Bisnis.com, JAKARTA—Emiten properti PT Lippo Karawaci Tbk. (LPKR) mencatatkan marketing sales atau pendapatan prapenjualan Rp5,32 triliun pada 2025 dengan mayoritas dari segmen rumah tapak.
CEO LPKR John Riady mengatakan pada segmen real estate, prapenjualan pada 2025 mencapai Rp5,32 triliun atau 85% dari target tahunan. Kinerja ini didorong oleh permintaan berkelanjutan untuk rumah tapak segmen terjangkau maupun premium di berbagai wilayah.
“Segmen rumah tapak menyumbang 72% dari total pra penjualan, mencerminkan minat kuat dari pembeli rumah pertama (first-time homebuyers) dan end-user,” paparnya dalam siaran pers, Senin (2/3/2026).
Pencapaian ini juga didukung oleh peluncuran Park Serpong fase 4–6 serta pengenalan produk Treetops Livin. Proyek-proyek baru ini berhasil menjawab permintaan dari segmen mass-market dan menengah sekaligus memperkuat posisi LPKR di pasar rumah tapak.
John Riady menambahkan pencapaian prapenjualan pada 2025 yang didukung oleh serah terima berbagai produk secara tepat waktu di berbagai wilayah. Strategi perumahan terjangkau perseroan yang dilengkapi penawaran di segmen premium, telah mendorong kinerja pra penjualan yang kuat.
Secara keseluruhan, LPKR mencatatkan pendapatan Rp9,03 triliun, Ebitda Rp1,37 triliun, dan laba bersih Rp469,53 miliar sepanjang 2025. Pendapatan segmen real estate selama tahun lalu mencapai Rp7,67 triliun atau tumbuh 52% YoY, dengan Ebitda Rp1,15 triliun.
Pada Segmen gaya hidup, yang terdiri dari bisnis mal dan hotel, LPKR membukukan pendapatan Rp1,37 triliun pada 2025. Ebitda naik 16% YoY menjadi Rp448 miliar, didukung oleh peningkatan sewa tenant, pemulihan operasional yang berkelanjutan, serta optimalisasi biaya.
“Pencapaian ini menegaskan fokus disiplin perseroan kepada bisnis inti Real Estate dan Lifestyle, peningkatan efisiensi berkelanjutan, serta pengelolaan keuangan yang prudent melalui pengendalian biaya dan upaya pengurangan hutang,” jelas John Riady.
Di sisi lain, laba bersih LPKR pada 2025 turun dari pencapaian Rp18,74 triliun pada 2024. Hal itu disebabkan lonjakan laba akibat pelepasan saham PT Siloam International Hospitals Tbk. SILO.
LPKR melalui PT Megapratama Karya Persada telah menjual 1,35 miliar saham (10,4%) SILO kepada Sight Investment Company PTE LTD dengan harga pengalihan Rp2.850 per lembar saham dan jumlah nilai transaksi sebesar Rp3,85 triliun. Penyelesaian transaksi tersebut dilakukan pada 13 Juni 2024.
Setelah transaksi ini kepemilikan Grup pada SILO menjadi 47,67%. Grup kehilangan pengendalian atas SILO dan tidak lagi melakukan konsolidasi atas laporan keuangan SILO. Dampak hilangnya pengendalian pada SILO sebesar Rp21,12 triliun dicatat pada laba rugi.