#30 tag 24jam
Menanti Pemicu Arus Balik Dana Asing ke Pasar Saham Indonesia
Investor asing bersikap selektif dalam memasuki pasar modal Indonesia, menunggu stabilitas rupiah, kepastian kebijakan ekonomi, dan bukti reformasi pasar modal. [817] url asal
#outflow-dana-asing #pasar-saham-indonesia #msci-2026 #emerging-market #net-sell-asing #ihsg-melemah #reformasi-pasar-modal #investor-asing-selektif #stabilitas-rupiah #kebijakan-ekonomi-indonesia #ris
(Bisnis.Com - Market) 26/06/26 13:23
v/260622/
Bisnis.com, JAKARTA – Tren outflowdana asing di pasar saham nampaknya agak kontras dengan optimisme sentimen pasar. Hasil Market Classification Review MSCI 2026 telah dirilis, menyatakan Indonesia tetap berada di emerging market (EM). Penyedia indeks global juga mengakui perbaikan transformasi pasar modal Indonesia.
Di hari yang sama perilisan, Rabu (24/6/2026), IHSG justru melemah 03,56% dengan net sell asing sebesar Rp1,17 triliun. Net sell asing terus terjadi sejak penutupan perdagangan 18 Juni 2026.
Sementara dalam MSCI Acessibility Review 2026, pasar modal Indonesia sebenarnya masih cukup unggul dibandingkan dengan negara EM lainnya dari beberapa kriteria penilaian MSCI.
Kondisi kontras juga terpotret dalam horizon data kuartalan. Dalam Januari-Maret 2026, tercatat net sell asing sebesar Rp32,85 triliun. Padahal, Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat dalam periode ini fundamental perusahaan tercatat menorehkan kinerja terbaiknya dalam 5 tahun terakhir, yakni 80% dari emiten yang melantai di bursa membukukan laba bersih. Selain itu, emiten-emiten LQ45 mencatat rata-rata pertumbuhan laba bersih sebesar 29,9%.
Sementara itu, saat IHSG mencatat net sell Rp1,17 triliun pada perdagangan Rabu (24/6), sejumlah saham seperti BREN, ANTM, INDF, INCO, UNVR, GGRM, ICBP, AKRA, CUAN, hingga TINS justru menjadi 10 besar emiten dengan nilai net buy tertinggi. Artinya, asing cukup selektif masuk ke Indonesia memilih emiten-emiten tertentu.
Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata menjelaskan ada tiga faktor utama yang menjadi perhatian investor asing melihat pasar modal Tanah Air, yaitu stabilitas rupiah, kepastian arah kebijakan ekonomi, serta bukti bahwa reformasi pasar modal yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) benar-benar meningkatkan transparansi dan kualitas price discovery.
"Selama faktor-faktor tersebut belum sepenuhnya membaik, investor institusi kemungkinan masih akan bersikap selektif, meskipun kami melihat proses akumulasi awal pada saham-saham tertentu sudah mulai terjadi," kata Liza kepada Bisnis, Kamis (25/6/2026).
Ihwal sentimen yang disebabkan MSCI, Liza menilai bagian terpenting dari laporan reviu penyedia indeks global tersebut bukan keputusan mempertahankan Indonesia di Emerging Market (EM), melainkan peringatan yang menyertainya. MSCI secara eksplisit menyoroti profound investability concerns terkait transparansi kepemilikan saham dan dugaan coordinated trading behavior.
MSCI, kata Liza, juga memberi tenggat hingga November 2026 dan membuka kemungkinan konsultasi penurunan status ke Frontier Market apabila reformasi belum menunjukkan hasil nyata.
"Artinya, pasar tidak bereaksi terhadap status Emerging Market yang dipertahankan, tetapi terhadap meningkatnya risiko di masa depan. Hal inilah yang berpotensi menaikkan risk premium Indonesia," tegasnya.
Sementara faktor di luar MSCI, tantangannya juga bersifat struktural. Liza bilang, Indonesia kini berada di peringkat 48 Global Competitiveness Ranking, tertinggal dari Malaysia, Thailand, Vietnam, dan bahkan Filipina. Hal ini menunjukkan investor global tidak hanya melihat market size atau ukuran ekonomi, tetapi juga kualitas institusi, produktivitas, efisiensi regulasi, serta kepastian kebijakan sebelum menempatkan modalnya.
