri. Karena sayang banget, ya, kalau cuma terima maklun tapi enggak punya brand sendiri," ungkapnya.
Namun, beralih dari kebiasaan mengurus usaha padat karya menjadi jenama anyar tersendiri, nyatanya tak semudah membalikkan telapak tangan. Padahal, Anin sendiri merupakan lulusan bidang marketing dan sempat bekerja pada salah satu media di Ibu Kota.
"Bisnis konveksi ternyata beda banget sama punya brand sendiri. Tantangan terbesarnya terutama menanamkan kepercayaan diri kepada tim bahwa produk kita layak masuk radar nasional. Waktu itu belum terbayang caranya, ternyata hanya karena belum pede," ujar Anin.
Lantas, barulah kepercayaan diri sedikit demi sedikit mulai terbangun seiring waktu, terutama setelah DS Modest serius mengembangkan kanal digital dengan lebih totalitas pada medio 2020 karena tekanan pandemi Covid-19.
"Pandemi membuat kami sadar, ternyata inovasi produk fesyen bisa jadi solusi masalah manusia. Bukan sekadar bagus, atau motifnya keren, atau warnanya lucu, atau cuma buat yang hobi traveling saja, tapi betapa alat ibadah personal yang praktis itu memang kebutuhan," jelasnya.
Berangkat dari sana, DS Modest menjadi semakin berani berekspansi, menyediakan baju dan aksesoris muslim dari anak sampai dewasa, fesyen muslim untuk olahraga, juga berbagai jenis perlengkapan ibadah.
Omzet DS Modest pun telah naik kelas menjadi skala usaha menengah, dan mampu membuka lapangan kerja untuk hampir 100 orang karyawan, termasuk 40-orang penjahit, sebagian sisanya mengurus jenama grup, juga pegawai kantor bidang produksi konveksi yang terus berekspansi.