Bisnis.com, JAKARTA— Hujan meteor Quadrantid akan mencapai puncaknya pada pekan ini. Peristiwa ini menjadi salah satu fenomena langit pertama yang menghiasi awal tahun 2025.
Hujan meteor Quadrantid dapat disaksikan oleh masyarakat, khususnya di wilayah belahan Bumi utara pada malam hingga dini hari. Melansir laman Live Science pada Jumat (2/1/2026), hujan meteor Quadrantid berlangsung aktif sejak 28 Desember 2024 hingga 12 Januari 2025.
Puncak aktivitasnya diperkirakan terjadi pada 3 Januari, dengan periode pengamatan terbaik berlangsung selama beberapa jam setelah matahari terbenam. Dalam kondisi ideal, hujan meteor ini mampu menghasilkan hingga 25 meteor per jam.
Namun, pengamatan tahun ini diperkirakan tidak maksimal karena bertepatan dengan fase bulan purnama. Kondisi langit yang lebih terang membuat meteor redup sulit terlihat sehingga jumlah meteor yang kemungkinan bisa diamati hanya sekitar 10 per jam.
Meski begitu, Quadrantid dikenal kerap menghadirkan meteor terang ataufireballyang tetap dapat menarik perhatian pengamat. Puncak hujan meteor Quadrantid berlangsung relatif singkat, sekitar 6 jam.
Oleh karena itu, masyarakat disarankan mulai mengamati langit sejak malam hari. Masyarakat juga disarankan memilih lokasi dengan pandangan langit terbuka dan memosisikan bulan di belakang pengamat agar cahaya tidak mengganggu pengamatan langit malam.
Meteor dapat muncul di berbagai arah, meski terlihat seolah-olah berasal dari wilayah langit utara. Titik radiasi hujan meteor Quadrantid berada di rasi bintang Boötes, dekat dengan pegangan rasi Biduk atau Big Dipper.
Nama Quadrantid diambil dari rasi lama Quadrans Muralis yang kini sudah tidak lagi digunakan dalam sistem rasi modern. Hujan meteor Quadrantid terjadi saat Bumi melintasi aliran debu dan puing kosmik yang mengorbit Matahari. Material tersebut diduga berasal dari objek bernama 2003 EH, yang diperkirakan merupakan asteroid atau sisa komet yang sudah tidak aktif, dengan periode orbit sekitar 5,5 tahun.