Bisnis.com, JAKARTA — Dua tokoh politik populer Nepal telah membentuk suatu aliansi menjelang pemilihan umum (pemilu) parlemen Nepal pada Maret 2026 mendatang. Aliansi ini akan menantang partai-partai lama yang telah mendominasi politik Nepal selama lebih dari tiga dekade.
Dilansir dari Reuters pada Selasa (30/12/2025), beberapa pejabat partai mengatakan bahwa Balendra Shah, seorang mantan penyanyi rap atau rapper yang semakin populer saat menjabat sebagai Wali Kota Kathmandu, telah bergabung dengan Partai Rastriya Swatantra (RSP) atau Partai Independen Nasional pada Minggu (28/12/2025). RSP sendiri dipimpin oleh Rabi Lamichhane, seorang mantan pembawa acara TV yang beralih menjadi politisi.
Sumber yang dikumpulkan Reuters mengatakan bahwa di bawah perjanjian dengan RSP, Balen (35 tahun) akan menjadi perdana menteri jika RSP memenangkan pemilihan pada 5 Maret 2026. Sementara itu Lamichhane (48 tahun) akan tetap menjabat sebagai ketua partai.
Kedua tokoh berjanji untuk mengatasi tuntutan yang disuarakan selama protes "Gen Z" atau protes yang dipimpin pemuda melawan korupsi yang meluas pada September 2025 lalu. Dalam protes tersebut, 77 orang meninggal dunia dan Perdana Menteri Nepal Khadga Prasad Sharma Oli mengundurkan diri.
“Ini adalah langkah yang sangat cerdas dan strategis dari RSP untuk merangkul Balen dan para pendukung mudanya ke dalam kubu mereka,” kata analis Bipin Adhikari.
Dia mengatakan bahwa partai-partai politik tradisional Nepal sedang menderita karena takut kehilangan pemilih muda mereka ke RSP.
Komisi pemilu Nepal menyatakan bahwa hampir 19 juta dari 30 juta penduduk Nepal berhak memilih dalam pemilihan tersebut. Hampir satu juta orang, yang sebagian besar merupakan anak muda, ditambahkan sebagai pemilih setelah aksi protes berlangsung.
Balen menjadi sorotan setelah aksi protes tersebut dan dianggap sebagai pemimpin tak resmi dari anak-anak muda yang berada di garis depan protes pada September 2025. Dia juga membantu pembentukan pemerintahan sementara di bawah mantan Ketua Mahkamah Agung Sushila Karki yang akan mengawasi pemungutan suara.
Di lain pihak, beberapa kritikus mempertanyakan peran Balen selama protes. Mereka mengatakan bahwa dia jarang muncul di depan umum dan hanya berhubungan dengan pendukungnya melalui media sosial.
Partai Komunis Nepal (Marxis-Leninis Terpadu) atau CPN-UML pimpinan Oli dan partai Kongres Nepal, yang berhaluan tengah/sentris, telah berbagi kekuasaan di Nepal selama sebagian besar tiga dekade terakhir. Kelompok penguasa Nepal ini kemungkinan besar akan dapat benar-benar ditantang oleh Balen.
Lamichhane membentuk RSP menjelang pemilihan umum 2022 dan populer karena kampanye antikorupsinya saat menjadi pembawa acara televisi. Saat ini, dia sedang dalam status bebas dengan jaminan, sehubungan dengan kasus yang dituduhkan kepadanya mengenai dugaan penyalahgunaan dana yang dikumpulkan oleh koperasi dari para nasabah kecil.
Juru bicara partai Kongres Nepal Prakash Sharan Mahat mengatakan bahwa baik Balen maupun Lamichhane adalah pemimpin yang “kontroversial” dan aliansi mereka kemungkinan tidak akan memberikan dampak yang signifikan bagi status quo di Nepal.
“Saya rasa tidak akan ada pergolakan akibat aliansi mereka. Orang-orang masih akan memilih partai-partai lama dan yang berpengalaman,” kata Mahat kepada Reuters. (Laurensius Katon Kandela)