Bisnis.com, JAKARTA— Kenaikan harga handphone akibat chip yang semakin mahal dan langka diperkirakan akan menekan segmen entry-level smartphone.
International Data Corporation (IDC) Indonesia mengungkap perangkat dengan harga lebih rendah memiliki margin yang lebih tipis, sehingga menyulitkan vendor menyerap kenaikan biaya.
Associate Market Analyst, Devices Research, IDC Indonesia Vanessa Aurelia mengatakan kondisi tersebut berpotensi membuat kenaikan harga di segmen ini menjadi lebih terlihat.
“Sementara itu, segmen harga menengah hingga tinggi memiliki fleksibilitas yang lebih besar dalam melakukan penyesuaian,” kata Vanessa kepada Bisnis pada Senin (2/2/2026).
Vanessa mengungkapkan sebagian biaya kemungkinan tetap akan diteruskan dalam bentuk kenaikan harga, meskipun dengan tingkat yang bervariasi. Menurutnya, salah satu opsi yang bisa dilakukan adalah menyesuaikan spesifikasi lain sesuai kebutuhan untuk menekan biaya.
Vanessa menyebut kenaikan harga ini dapat memperpanjang siklus penggantian perangkat, karena konsumen cenderung menahan penggunaan perangkat lebih lama dari biasanya. Untuk mengatasinya, Vanessa mengatakan vendor dapat berupaya mengelola biaya dengan menurunkan spesifikasi selain memori. Namun, mengingat porsi biaya memori yang cukup besar dalam total biaya produksi smartphone, akan sulit menutup seluruh kenaikan biaya tanpa mengorbankan komponen lain.
Dalam situasi ini, langkah yang dapat dilakukan adalah mengelola biaya seefisien mungkin, menata ulang strategi, serta menyesuaikan strategi pasar agar dapat bertahan di tengah kondisi yang menantang.
Di sisi lain, Senior Consultant dan Analis Pasar Smartphone SEQARA Communications, Aryo Meidianto Aji mengungkap pasar entry-level saat ini berada di bawah tekanan paling berat di tengah lonjakan harga chip memori (DRAM) akibat permintaan tinggi dari server AI yang secara langsung meningkatkan biaya produksi.
Aryo mengatakan vendor di segmen ini beroperasi dengan margin keuntungan yang sangat rendah, sehingga hampir tidak memiliki ruang untuk menyerap kenaikan biaya. Selain itu, kenaikan harga jual yang signifikan dengan skenario terburuk bisa mencapai 6–8% secara global berisiko mengikis daya tarik utama produk ini, yaitu harga terjangkau.
“Imbasnya, penjualan segmen ini diperkirakan turun,” kata Aryo.
Aryo menambahkan sangat dimungkinkan para vendor menyesuaikan volume dan karakter produknya, padahal entry-level masih menjadi motor utama volume penjualan, khususnya di pasar Indonesia.
Oleh sebab itu, pertimbangan vendor menjadi sangat kompleks. Aryo mengatakan mereka akan berupaya mempertahankan pangsa pasar dan volume penjualan, meski dengan margin yang semakin tipis atau bahkan merugi.
Dilematisnya, di Indonesia, konsumen entry-level kini mengharapkan performa chipset yang lebih lancar, kamera lebih baik, dan dukungan software lebih panjang dengan harga Rp1,5–2,5 juta.
“Vendor harus memenuhi ini dengan biaya produksi yang melonjak,” kata Aryo.
Aryo juga memperkirakan loyalitas merek sudah menurun. Menurutnya, konsumen akan lebih mudah berpindah merek untuk mendapatkan nilai terbaik (best value).
Dalam jangka panjang, lanjut dia, situasi ini akan mendorong perubahan struktur pasar yang lebih dalam. Smartphone konvensional entry-level kemungkinan akan menawarkan spesifikasi yang stagnan atau bahkan turun dari generasi sebelumnya.
“Tren memperpanjang siklus ganti smartphone pun akan menguat karena konsumen merasa nilai beli [value for money] menurun,” katanya.
Padahal, Counterpoint Research pada kuartal III/2025 mencatat segmen entry-level menjadi pendorong utama pertumbuhan penjualan smartphone.
Counterpoint mencatat pengapalan smartphone tumbuh 12% secara tahunan pada kuartal III/2025.
Lebih lanjut, pengapalan perangkat dengan harga di bawah US$150 melonjak 42% secara tahunan dan kini menguasai 55% pangsa pasar. Strategi agresif produsen dalam menyediakan perangkat terjangkau disebut menjadi faktor penting.
Sebaliknya, pasar menengah dan premium mengalami koreksi. Pengiriman smartphone pada rentang US$150–349 turun 10%, segmen US$350–699 turun 11%, dan perangkat premium di atas US$700 menyusut 14%.