Bisnis.com, JAKARTA — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mendapat kecaman dari dalam negeri setelah dia melayangkan ancaman dengan kata-kata kasar terhadap Iran untuk membuka Selat Hormuz. Para politisi AS mempertanyakan kondisi mental Trump dengan menyatakan sikap waspada.
Pada Minggu malam waktu Indonesia (5/4/2026), Trump mengancam dengan keras untuk menyerang infrastruktur-infrastruktur umum di Iran apabila negara tersebut menolak untuk membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz. Dia menyebut bahwa serangan tersebut akan dilakukan pada Selasa (7/4/2026).
“Hari Selasa akan menjadi Hari Pembangkit Listrik, dan Hari Jembatan, semuanya dikemas jadi satu, di Iran. Tidak akan ada [hari] yang seperti ini!!! Buka Selat Keparat itu, dasar bajingan gila, atau kalian akan hidup di Neraka - LIHAT SAJA NANTI! Segala puji bagi Allah. Presiden DONALD J. TRUMP,” seru Trump di media sosial Truth Social miliknya.
Setelah unggahan itu, Trump melanjutkan dengan menulis suatu tanggal pada unggahan berikutnya, yaitu “Selasa, pukul 20.00 Waktu Timur Amerika [Eastern Time]”.
Pasca pernyataan tersebut, Marjorie Taylor Greene, yang merupakan mantan sekutu setia Trump, kini menjadi pengkritiknya, mengatakan bahwa setiap orang di pemerintahan Trump yang mengaku sebagai penganut Kristen perlu meminta ampun dari Tuhan, berhenti menyembah Trump, dan meminta campur tangan dalam “kegilaan” sang presiden tersebut, seperti dilansir dari The Guardian, Senin (6/4/2026).
“Saya mengenal kalian semua dan dia, dan dia sudah gila, serta kalian semua terlibat [dalam serangan AS],” tulis Greene.
Mantan anggota Kongres AS dari Partai Republik tersebut kemudian menyebut bahwa AS dan Israel menyerang Iran tanpa adanya provokasi dan karena didasarkan oleh “kebohongan nuklir”. Dia pun kemudian menyebut bahwa justru Israel lah yang mempunyai senjata nuklir sehingga mampu mempertahankan dirinya sendiri tanpa bantuan AS.
Dia juga menyebut bahwa ancaman dari Trump tersebut menyakiti rakyat Iran.
Sebelumnya, Greene berhenti mendukung Trump setelah dia menilai bahwa sang presiden mengkhianati janji kampanyenya untuk mengutamakan kepentingan AS akibat serangan Trump terhadap Iran. Menurutnya, serangan terhadap Iran tidak membuat AS menjadi lebih hebat, tetapi merupakan tindakan kejahatan.
Di sisi lain, Pemimpin Minoritas Senat AS Chuck Schumer, yang berasal dari Partai Demokrat, mengatakan bahwa tulisan Trump menyerupai “orang gila yang kehilangan akal sehat”. Dia membandingkan ucapan Trump tersebut dengan suasana Paskah yang dirayakan masyarakat pada Minggu (5/6/2026).
“Dia mengancam dengan kemungkinan kejahatan perang dan mengasingkan sekutu. Inilah dirinya, tetapi bukan ini jati diri kita. Negara kita pantas mendapatkan yang jauh lebih baik,” tulis Schumer di X, sebelumnya bernama Twitter.
Kemudian, Bernie Sanders, tokoh politisi independen yang memiliki pandangan berbeda dengan Trump dan Partai Republik, mengatakan bahwa merupakan individu yang “berbahaya dan tidak stabil secara mental.” Dia menyuruh agar Kongres harus bertindak saat ini juga untuk menghentikan perang di Asia Barat Daya tersebut.
Sebagai langkah lanjutan, Senator Chris Murphy, dari Partai Demokrat, menganjurkan anggota kabinet pemerintahan Trump untuk bekerja sama dengan pengacara ahli konstitusi untuk memberlakukan Amandemen ke-25 Konstitusi AS. Jika peraturan tersebut diberlakukan, maka presiden akan dinyatakan tidak layak untuk menjabat sehingga wakil presiden dapat menjadi presiden.
