Bisnis.com, JAKARTA - Toko buku masih belum kehilangan pesonanya. Belakangan bahkan bermunculan fenomena toko-toko buku estetik yang tak hanya menjadi tempat berburu bacaan, tetapi juga nongkrong hingga berfoto karena latarnya yang Instagramable.
Salah satu contoh toko buku estetik yang menarik perhatian anak muda adalah gerai Gramedia di Grand Indonesia. Berbeda dari toko buku konvensional, lokasi ini menghadirkan sejumlah sudut Instagramable dengan latar panorama ikonik Bundaran HI.
Selain menyediakan koleksi buku, alat tulis, mainan anak, hingga alat musik, gerai ini juga dilengkapi area Pojok Membaca yang memberi ruang nyaman bagi pengunjung untuk menikmati buku lebih lama.
Di Jakarta Selatan, ada pula POST Bookshop di kawasan Santa yang mengusung konsep visual kekinian. Buku-buku ditata layaknya karya seni di rak maupun lemari, menciptakan suasana yang rapi dan estetik sehingga membuat pengunjung betah berlama-lama.
Selain kedua tempat tersebut, sejumlah toko buku lain seperti transit Bookstore, Lorong Buku Batavia, Blooks, hingga Patjar Merah juga mulai dikenal karena menawarkan pengalaman berburu buku dengan nuansa ruang yang menarik.
Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Arys Hilman menilai pasar buku saat ini semakin diramaikan oleh kehadiran pembaca baru, terutama dari kalangan anak muda. Masuknya generasi Z dinilai membawa energi baru bagi industri perbukuan karena menciptakan antusiasme dan pasar yang lebih hidup.
Namun, di balik peluang tersebut, muncul pula tantangan berupa disrupsi tersendiri. Menurut Arys, kehadiran Gen Z turut mengubah pangsa pasar sekaligus budaya masyarakat dalam membeli buku.
Generasi ini membawa cara pandang dan kebiasaan baru dalam memaknai aktivitas membaca, termasuk bagaimana mereka memilih, membeli, hingga menikmati buku sebagai bagian dari gaya hidup.
"Itu yang membuat beberapa toko buku kemudian juga berbenah, lalu bermunculan toko buku yang estetik," ungkapnya.
Perpaduan tren membaca dan pengaruh media sosial dari Gen Z kemudian melahirkan fenomena baru. Toko buku maupun perpustakaan yang dulu kerap dipandang sebagai ruang kuno dan sepi, kini mulai dilihat dengan cara berbeda oleh generasi muda. Kehadirannya tidak lagi semata sebagai tempat mencari buku, tetapi juga ruang untuk menikmati suasana, mencari inspirasi, hingga menghabiskan waktu.
Melalui berbagai konten di media sosial, citra toko buku dan perpustakaan perlahan berubah menjadi lebih segar dan dekat dengan anak muda. Tempat-tempat ini tampil sebagai ruang yang estetik, relevan dengan gaya hidup masa kini, bahkan menjadi destinasi yang menarik untuk dikunjungi dan dibagikan di platform digital.
"Ini jadi momentum penting, seandainya secara industri mereka bisa menemukan kanal penjualan yang tepat, cara berjualan yang betul, ini akan mendongkrak industri perbukuan," imbuhnya.
Segendang sepenarian, Asisten Manajer Mizan Media Utama Abdul Ajid menilai konsep toko buku maupun perpustakaan kini mengalami perubahan signifikan. Jika dahulu perpustakaan identik dengan deretan rak buku semata, kini banyak ruang baca yang dirancang lebih menarik melalui desain interior yang nyaman dan modern.
Menurutnya, berbagai fasilitas pendukung seperti area co-working, tempat membuka laptop, colokan listrik, akses wifi, hingga sudut santai untuk membaca menjadi daya tarik baru bagi pengunjung.
Kondisi ini membuat banyak anak muda merasa lebih betah berlama-lama di toko buku atau perpustakaan, bahkan menjadikannya sebagai ruang healing. Fenomena ini perlahan berkembang menjadi kebiasaan baru di kalangan anak muda.
Mengunjungi perpustakaan atau toko buku yang sedang populer kerap dianggap bagian dari tren, sehingga muncul dorongan untuk ikut datang agar tidak merasa tertinggal atau mengalami fear of missing out (FOMO). Meski demikian, kondisi tersebut dinilai membawa dampak positif karena turut menghidupkan ekosistem perbukuan, mulai dari distribusi hingga industri penerbitan secara lebih luas.
"Peran generasi muda kini semakin dominan dalam menggerakkan pasar buku, sekaligus mengubah cara pendekatan industri terhadap pembaca. Pergeseran ini membuat strategi pemasaran dan distribusi tidak lagi bisa mengandalkan pola lama, melainkan harus menyesuaikan dengan karakter dan preferensi generasi baru," katanya.
Abdul menilai perkembangan dunia buku seperti cukup menarik. Menurutnya, generasi muda mulai menunjukkan peningkatan kesadaran terhadap aktivitas membaca, yang tercermin dari tumbuhnya minat dan kegemaran mereka terhadap buku. Perubahan tersebut, kata dia, dapat terlihat dari semakin berkembangnya perpustakaan maupun toko buku yang kini kembali ramai dikunjungi anak muda.