#30 tag 24jam
Cetak Laba di Kuartal I 2026, Kimia Farma Bidik Potensi Pasar Lansia
Segmen ini diproyeksikan menjadi revenue generator baru yang stabil dan loyal bagi portofolio bisnis KAEF. [785] url asal
#kimia-farma #laba-kimia-farma #berita-kimia-farma
(Kompas.com - Money) 29/06/26 16:44
v/262709/
JAKARTA, KOMPAS.com - PT Kimia Farma (Persero) Tbk (KAEF) melaporkan, fondasi keuangan yang kembali sehat di kuartal I-2026 menjadi modal utama KAEF untuk fokus pada rencana transformasi perbaikan bisnis perusahaan dalam jangka panjang.
"Pencapaian di awal tahun ini membuktikan restrukturisasi keuangan yang dijalankan sejak dua tahun lalu serta transformasi model bisnis yang lebih ramping dan efisien, berjalan di jalur yang tepat," jelas Direktur Utama KAEF Djagad Prakasa Dwialam, dalam keterangan resmi, Senin (29/6/2026).
Ia memerinci, KAEF pada kuartal I-2026 mencatatkan pertumbuhan laba kotor 11,06 persen menjadi Rp 824,8 miliar. Perseroan juga mencatatkan performa operasional yang solid dengan EBITDA mencapai Rp 153,8 miliar atau tumbuh 61,29 persen dibandingkan dengan kuartal I-2025.
EBITDA positif mencerminkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan arus kas dari aktivitas operasional inti.
Oleh karena itu, KAEF pada awal 2026 mencetak laba bersih Rp 123,6 miliar. Capaian ini menjadi dasar perseroan untuk terus menjaga momentum pertumbuhan dan meningkatkan kinerja secara berkelanjutan.
Djagad menambahkan, KAEF menerapkan strategi untuk mengejar pertumbuhan kinerja bisnis melalui efisiensi operasional dan optimalisasi portofolio produk high margin.
Di tengah dinamika global yang masih penuh tantangan, termasuk tekanan nilai tukar dan kenaikan harga bahan baku, maka implementasi efisiensi biaya, optimalisasi portofolio produk, diversifikasi pemasok, serta peningkatan penggunaan bahan baku lokal secara bertahap merupakan upaya penting untuk menjaga ketahanan bisnis dan daya saing perusahaan.
Langkah ini sejalan dengan komitmen KAEF untuk memperkuat kemandirian industri farmasi nasional.
Amankan sektor hulu dengan optimalisasi produk BBO lokal
Djagad menuturkan, sebagai industri farmasi pertama di Indonesia yang mengoptimalkan penggunaan Bahan Baku Obat (BBO) lokal, KAEF menjadi salah satu pilar kemandirian farmasi nasional. Saat ini KAEF telah memproduksi BBO lokal untuk berbagai kategori terapi prioritas, termasuk kardiovaskular, antibiotik, dan antiretroviral untuk penanganan HIV.
Melalui anak usaha PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia (KFSP), perseroan memiliki 19 BBO bersertifikat Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dari BPOM. Dari 19 BBO tersebut, sebanyak 18 BBO telah bersertifikat halal dari Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH). Optimalisasi BBO lokal diharapkan bisa menekan ketergantungan impor bahan baku yang saat ini masih mencapai 95 persen.
DOKUMENTASI KFA Direktur Utama Kimia Farma Apotek Junus KoswaraKimia Farma bidik potensi pasar lansia
Di sektor hilir, Djagad bilang, KAEF menangkap peluang strategis dari pergeseran demografi nasional dengan membangun ekosistem layanan Senior Care atau Healthy Ageing terintegrasi.
Dengan proporsi 20 persen dari total penduduk pada 2045, segmen lansia akan menjadi pendorong nilai ekonomi terbesar dalam industri kesehatan.
Untuk membidik pasar lansia, KAEF melakukan optimalisasi jaringan retail apotek dan klinik Kimia Farma dengan ekosistem terpadu yang menyediakan obat-obatan untuk penyakit kronis (diabetes, hipertensi), suplemen preventif khusus, hingga layanan pemantauan kesehatan berkala yang dirancang khusus untuk ramah lansia.