Asing Masuk Selektif
Sejak awal tahun hingga Kamis 25 Juni 2026, tercatat akumulasi nilai jual bersih investor asing sebesar Rp71,14 triliun. Namun, Liza melihat investor asing saat ini tidak sepenuhnya menunggu di luar pasar.
Menurutnya, dengan valuasi (IHSG) yang sudah kembali ke level rendah tahun lalu, Kiwoom Sekuritas melihat kemungkinan sebagian smart money sudah mulai melakukan akumulasi bertahap pada saham-saham berkualitas.
"Namun, arus dana besar (broad-based foreign inflow) biasanya baru datang setelah kepercayaan pasar mulai pulih dan tren kenaikan indeks sudah lebih jelas," ujar Liza.
Secara historis, Liza mencatat dalam beberapa episode pemulihan IHSG, investor asing justru sering kembali setelah indeks lebih dahulu menguat belasan persen, bukan tepat di titik terendah.
Liza menggarisbawahi, ini artinya yang masih ditunggu investor global bukan sekadar valuasi murah atau laba emiten yang kuat, melainkan penurunan country risk.
Sementara itu, Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi mengatakan bahwa investor asing saat ini kian selektif masuk pasar modal Indonesia. Mereka yang masih masuk, menyasar nama-nama dengan likuiditas tinggi, free float bersih, dan earnings visibility kuat.
"Contohnya seperti INDF, ICBP, AKRA, dan ANTM yang mencerminkan preferensi ke defensive earnings dan commodity play dengan clean governance," kata Wafi.
Mempertimbangkan hal itu, Wafi menyarankan kepada investor ritel agar mengikuti footprint asing sebagai sinyal. Investor ritel juga disarankan melakukan akumulasi bertahap pada saham blue chips dan menghindari saham-saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholders consentration (HSC).
Seperti halnya yang disampaikan Liza, Wafi menilai saat ini investor asing menunggu tiga sinyal sebelum mereka kembali masuk. Tiga faktor itu adalah bukti nyata implementasi reformasi information flow, stabilisasi rupiah yang berkelanjutan, serta kejelasan MSCI Review yang akan dirilis November 2026.
Di sisi lain, faktor yang membuat risk premium Indonesia meningkat adalah penurunan kriteria information flow dalam MSCI Classification Review 2026. Kondisi ini menurutnya membatasi kemampuan asing melakukan index replication.
"Selain itu, bahasa pfofound investability dan penyebutan eksplisit emerging market ke frontier market adalah eskalasi formal. Risk premium Indonesia naik juga karena ketidakpastian status benchmark November 2026 yang belum resolved," tegas Wafi.
______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Rebalancing MSCI: Ancaman atau Peluang?
MSCI tunda rebalancing indeks Indonesia hingga 2026, memicu kekhawatiran outflow. [1,260] url asal
#msci-indonesia #rebalancing-indeks #outflow-dana-asing #saham-underweight
(Kompas.com - Money) 24/04/26 17:40
v/202008/
JAKARTA, KOMPAS.com - Pasar saham Indonesia tengah memasuki fase yang dinilai krusial, setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) menunda rebalancing MSCI Indonesia Index hingga Juni 2026.
Dibalik keputusan tersebut, muncul kekhawatiran arus keluar dana asing (outflow) hingga ratusan juta dollar AS.
Research Division PT Henan Putihrai Sekuritas (Henan Sekuritas) mengungkapkan MSCI pada 20 April 2026 menetapkan dua kebijakan utama dalam MSCI Semi-Annual Index Review (SAIR) yang akan diumumkan pada 12 Mei 2026.
Pertama, penghapusan saham dengan status High Shareholding Concentration (HSC) sebagaimana daftar yang dirilis PT Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 2 April 2026.
Kedua, pembekuan seluruh penyesuaian positif terhadap konstituen Indonesia dalam indeks MSCI hingga proses review selesai.
Kebijakan ini langsung memicu kekhawatiran pelaku pasar, terutama terkait potensi arus keluar dana asing.
Namun, Henan Sekuritas menilai narasi tersebut terlalu menyederhanakan kondisi yang terjadi di pasar.
Berdasarkan analisis terhadap tujuh Exchange-Traded Fund (ETF) berbasis MSCI dengan total dana kelolaan mencapai 73,9 miliar dollar AS, pola yang muncul justru tidak seragam.
