Bisnis.com, CIREBON - Kinerja sektor pertanian Kabupaten Cirebon sepanjang 2025 menghadapi tekanan, terutama pada subsektor tanaman pangan padi. Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Cirebon mencatat produksi padi gabah kering panen (GKP) mengalami penurunan 3,04% dibandingkan 2024.
Kepala BPS Kabupaten Cirebon Januarto Wibowo mengatakan, sepanjang 2025 produksi padi sawah tercatat sebesar 683.880 ton GKP, menurun dari 705.316 ton GKP pada tahun sebelumnya. Penurunan itu setara dengan selisih produksi sekitar 21.436 ton.
“Penurunan produksi padi pada 2025 terutama dipengaruhi oleh berkurangnya luas panen, bukan karena penurunan produktivitas,” ujar Januarto, Rabu (21/1/2026).
Menurut Januarto, secara teknis kemampuan produksi petani menunjukkan perbaikan. Rata-rata produktivitas pada 2025 menembus angka 7,55 ton per hektare, lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang berada pada kisaran 6,24 ton per hektare.
Namun, lanjut Januarto, peningkatan produktivitas itu belum mampu menahan laju produksi akibat menyusutnya areal tanam. Tercatat, luas panen di Kabupaten Cirebon berkurang dari 92.409 hektare menjadi 90.587 hektare atau menyusut sekitar 1.822 hektare.
"Hal ini menjadi indikasi adanya tekanan pada lahan pertanian, seperti alih fungsi lahan serta perubahan pola tanam yang berdampak langsung pada proses produksi," kata Januarto.
Kabupaten Cirebon sebagai salah satu sentra produksi padi di Jawa Barat yang mengalami penurunan produksi memiliki implikasi strategis terhadap tekanan pangan daerah. Meskipun penurunannya terbatas, tren ini harus menjadi sinyal untuk pemerintah segera mengeluarkan kebijakan lahan pertanian berkelanjutan.
Tidak hanya itu, lanjut Januarto, dinamika produksi juga terjadi pada komoditas palawija. Adapun, jagung menjadi komoditas palawija dengan kinerja paling positif pada 2025. Produksi jagung meningkat sekitar 10.107 ton, seiring dengan luas tanam yang mencapai 4.689 hektare, menjadikannya komoditas palawija dengan area terluas di Kabupaten Cirebon.
“Jagung menunjukkan tren peningkatan yang cukup signifikan dan menjadi salah satu penopang produksi tanaman pangan selain padi,” ujar Januawarto.
Sebaliknya, sejumlah komoditas palawija lainnya justru mengalami penurunan. Produksi ubi jalar tercatat menurun sekitar 3.312 ton pada 2025. Sementara itu, kacang hijau masih menjadi komoditas yang cukup banyak dibudidayakan dengan luas tanam mencapai 1.887 hektare, meski kontribusi produksinya belum mampu mengompensasi penurunan pada komoditas lain.
Menurutnya, data tersebut menunjukkan kalau tantangan utama sektor pertanian Kabupaten Cirebon tidak terletak pada kemampuan produksi petani, melainkan pada aspek struktural. “Produktivitas yang meningkat menunjukkan petani mampu beradaptasi secara teknis. Tantangannya ada pada pengendalian alih fungsi lahan dan penguatan sistem pertanian agar produksi tetap berkelanjutan,” ujarnya.