Segmen ini diproyeksikan menjadi revenue generator baru yang stabil dan loyal bagi portofolio bisnis KAEF.
KAEF menggeser fokus dari layanan kuratif konvensional menuju Preventive & Personalized Care melalui portofolio Healthspan.
Strategi ini didukung rentang produk yang komprehensif, mulai dari obat-obatan kimia, produk nutraceutical, hingga produk herbal berkualitas tinggi yang dirancang untuk membantu lansia menjaga kemandiriannya lebih lama (longevity).
Peran vital dalam ekosistem ini juga dijalankan oleh PT Kimia Farma Diagnostika (KFD) yang menjadi garda terdepan dalam layanan diagnostik, early screening, serta Medical Check-Up (MCU) khusus lansia untuk deteksi dini risiko penyakit kronis.
Sebagai solusi bagi pasien lansia dengan keterbatasan mobilitas, KAEF memiliki layanan Homecare sebagai pilar utama yang menyediakan Home Lab, Home Pharmacy, dan Home Nurse secara langsung di kediaman pasien. Integrasi layanan ini memastikan pengelolaan penyakit kronis dan kesejahteraan lansia dapat terjaga secara inklusif tanpa harus meninggalkan rumah.
Dengan mengoptimalkan fundamental bisnis hulu hingga hilir serta memperkuat penerapan tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance), KAEF yakin bisa melewati dan menyelesaikan setiap tantangan, baik masa kini, masa depan, maupun masa lalu.
Salah satunya terkait putusan arbitrase internasional dari Singapore International Arbitration Centre (SIAC).
Djagad memastikan pihaknya akan mengelola dan menyelesaikan tantangan historis masa lalu hingga tuntas dengan tetap memastikan tidak terganggunya transformasi bisnis KAEF dan pelayanan kesehatan untuk masyarakat.
“Perseroan memastikan seluruh kegiatan operasional perusahaan, termasuk manufaktur, distribusi, apotek, dan layanan kesehatan di seluruh jaringan Kimia Farma, tetap berjalan secara optimal untuk melayani kebutuhan masyarakat di sektor kesehatan,” katanya.
Menurut Djagad, KAEF tengah melakukan kajian komprehensif atas putusan tersebut dan berkoordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan terkait.
Hal itu untuk memastikan solusi terbaik untuk melindungi kepentingan perseroan dan pemegang saham sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku, sehingga perseroan dapat terus menjalankan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Perseroan senantiasa tunduk, mematuhi, dan berpedoman pada ketentuan hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku serta bersikap kooperatif terhadap otoritas yang berwenang sesuai dengan prinsip tata kelola perusahaan yang baik.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarangDicecar DPR, Holding BUMN Farmasi Pastikan Harga Obat RI Termurah di Dunia
Hal itu disampaikan Direktur Utama PT Kimia Farma Tbk. (KAEF) Djagad Prakasa Dwialam dalam rapat dengar pendapat Komisi VI DPR bersama holding BUMN Farmasi. [608] url asal
#holding-bumn #holding-bumn-farmasi #bio-farma #kaef #kimia-farma #indofarma #inaf #kinerja-bumn-farmasi #laba-bio-farma #laba-kimia-farma #harga-obat #harga-obat-generik #harga-obat-apotek-kimia-farma
(Bisnis.Com - Ekonomi) 09/06/26 17:55
v/245031/
Bisnis.com, JAKARTA — Direktur Utama PT Kimia Farma Tbk. (KAEF) Djagad Prakasa Dwialam menegaskan bahwa harga obat generik di Indonesia masih menjadi salah satu yang termurah di dunia. Hal tersebut disampaikan dalam rapat dengar pendapat Komisi VI DPR bersamaholdingBUMN Farmasi.