Sejak Februari hingga pertengahan April 2026, terjadi rotasi portofolio yang berbeda-beda antar ETF, yang membuka peluang terjadinya dislokasi harga pada saham tertentu.
“Diskusi yang berkembang di pasar sejak pengumuman tersebut cenderung terfokus pada narasi outflow satu arah,” tulis Henan Sekuritas lewat dipublikasi pada Jumat (24/6/2026).
“Sementara, data holding tujuh Exchange-Traded Fund (ETF) pasif berbasis indeks MSCI dengan total asset under management (AUM) senilai 73,9 miliar dollar AS menunjukkan pola rotasi yang tidak seragam selama Februari hingga pertengahan April 2026,” lanjutnya.
Fenomena itu terutama terlihat pada saham-saham non-HSC yang saat ini berada dalam posisi underweight struktural di beberapa ETF global.
Artinya, saham tersebut belum dibeli sesuai porsi ideal dan berpotensi menjadi target akumulasi saat rebalancing dilakukan.
“Pola itu mengindikasikan potensi dislokasi harga pada saham-saham non-HSC yang saat ini berada pada posisi underweight struktural di salah satu ETF global terbesar,” beber Henan Sekuritas.
Henan Sekuritas secara khusus menyoroti dua emiten, yakni PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), yang dinilai memenuhi karakteristik tersebut.
Keduanya tidak masuk dalam daftar HSC, memiliki free float yang memadai, serta menunjukkan posisi underweight dalam struktur kepemilikan ETF.
“Pembahasan mencakup pemisahan antara dimensi mekanis indeks dan dimensi fundamental emiten, serta timeline peristiwa kritis hingga tanggal efektif 1 Juni 2026 nanti,” kata Henan Sekuritas.
Dari pengumuman MSCI mengonfirmasi enam ketentuan pokok yang berlaku untuk seluruh konstituen Indonesia pada siklus SAIR Mei 2026.
Pertama, penghapusan saham berstatus HSC pada 12 Mei 2026, mengikuti preseden pada tahun 2016 ketika Securities and Futures Commission (SFC) di Hong Kong memublikasikan daftar HSC dan MSCI melakukan deletion pada Quarterly Index Review pertama.
Kedua, pembekuan kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) untuk seluruh konstituen Indonesia; namun penurunan FIF tetap berjalan.
Ketiga, pembekuan kenaikan Number of Shares (NOS).
Keempat, tidak ada penambahan saham baru ke MSCI Investable Market Indexes.
Kelima, tidak ada migrasi antar size segment ke arah atas (Small Cap ke Standard, Standard ke Large Cap).
Keenam, data kepemilikan dengan ambang 1 persen yang bersumber dari reformasi BEI akan digunakan untuk re-estimasi free float, namun MSCI menyatakan belum sepenuhnya mengandalkan data tersebut hingga proses review selesai.
Dari sisi arus dana, AUM ETF yang melacak MSCI Indonesia dan MSCI Emerging Markets terdapat estimasi outflow pasif sekitar 380 juta dollar AS.
Angka tersebut mencerminkan first-order effect dari mekanisme rebalancing indeks dan belum termasuk kemungkinan pergeseran alokasi oleh dana aktif yang menggunakan MSCI sebagai benchmark.
KOMPAS.com/SUPARJO RAMALAN Konferensi pers OJK dan BEI, Jumat (20/2/2026)Analisis Pola Rotasi ETF Pasif
Observasi terhadap data kepemilikan tujuh ETF pasif dengan total dana kelolaan (AUM) sekitar 73,9 miliar dollar AS menunjukkan bahwa pola positioning tidak bergerak seragam sepanjang periode Februari hingga pertengahan April 2026.
Melalui pendekatan share-count rotation, yakni perubahan jumlah saham yang dipegang setelah mengeliminasi efek harga, terlihat bahwa masing-masing manajer ETF memiliki strategi berbeda dalam merespons risiko berbasis negara (country-level) Indonesia.
Temuan itu menegaskan bahwa arus dana pasif tidak sepenuhnya bergerak satu arah, melainkan terfragmentasi, sehingga berpotensi menciptakan dislokasi harga pada saham-saham tertentu.
