Bisnis.com, JAKARTA - Semua berawal dari cuitan perdana Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump soal kebijakan tarif barunya terhadap China di Truth Social, Jumat (10/10/2025) malam. Perang dagang kembali memanas. Pasar kripto pun seketika terjun bebas.
Momen itu memicu rekor likuidasi terbesar dalam sejarah kripto, senilai lebih dari US$19,16 miliar atau sekitar Rp319 triliun, dan melibatkan hingga 1,61 juta trader terlikuidasi hanya dalam sehari, berdasarkan data CoinGlass.
Sebagai perbandingan, CoinGlass juga mencatat betapa likuidasi massal kali ini jauh lebih sadis ketimbang rekor sebelumnya, yaitu medio April 2021 dengan likuidasi senilai US$9,94 miliar. Kala itu, likuidasi dipicu kampanye masif anti money laundering (AML) aset kripto, serta munculnya larangan aktivitas usaha penambangan kripto (mining halt) oleh segelintir negara.
Likuidasi dalam konteks ini berkaitan erat dengan penggunaan leverage dalam instrumen derivatif kontrak berjangka atau futures, utamanya tipe perpetual futures (perps) yang tidak memiliki waktu kedaluwarsa.
Fasilitas ini memungkinkan trader meraih keuntungan saat pasar bullish maupun bearish, lewat mengambil posisi long (berharap harga naik) atau short (berharap harga turun).
Posisi long artinya meneken kontrak pembelian aset di harga terkini, lantas menjualnya di target harga strike yang lebih tinggi ketika menutup posisi. Adapun, posisi short, berarti meneken kontrak penjualan aset di harga terkini, lantas baru membeli di masa depan pada harga target yang lebih rendah buat menutup posisi.
Sebagai contoh, trader perps yang berminat mendapatkan eksposur pasar Bitcoin (BTC) senilai US$100, bisa mengambil leverage 25 kali dan hanya membutuhkan modal initial margin sebesar US$4 untuk membuka posisi long atau short di target harga tertentu.
Sederhananya, sistem ini mengakomodasi kebutuhan modal minimal untuk daya trading maksimal.
Namun, celaka akan datang ketika arah pasar bergerak berlawanan dari perkiraan. Bukannya untung berlipat, trader berpotensi kehilangan seluruh modalnya.
Praktis, dalam konteks market crash kripto kali ini, para trader di posisi long adalah pihak paling nelangsa setelah keluar cuitan Trump tentang China.
Sebagai contoh, platform analisis kripto on-chain Arkham di akun X resminya melaporkan kinerja akun Jeffrey Huang alias Machi Big Brother, musisi hip-hop berdarah Taiwan sekaligus tokoh lanskap desentralisasi keuangan (DeFi), sebagai salah satu nama besar yang terlikuidasi karena membuka beberapa posisi long untuk Ether (ETH).
Dompet Machi Big Brother itu sebelumnya tercatat memiliki potensi profit US$44,5 juta, namun kini anjlok dengan margin minus US$10 juta. Modal ETH yang sebelumnya bernilai sekitar US$79 juta pun amblas.
Lucunya, Huang dalam akun X miliknya @machibigbrother membalas cuitan Arkham dengan singkat seraya membenarkan, "Menyenangkan selama itu berlangsung."
Warganet X pun banyak yang membalas cuitan Huang dengan nada cenderung suportif, mayoritas berisi ungkapan agar dirinya tetap semangat dan bangkit lagi di masa depan.
Berbeda 180 derajat, ada juga kisah salah satu akun paus kripto (whale) yang justru menyerok cuan mencapai US$192 juta atau setara Rp3,1 triliun di tengah kondisi market crash, berbekal ketepatan waktu dalam mengambil posisi short.
Jagad maya heboh karena akun whale ini kelewat mencurigakan, sebab kedapatan membuka 9 posisi short dengan leverage 10 kali untuk bertaruh harga BTC dan ETH akan anjlok pada platform Hyperliquid, persis beberapa menit sebelum cuitan Trump mengemuka.
Beberapa investigator on-chain di media sosial pun beraksi untuk mengungkap trader yang kemudian ramai disebut 'Trump insider whale' itu. Lantas, nama mantan CEO BitForex Garrett Jin muncul sebagai anggota jaringan trader di balik akun tersebut.
Garrett dalam cuitan balasannya di platform X mengakui berjejaring dengan akun whale itu. Namun, bukan berisi uang pribadinya, melainkan manajemen kumpulan dana klien. Dia juga membantah terlibat insider trading di balik gejolak pasar kripto akibat cuitan Trump.
Adapun, dia mengklaim keputusan mengambil posisi short itu pun hanya strategi lindung nilai semata. Dia juga mengaku punya bekal analisis teknikal dengan melihat indikator-indikator sentimen negatif pada saham teknologi AS, karena aset itu memiliki risiko yang notabene sejalan dan berkaitan erat dengan risiko di lanskap kripto.
Garrett pun mencemooh orang-orang yang mencurigainya hanya karena telah membuat strategi yang tepat di waktu yang tepat.
Sentimen Bearish
Dilansir dari Reuters, Direktur Trading Monex USA Juan Perez menjelaskan ketegangan geopolitik berpengaruh besar terhadap fundamental aset kripto, sebab nilai dasarnya bergantung seberapa kuat kepercayaan pasar tentang keberlangsungan inovasi dan disrupsi kripto itu sendiri.
Sederhananya, inovasi akan mandek di tengah gejolak. Investor pun cenderung lebih rajin berburu aset-aset safe haven dan instrumen keuangan tradisional yang sedang seru-serunya bergerak secara dinamis di tengah ketidakpastian.
"Selama hubungan China dengan AS belum stabil dan pasar modal terkonsentrasi pada sektor teknologi, maka kripto akan kesulitan karena sifat dasarnya cenderung bagus ketika aset mapan lain sedang bergerak terbatas," ungkapnya, dikutip Rabu (15/10/2025).
Senada, riset platform derivatif kripto asal Australia, Derive.xyz menilai para investor kripto cenderung melihat pasar dalam tren bearish sampai akhir tahun. Indikatornya dari posisi populer di pasar berjangka dan opsi.
"Sentimen ke arah short menandakan semakin banyak orang khawatir tentang tren harga terus anjlok," ujar Head of Research Derive.xyz Sean Dawson seperti dilansir Reuters, Rabu (15/10/2025).
Sean mengungkap sentimen trader di pasar opsi pun cenderung ke arah 'put' atau hak menjual dengan bertaruh harga akan turun lebih dalam, sebagai strategi lindung nilai atau mengasuransikan posisi keuntungan yang sudah dimiliki.
Contohnya, pasar opsi untuk BTC diramaikan oleh strike harga US$115.000 dan US$95.000 sampai tanggal kedaluwarsa 31 Oktober. Untuk ETH, strike harga diramaikan US$3.600 pada 17 Oktober dan US$4.000 di akhir bulan ini, bahkan hanya US$2.600 sampai tanggal kedaluwarsa 26 Desember.