Bisnis.com, JAKARTA - Penggemar Dream Theater seantero Tanah Air patut berbangga bisa mendengar langsung meriahnya kit drum 'Dream Monster' gebukan Mike Portnoy di Beach City International Stadium, Sabtu (7/2/2026).
Terlebih, sebanyak lima kali Dream Theater menginjakkan kaki di Indonesia, konser bertajuk 'An Evening With Dream Theater – 40th Anniversary Tour 2026' ini menjadi kali pertama Portnoy berada dalam formasi, sekembalinya ke dalam band pada 2023.
Kehadiran Dream Monster yang berisi paket kostum dua set TAMA Starclassic Maple dan dirancang khusus buat menandai 'reuni' Portnoy itu pun seperti sengaja ditampilkan begitu mewah sekaligus intimidatif. Seakan menjadi sajian utama pada konser yang dipromotori Rajawali Indonesia ini.
Pasalnya, selain ditempatkan di tengah-tengah panggung tinggi, serta diwarnai penerangan tersendiri, beberapa lagu dalam Parasomnia (2025)—karya terbaru yang digarap bersama Portnoy—seperti Midnight Messiah dan Night Terror, pun dibawakan dengan begitu megah.
"Hari ini tepat setahun Parasomnia rilis dan kami ingin merayakannya bersama kalian, para pengemar dari Indonesia yang kami cintai. Selalu seru kembali ke sini," ungkap sang vokalis, James LaBrie di sela-sela pertunjukan.
Sebagai pengingat, band ini didirikan Portnoy bersama John Petrucci dan John Myung pada 1985 ketika mereka bertemu sebagai rekan seangkatan di Berklee College of Music.
Kalau umur band saja sudah empat dekade, jangan heran kalau rata-rata personil sudah kepala enam, dengan kibordis ulung Jordan Rudess tercatat sebagai yang paling senior: bakal menginjak 70 tahun dalam waktu dekat.
Alhasil, melihat aksi panggung LaBrie, gebukan megah Portnoy, isian betot bas Myung, serta mengamati petikan jari Petrucci yang masih begitu presisi, rasanya sulit dipercaya kalau mereka sudah tua.
Atraksi Rudess pun mencolok. Beberapa kali memanfaatkan konsol pedal steel guitar sampai fingerboard buat menciptakan ambiens harmoni khas progresif metal, bahkan masih kuat maju ke depan panggung menggendong Keytar Roland AX-Edge dalam lagu Peruvian Skies.
Tak heran, ketika berbincang dengan Bisnis, musisi sekaligus konten kreator Arya Nara (@priabernada) mengaku sampai tak ingin ketinggalan konser ini, sebab begitu erat dengan aura nostalgia perjalanan musikal band asal New York, Amerika Serikat tersebut.
"Apalagi tahun ini spesial karena Mike Portnoy balik. Jadi inget, dulu suka ngulik lagu Home dan Another Day waktu sekolah," ungkap pria yang juga dikenal sebagai pengulas bermacam alat musik itu ketika ditemui sebelum acara.
Kendati lagu-lagu tersebut tak ada di setlist, Arya tetap berekspektasi comeback-nya gebukan Portnoy akan membawa nuansa tersendiri pada karya-karya legendaris yang akan mereka dibawakan.
"Sudah pernah nonton waktu mereka ke sini dan drumer diisi Mike Mangini. Tapi yang ini harus nonton lagi, enggak boleh ketinggalan buat lihat lagu-lagu legendaris dibawakan live," tambahnya.
Seakan sudah tahu kehendak para penggemar, Dream Theater pun memilih tak menggunakan band pembuka, langsung membawakan setlist panjang di Act 1, dan mulai memanaskan penonton lewat lagu-lagu lawas ikonik macam Metropolis—Part I: The Miracle and the Sleeper hingga Scene Two: II. Strange Deja Vu.
Lantas, setelah Act 1 ditutup dengan sing along meriah para penonton di lagu As I Am, barulah Act 2 mulai bertabur karya-karya baru, hingga akhirnya ditutup dengan The Spirit Carries On dan Pull Me Under sebagai encore.
Salah satu penonton lain yang ditemui Bisnis, Azkia (30) asal Bogor, mengaku sampai menitikkan air mata saat menyanyikan dua lagu penutup itu bersama suami, sebab tembang populer Dream Theater itu punya cerita tersendiri buat perjalanan hidupnya.
"Konser Dream Theater sebenarnya kado pernikahan dari suami pas konser 2020. Dua lagu itu aku hapalin banget biar enggak salah waktu sing along. Eh, tapi malah tertunda pandemi, ya, terus jadinya di Solo [2022]. Kami pikir kejauhan. Alhamdulillah, akhirnya kesampaian sekarang, makanya terharu," ungkapnya.
Pada akhirnya, perjalanan panjang Dream Theater patut menjadi inspirasi, betapa usia 40 tahun bukan alasan untuk berhenti berkarya, berinovasi, berevolusi, dan kini para penggemar 'DT' seantero Indonesia telah ikut menjadi saksi lewat konser ini.