Status HSC sebagai Indikator Distribusi Kepemilikan
Status HSC merupakan indikator teknis yang digunakan untuk mengukur tingkat konsentrasi kepemilikan saham publik.
Mekanisme ini diadopsi oleh BEI pada 2 April 2026, mengacu pada kerangka yang telah diterapkan oleh otoritas Hong Kong sejak 2015.
Penting untuk menegaskan bahwa status HSC berada dalam ranah mekanis indeks, bukan fundamental emiten.
Penghapusan saham dari indeks MSCI akibat status HSC tidak mencerminkan penurunan kualitas bisnis, kinerja operasional, arus kas, maupun tata kelola perusahaan.
Keluarnya saham dari indeks juga tidak menghentikan perdagangan di pasar, tidak mengganggu operasional perusahaan, serta tidak mengubah hak pemegang saham publik.
Likuiditas dan valuasi saham pasca-deletion tetap ditentukan oleh mekanisme pasar reguler.
Dalam kerangka ini, terdapat tiga kategori utama yang perlu dibedakan.
Pertama, saham yang keluar dari indeks karena status HSC, yang isu utamanya adalah konsentrasi kepemilikan.
Kedua, saham yang keluar karena free float market cap berada di bawah ambang minimum 2,1 miliar dollar AS, yang berkaitan dengan skala likuiditas bagi investor global.
Ketiga, saham yang tetap bertahan dalam indeks MSCI Indonesia, yang justru menjadi fokus utama dalam analisis lanjutan.
Observasi Teknis pada BRPT dan TPIA
Dua saham yang dinilai relevan dalam konteks ini adalah BRPT dan TPIA.
BRPT telah menjadi konstituen MSCI Indonesia sejak Mei 2019, menjadikannya salah satu saham dengan tenure terpanjang atau “veteran index”. Berdasarkan publikasi pro-forma MSCI Mei 2026, free float market cap BRPT mencapai sekitar 2,7 miliar dollar AS, berada di atas ambang minimum. Saham ini juga tidak termasuk dalam daftar HSC yang dirilis BEI.
Namun, dari analisis share-count rotation, BRPT berada dalam posisi underweight struktural di ETF global ACWI US setelah dua periode berturut-turut tidak mendapatkan alokasi share creation. Sementara itu, TPIA yang masuk indeks sejak Februari 2024 mencatat free float market cap sekitar 3,0 miliar dollar AS.
Penyesuaian Foreign Inclusion Factor (FIF) pada pro-forma Mei 2026 hanya sebesar 0,5 persen, menjadi yang paling kecil di antara konstituen Indonesia.
Sama seperti BRPT, TPIA juga tidak masuk dalam daftar HSC.
Perhatian utama pasar tertuju pada implementasi data kepemilikan dengan ambang batas 1 persen dalam re-estimasi free float oleh MSCI pada 12 Mei 2026.
Apabila FIF BRPT dan TPIA tidak berubah dari pro-forma saat ini, maka terdapat dua mekanisme yang dapat terjadi secara bersamaan pada tanggal efektif 1 Juni 2026.
Pertama, bobot kedua saham dalam indeks tidak mengalami penurunan.
Kedua, potensi forced buying dari ETF tetap terjadi untuk menyesuaikan posisi underweight. Namun demikian, skenario ini bersifat kondisional dan tidak dimaksudkan sebagai prediksi harga.
Analisis ini murni berfokus pada mekanika arus dana pasif dan tidak memasukkan variabel fundamental, sentimen pasar, maupun faktor makroekonomi.
Validasi Pola: AMMN sebagai Pembanding
Pola serupa juga teridentifikasi pada PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN). Emiten tambang emas dan tembaga ini tidak memiliki afiliasi dengan BRPT maupun TPIA, namun termasuk dalam kelompok saham yang tidak mendapatkan alokasi share creation dalam ETF ACWI US selama dua periode berturut-turut.
“Konsistensi pola antara BRPT, TPIA, dan AMMN memperkuat bahwa underweight struktural pada enam saham tersebut adalah keputusan positioning dari ETF yang bersifat sistematis, bukan variasi acak atau idiosinkratik. Kesamaan pola di emiten yang secara fundamental dan sektoral berbeda antara petrokimia, energi, dan pertambangan menunjukkan bahwa mekanika ETF rebalancing adalah kerangka analitis yang memiliki konsep penerapan lintas sektor pada konstituen Indonesia,” lanjut Henan Sekuritas.
Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
MSCI Tunda Rebalancing Saham RI, Sinyal Pasar Modal Belum Kuat?
MSCI menunda rebalancing saham Indonesia sampai 2026, sinyal fondasi pasar modal RI belum kuat. Pengamat ungkap isu free float, HSC, dan potensi outflow Rp15 triliun. [976] url asal
#pasar-modal-indonesia #ihsg #msci #msci-rebalancing #rebalancing-msci #rebalancing-indeks-saham #rebalancing-msci-saham-indonesia #outflow-dana-asing #rebalancing-saham-indonesia
(Kompas.com - Money) 22/04/26 07:21
v/198964/
JAKARTA, KOMPAS.com - Keputusan Stanley Capital International (MSCI) yang membekukan rebalancing saham asal Indonesia pada Mei 2026 dinilai menjadi sinyal bahwa reli pasar modal domestik belum ditopang fondasi yang kuat.
Pengamat pasar modal, Reydi Octa, menilai kebijakan tersebut menggambarkan masih adanya aspek pasar yang belum memenuhi standar investor global.
Isu yang disorot meliputi jumlah saham beredar di publik (free float), tingginya konsentrasi kepemilikan atau high shareholding concentration (HSC), serta aspek investability.
PIXABAY/PETE LINFORTH Ilustrasi pasar saham.“Menurut saya keputusan MSCI yang masih membekukan perlakuan atas saham Indonesia menunjukkan bahwa masalah utama pasar kita belum selesai, terutama soal kualitas free float, transparansi kepemilikan, dan investability,” ujar Reydi saat dihubungi Kompas.com, Selasa malam (21/4/2026).
Dalam pengumumannya, MSCI mengaku masih mengkaji dampak reformasi pasar modal terhadap aksesibilitas investasi.
Selain itu, MSCI juga akan menggunakan data keterbukaan pemegang saham di atas 1 persen untuk menyesuaikan perhitungan free float.
Namun, MSCI belum akan memasukkan sumber data baru hingga kajian atas reformasi pasar modal Indonesia selesai dilakukan.
MSCI sendiri telah menerima berbagai laporan dari otoritas pasar modal Indonesia, yakni Otoritas Jasa Keuangan (OJK), PT Bursa Efek Indonesia, serta PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).
Reformasi yang dilaporkan mencakup peningkatan transparansi pemegang saham di atas 1 persen, pendalaman klasifikasi investor, pengenalan kerangka HSC, hingga rencana peningkatan batas minimum free float menjadi 15 persen.
SHUTTERSTOCK/THAPANA STUDIO Ilustrasi aturan free float saham.Meski demikian, MSCI tetap mempertahankan sikap hati-hati dengan menunda rebalancing saham Indonesia.
Bahkan, sejumlah kebijakan pembatasan masih diberlakukan.
Di antaranya, MSCI membekukan kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan jumlah saham (number of shares), tidak menambahkan saham baru ke dalam indeks MSCI Investable Market Indexes (IMI), serta tidak menaikkan klasifikasi saham ke segmen yang lebih besar, termasuk dari Small Cap ke Standard.
Dampak terhadap IHSG
Reydi menilai dampaknya MSCI terhadap IHSG saat ini lebih sebagai penahan sentimen yang membatasi ruang kenaikan.
Pasalnya, investor global masih cenderung wait and see dan belum kembali masuk secara agresif, meskipun tekanan jual tidak sebesar pada akhir Januari 2026.
“Dampaknya ke IHSG saat ini lebih sebagai penahan sentimen dan pembatas ruang naik, karena investor global masih wait and see, bukan lagi panic selling sebesar akhir Januari,” paparnya.
Untuk diketahui, IHSG ditutup melemah pada perdagangan Selasa, turun 34,73 poin atau 0,46 persen ke level 7.559,38.
Dari sisi aktivitas perdagangan, volume transaksi mencapai 43,55 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 18,01 triliun.
Frekuensi perdagangan menyentuh lebih dari 2,7 juta kali transaksi.
Menariknya, jumlah saham yang menguat mencapai 386 saham, lebih tinggi dibandingkan 264 saham yang melemah, sementara 168 saham bergerak stagnan.
Meski demikian, Reydi menyebut risiko arus keluar dana asing (outflow) tetap terbuka apabila bobot Indonesia dalam MSCI menurun.