Meski begitu, pemberlakuan Amandemen ke-25 tersebut memiliki kemungkinan terjadi yang sangat kecil.
“Jika saya berada di Kabinet Trump, saya akan menghabiskan Paskah dengan menelepon pengacara konstitusi tentang Amandemen ke-25. Ini benar-benar sangat tidak waras. Ia telah membunuh ribuan orang. Ia akan membunuh ribuan orang lagi,” tulisnya di X.
Ro Khanna, seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS dari Partai Demokrat, mengatakan bahwa Trump menelantarkan pasukan AS di Iran saat sang presiden “memaki dan mengancam dengan kejahatan perang”. Dia pun menyatakan bahwa gencatan senjata harus diberlakukan segera sehingga pengeboman dapat berhenti.
Tidak kurang, Tim Kaine, seorang senator Demokrat yang bertugas di komite angkatan bersenjata, mendesak Trump untuk menurunkan retorika ancamannya yang “memalukan dan kekanak-kanakan”. Menurutnya, perkataan Trump dapat meningkatkan risiko bagi pasukan AS yang berada di lapangan.
Bukan Kali Pertama Trump Kecam Iran
Ancaman Trump ini merupakan yang terbaru dari ancaman-ancaman yang sebelumnya pernah dia lontarkan kepada pemerintah Iran dalam perang ini untuk membuka Selat Hormuz. Jalur air tersebut merupakan salah satu jalur pelayaran minyak dan gas paling penting di dunia, yang secara efektif telah tertutup setelah AS dan Israel menyerang Iran di wilayah sekitarnya pada akhir Februari (28/2/2026).
Dengan harga minyak di seluruh dunia yang meroket, Trump sudah beberapa kali memberikan tenggat waktu bagi Iran untuk membuka selat tersebut. Akan tetapi, dia juga berkali-kali memperpanjang tenggat-tenggat waktu tersebut ketika para mediator yang terlibat mengeklaim bahwa sudah ada perkembangan untuk mengakhiri perang tersebut, seperti dilansir dari Public Broadcasting Service (PBS).
“Sepertinya Trump sudah menjadi sebuah fenomena yang tidak bisa dianalisis secara penuh oleh masyarakat AS dan Iran,” ujar Menteri Kebudayaan Iran Reza Salihi-Amiri kepada wartawan-wartawan dari Associated Press.
Perwakilan Iran di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pun menyebut bahwa ancaman Iran sebagai bukti jelas dari suatu keinginan untuk melakukan kejahatan perang.
Mehdi Tabatabaei, wakil bidang komunikasi di kantor presiden Iran, mengatakan bahwa Trump telah menggunakan kata-kata yang tidak pantas dan omong kosong karena keputusasaan dan kemarahannya dengan ancaman tersebut. Dia pun menyebut bahwa Iran hanya akan membuka Selat Hormuz setelah menerima kompensasi atas kerusakan perang, yang dibayarkan melalui “rezim hukum baru” berbasis biaya transit.
Trump menyerukan ancamannya tersebut menyusul operasi penyelamatan 48 jam yang intens untuk dua pilot AS di Iran, yang dia sebut sebagai “Keajaiban Paskah”. Ancaman tersebut juga menyusul serangan militer AS ke jembatan terbesar di Iran pada Kamis (2/4/2026) yang menewaskan sedikitnya 8 orang dan melukai 95 lainnya.
Serangan-serangan yang terjadi di Iran dan wilayah sekitarnya tersebut telah menewaskan lebih dari 3.500 orang di seluruh kawasan. Angka itu termasuk lebih dari 1.200 orang di Lebanon yang tewas akibat pengeboman dan pendudukan sebagian wilayahnya oleh Israel. Selain itu, terdapat lebih dari 4 juta orang mengungsi di seluruh Iran dan Lebanon. (Laurensius Katon Kandela)