Bisnis.com, JAKARTA – Persoalan sampah masih menjadi tantangan struktural yang signifikan di Indonesia. Inisiatif warga di Desa Kuala Tanjung, Sumatra Utara, berhasil membuktikan bahwa transformasi limbah menjadi sumber ekonomi hijau mampu memberikan nilai tambah nyata bagi masyarakat.
Didi Saputra (41), atau yang akrab disapa Untung, yang menjadi motor penggerak di balik gerakan ini. Sejak 2021, Didi memelopori pengolahan sampah organik melalui biokonversi maggot atau larva Black Soldier Fly (BSF).
Inisiatif yang bermula dari kepedulian lingkungan ini kemudian bertransformasi menjadi kelompok Sari Larva Berdaya (SLB), yang pada 2024 berkembang lebih lanjut menjadi Bank Sampah Berseri.
“Awalnya kami belajar mengelola sampah dengan maggot. Lambat laun kami menyadari bahwa ini bukan sekadar urusan kebersihan, melainkan instrumen untuk menciptakan sumber penghasilan baru bagi warga,” ujar Didi dalam keterangan tertulis, Selasa (28/4/2026).
Saat ini, kapasitas pengelolaan kelompok tersebut telah mencapai 1 hingga 2 ton sampah per hari. Bahan baku sampah dikumpulkan dari limbah katering perusahaan yang beroperasi di sekitar wilayah tersebut serta limbah rumah tangga warga.
Proses hilirisasi sampah yang dilakukan menghasilkan beragam produk bernilai ekonomi tinggi. Maggot yang dihasilkan dimanfaatkan sebagai pakan alternatif untuk ternak ayam, bebek, dan ikan, yang secara langsung menekan biaya operasional pembudidaya lokal.
Adapun biokonversi Maggot Black Soldier Fly (BSF)? Mengutip paparan Resti Rahayu, Dosen Biologi Universitas Andalas, BSF merupakan biomesin/ biotransformasi/ biokonversi yang efektif mengolah/mendegradasi sampah organik (sayuran, buah, sisa makanan, bangkai hewan, serta kotoran) dengan cepat, menjadi biomassa untuk pakan ternak berprotein tinggi dan pupuk tanaman.
Kemampuan dekomposisi maggot lebih baik dibandingkan dengan organisme lainnya termasuk mikroorganisme. Teknologi biokonversi menggunakan maggot BSF dianggap mampu mendegradasi sampah organik lebih cepat dibanding serangga lainnya.
Melihat kemampuan BSF yang mumpuni mengubah sampah menjadi maggot, wajar metode ini dijadikan solusi untuk mengatasi food waste.
Selain mengelola sampah organik, kelompok ini juga melakukan diversifikasi produk dengan mengolah limbah kayu palet menjadi furnitur seperti meja dan kursi. Sementara itu, limbah kertas dan pelepah pisang diubah menjadi kertas daur ulang dan paper bag yang memiliki pangsa pasar tersendiri.
Dari sisi finansial, Didi menjelaskan warga dapat mengonversi sampah anorganik menjadi saldo tabungan di Bank Sampah Berseri. Menjelang hari besar keagamaan seperti Lebaran, saldo tersebut dapat dicairkan dalam bentuk paket sembako dengan harga sekitar 30% lebih murah dibandingkan harga pasar.
Langkah produktif ini mendapat dukungan penuh dari PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), anggota dari holding BUMN industri pertambangan MIND ID. Melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL), Inalum memberikan pelatihan serta penyediaan sarana pendukung bagi kemandirian masyarakat.
Program pemberdayaan ini juga menjadi salah satu pilar inovasi sosial yang mendukung keberhasilan perusahaan dalam meraih penghargaan PROPER Emas.
Ke depan, Didi berharap jangkauan layanan pengelolaan sampah ini dapat terus diperluas. Salah satu target jangka pendeknya adalah pengadaan armada pengangkut sampah guna menjangkau lebih banyak rumah tangga di wilayah tersebut.
“Kami terus bergerak secara berkelanjutan. Dari sampah, kami belajar untuk mandiri dan memberikan dampak bagi sesama,” tutup Didi.
Di sisi lain, gerakan ekonomi sirkular ini turut memberikan dampak sosial yang luas melalui penciptaan lapangan kerja. Saat ini, terdapat 17 orang yang terlibat aktif dalam operasional Bank Sampah.
Selain pemberdayaan ekonomi, kelompok ini juga memfasilitasi pendidikan bagi anak-anak putus sekolah agar dapat mengikuti ujian Paket B dan C guna memperoleh ijazah formal.