Dalam kondisi itu, saham-saham dengan karakteristik HSC dinilai paling rentan karena berpotensi kehilangan dukungan aliran dana pasif, sehingga menghadapi tekanan baik dari sisi likuiditas maupun valuasi.
SHUTTERSTOCK/FEYLITE Ilustrasi saham.“Risiko outflow tetap ada bila bobot Indonesia di MSCI turun, sementara saham-saham berlabel HSC berisiko paling besar terkena tekanan likuiditas dan valuasi karena bisa kehilangan aliran dana pasif,” paparnya.
Lebih jauh, paling rentan dalam kondisi tersebut bukan ditentukan oleh sektor, melainkan karakter emiten itu sendiri, terutama saham berkapitalisasi besar dengan free float yang terbatas dan kepemilikan yang sangat terkonsentrasi.
Struktur seperti ini membuat likuiditas lebih sensitif terhadap perubahan aliran dana, sehingga ketika minat investor asing melemah, tekanan terhadap harga bisa lebih terasa.
Di sisi lain, langkah reformasi yang dilakukan oleh OJK, BEI, dan KSEI dipandang sudah mengarah ke perbaikan.
Namun, sikap MSCI yang masih menahan penyesuaian menunjukkan bahwa investor global belum sepenuhnya yakin, karena yang dinilai bukan hanya desain kebijakan, tetapi juga konsistensi penerapannya di lapangan.
Dana asing Rp 15 triliun berpotensi keluar
Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Azharys Hardian, mencatat keputusan MSCI yang masih membekukan inklusi saham Indonesia tetap menjadi sentimen negatif bagi pergerakan IHSG.
Namun, reaksi pasar cenderung terbatas karena pelaku pasar telah lebih dulu mengantisipasi kebijakan tersebut.
“Keputusan MSCI untuk tetap membekukan inklusi saham Indonesia memang masih menjadi sentimen negatif yang membayangi IHSG. Namun, jika kita melihat dinamika pasar pada pembukaan perdagangan 21 April, pelemahan yang terjadi menunjukkan bahwa pasar sebenarnya sudah mengantisipasi atau priced-in terhadap keputusan ini,” ucap Azharys saat dihubungi Kompas.com.
Menurutnya, sejak awal investor memang tidak menaruh ekspektasi tinggi bahwa MSCI akan segera memasukkan kembali saham Indonesia ke dalam indeksnya dalam waktu dekat.
Freepik Ilustrasi saham, laba bersih.Meski begitu, risiko teknis yang perlu diwaspadai adalah potensi arus keluar dana pasif (passive funds) yang nilainya diperkirakan mencapai Rp 15 triliun.
Nilai itu cukup signifikan dan berpotensi menekan IHSG apabila terjadi dalam waktu singkat.
“Risiko teknis yang perlu kita waspadai adalah potensi outflow dana pasif (passive funds) yang diperkirakan bisa mencapai angka Rp 15 triliun. Angka ini cukup signifikan untuk menekan indeks jika terjadi dalam durasi yang singkat,” paparnya.
Lebih lanjut, risiko likuiditas dan tekanan valuasi diperkirakan akan paling terasa pada emiten yang masuk kategori High Shareholding Concentration (HSC).
MSCI telah mengonfirmasi saham-saham dalam kategori ini akan dikeluarkan dari indeks, sehingga memicu penyesuaian portfolio oleh manajer investasi global.
Dari sisi sektoral, tekanan diperkirakan paling besar terjadi pada sektor energi dan infrastruktur.
Hal ini berkaitan dengan dominasi emiten berkapitalisasi besar seperti PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), yang memiliki bobot signifikan dalam indeks.
Fluktuasi pada saham-saham tersebut berpotensi menjadi faktor pemberat bagi kinerja sektoral sekaligus menekan laju IHSG secara keseluruhan di tengah ketidakpastian aliran dana global.
“Sektor yang paling terdampak adalah energi dan infrastruktur. Hal ini tidak lepas dari peran DSSA dan BREN yang memiliki kapitalisasi pasar (market cap) sangat besar, sehingga fluktuasi pada kedua saham tersebut secara langsung menjadi pemberat bagi performa sektor masing-masing sekaligus menekan laju IHSG secara keseluruhan,” pungkasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56