Dia menjelaskan, perbedaan harga obat sangat dipengaruhi oleh jenis produk, mulai dari obat generik, obat generik bermerek (branded generic), hingga obat originator atau produk paten. Djagad menyebut, untuk molekul yang sama terdapat perbedaan harga yang cukup signifikan antarsegmen produk.
Sebagai contoh, obat penurun kolesterol dengan kandungan Rosuvastatin dalam bentuk generik dijual sekitar Rp3.000–Rp6.000 per tablet dosis 20 miligram. Sementara itu, versi generik bermerek yang diproduksi Kimia Farma dipasarkan sekitar Rp12.000 per tablet.
Adapun produk originator yang dipasarkan perusahaan farmasi multinasional dapat mencapai sekitar Rp36.000 per tablet.
“Terus persepsi harga mahal, murah itu dari mana datangnya? Harus diakui, kalau bicarabranded, yang itu Crestor-nya misalnya atau Lipitor-nya, harga jenisnya lebih mahal. Tapi kalau bicara obat Rosuvastatin, generik Indonesia termasuk yang paling murah di dunia,” jelas Djagad dalam rapat kerja bersama DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (9/6/2026).
Menurutnya, persepsi harga obat mahal umumnya muncul ketika masyarakat membandingkan produk generik dengan obat originator atau obat paten yang memang memiliki harga lebih tinggi.
Dia menambahkan, obat generik yang digunakan dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan BPJS Kesehatan memiliki harga yang sangat kompetitif dibandingkan negara lain.
Kendati demikian, Djagad mengakui terdapat disparitas harga untuk obat-obatan originator apabila dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia. Salah satu penyebabnya adalah kebijakan perpajakan.
Di Indonesia, obat-obatan masih dikenakan pajak pertambahan nilai (PPN), sementara di Malaysia sejumlah produk farmasi memperoleh pembebasan pajak sehingga harga jualnya menjadi lebih rendah.
“Kalau dibandingkan Malaysia, salah satu faktornya memang masalah pajak. Di Malaysia itu dibebaskan dari VAT-nya (Value Added Tax), sementara di Indonesia masih dikenakan,” terang Djagad.
Pada kesempatan yang sama, manajemen Kimia Farma Apotek juga menjelaskan tingginya persepsi harga obat di jaringan apotek perseroan tidak terlepas dari model bisnis dan struktur rantai pasok yang berbeda dengan penyedia layanan swasta.
Sebelumnya, sejumlah anggota DPR menyoroti keluhan masyarakat terkait harga obat di jaringan apotek BUMN yang dinilai lebih mahal dibandingkan negara lain maupun apotek swasta.
Anggota Komisi VI DPR I Nengah Senantara mengatakan, harga obat di Indonesia bisa mencapai 500% lebih mahal jika dibandingkan dengan Malaysia. “Mohon kami dijelaskan, Pak. Kalau Menteri Kesehatan saja sampai mengeluhkan hal ini, apalagi masyarakat," kata Nengah dalam rapat tersebut.
Menurut dia, pemerintah danholdingBUMN Farmasi perlu menjelaskan faktor yang menyebabkan disparitas harga tersebut, terutama untuk sejumlah produk yang sempat disebut Menteri Kesehatan seperti Lipitor dan Crestor.
Dia juga mempertanyakan efektivitas ekspansi bisnis dan jaringan distribusi yang dilakukanholdingBUMN Farmasi apabila pada saat yang sama harga obat masih menjadi keluhan masyarakat.
Selain membandingkan dengan Malaysia, Nengah menyoroti harga obat di jaringan Kimia Farma yang menurut pengamatannya justru lebih mahal dibandingkan apotek swasta.
“Apa sebenarnya persoalan utamanya? Kenapa negara hadir untuk memberikan ketersediaan obat dan harga obat lebih murah, tapi kok swasta bisa lebih murah 30%, Pak?,” tanya Nengah.
Menurutnya, keberadaan BUMN farmasi seharusnya menjadi instrumen negara untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap obat yang terjangkau.
