Bisnis.com, JAKARTA -- Raut semringah menghiasi wajah Tiwi (33) saat dia meninggalkan Museum Nasional Indonesia (MNI). Bersama kekasihnya, Tommy (36), Tiwi baru saja menjelajahi wahana terbaru, Ruang Imersif A, sekaligus menelusuri pameran tetap dan temporer.
Meski menikmati pengalaman visual, Tiwi merasakan perbedaan signifikan dibanding kunjungan tahun lalu. Pencahayaan yang gelap dan deskripsi koleksi yang sulit dibaca membuat kunjungan lebih menonjolkan sisi visual ketimbang pemahaman sejarah.
“Secara interior museum sudah baik, tapi informasi sejarah masih kurang. Dengan harga segini rasanya kurang worth it. Semoga pengalaman kunjungan ke depan bisa lebih lengkap, tidak hanya visual tapi juga informatif,” ujarnya saat ditemui Bisnis.com
Kritik pengunjung semakin terdengar setelah MNI menaikkan tarif tiket per 1 Januari 2026. Tiket dewasa kini Rp50.000, naik 100% dari sebelumnya, sementara tiket warga asing melonjak tiga kali lipat menjadi Rp150.000. Sebelumnya, pelajar SMA dan mahasiswa mendapat akses gratis, kini masuk kategori dewasa tanpa perlakuan khusus.
Kepala Museum dan Cagar Budaya, Indira Estiyanti Nurjadin mengatakan kenaikan tarif ditujukan untuk memperkuat perawatan koleksi dan meningkatkan mutu layanan museum.
“Pembenahan tidak hanya soal tampilan, tetapi juga cara museum merawat dan menyajikan koleksi,” paparnya dalam taklimat resmi.
Sejumlah fasilitas baru juga disiapkan. Renovasi enam ruang pamer terdampak kebakaran 2023 sedang berlangsung, sementara area bebas tiket kini diperluas lebih dari dua kali lipat, mencakup Hall Majapahit, masjid, kantin ber-AC, basement, dan halaman gedung.
Terpisah, kurator sekaligus pengajar ISI Yogyakarta Mikke Susanto menilai kenaikan tarif sah dilakukan jika diiringi peningkatan kualitas layanan. Namun, dia menekankan pengalaman kunjungan harus benar-benar terasa lebih baik agar biaya sepadan.
“Jika merujuk harga tiket di museum besar seperti Asian Civilisations Museum Singapura atau Museum Nasional Bangkok, tarif kita masih lebih murah. Tapi pembenahan harus nyata dan terlihat pengunjung,” jelas Mikke.
Secara lebih luas, kritik terhadap pengalaman pengunjung sejalan dengan arah kebijakan museum nasional, yang kini mendorong museum menjadi ruang interaktif dan edukatif, bukan sekadar menyimpan artefak.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon, menegaskan museum harus menjadi ruang hidup yang menghubungkan masa lalu, kini, dan masa depan. Dia mencatat kunjungan ke MNI pada 2025 melonjak hingga 400% dibanding tahun sebelumnya, dengan rata-rata 10.000–12.000 pengunjung per hari saat libur.
Pemerintah juga mendorong pemerataan kualitas museum di seluruh daerah melalui standardisasi dan revitalisasi. “Saat ini, sekitar 516 museum di Indonesia telah diregistrasi dan distandarisasi oleh Kementerian Kebudayaan,” tambah Fadli.