Sorotan serupa disampaikan Anggota Komisi VI DPR Subardi. Menurutnya, sejumlah jenis obat yang sama dapat diperoleh dengan harga lebih murah di Malaysia bahkan Jepang, meskipun sebagian besar produk tersebut juga berasal dari impor.
"Pertanyaannya, apakah perbedaannya karena perpajakan, karena pajak impor, atau apa persoalannya bisa murah di sana [Malaysia dan Jepang],” katanya.
Bardi menilai persoalan harga obat menjadi salah satu alasan masyarakat Indonesia memilih berobat ke luar negeri, terutama ke Malaysia.
"Saya melihat saat ini banyak pasien dari Indonesia berobat larinya ke Malaysia, ke Penang dan sebagainya," tambah politikus Partai Nasdem itu.
Holding BUMN Farmasi Bio Farma Cs Pede Cetak Laba usai Restrukturisasi
Holding BUMN Farmasi yang dipimpin Bio Farma berhasil mencatatkan EBITDA positif pada 2025. Kinerja apik itu diyakini berlanjut pada tahun ini. [637] url asal
#holding-bumn #holding-bumn-farmasi #bio-farma #kaef #kimia-farma #indofarma #inaf #kinerja-bumn-farmasi #laba-bio-farma #laba-kimia-farma
(Bisnis.Com - Market) 09/06/26 17:00
v/244956/
Bisnis.com, JAKARTA — HoldingBUMN farmasiyang dipimpin PT Bio Farma (Persero) optimistis mampu melanjutkan catatan positif pada 2026 usai mampumembalikkan kinerja operasional pada 2025 dengan mencatatkan EBITDA positif Rp827 miliar, setelah pada 2024 masih berada pada zona negatif.
Direktur Utama Bio Farma Shadiq Akasya menerangkan, 2024 merupakan periode yang penuh tantangan bagi grup farmasi pelat merah tersebut. Pada tahun itu, pendapatan konsolidasi tercatat sebesar Rp15,1 triliun, terdiri dari Bio Farma Rp5,2 triliun, PT Kimia Farma Tbk. (KAEF) Rp9,9 triliun, dan PT Indofarma Tbk. (INAF) Rp210 miliar.
Meski Bio Farma masih membukukan EBITDA positif Rp539 miliar, secara konsolidasi EBITDA grup tercatat negatif akibat kinerja Kimia Farma dan Indofarma yang masih tertekan.
Dari sisi laba bersih,holdingfarmasi mencatatkan rugi konsolidasi sebesar Rp1,08 triliun pada 2024. Kerugian tersebut berasal dari rugi Kimia Farma sebesar Rp1,2 triliun dan Indofarma Rp334 miliar, meskipun Bio Farma masih membukukan laba Rp418 miliar.
Kendati demikian, berbagai langkah perbaikan yang dijalankan sepanjang 2025 mulai menunjukkan hasil. Meskipun pendapatan konsolidasi turun tipis menjadi Rp14,67 triliun akibat keterbatasan modal kerja, profitabilitas operasional grup membaik secara signifikan.
"Namun di tahun 2025 kita sudah mencatatkan EBITDA yang positif, nampak di sini dari Rp14,6 triliun, 827 adalah EBITDA-nya, yang bersyukur bahwa ini kita bisa mencatatkan kinerja EBITDA yang positif," ujar Shadiq dalam rapat kerja bersama Komisi VI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (9/6/2026).
Bio Farma, katanya, menjadi penyumbang terbesar dengan EBITDA Rp580 miliar. Sementara itu, Kimia Farma berhasil mencatatkanturnarounddari EBITDA negatif Rp348 miliar pada 2024 menjadi positif Rp245 miliar pada 2025.
Adapun Indofarma masih mencatatkan EBITDA negatif Rp112 miliar, tetapi membaik dibandingkan posisi negatif Rp225 miliar pada tahun sebelumnya.
"Secara umum dengan EBITDA yang positif ini sangat memungkinkan perusahaan untuk mendapatkan keuntungan," sebut Shadiq.
Perbaikan juga terlihat pada laba bersih konsolidasi. Kerugianholdingfarmasi menyusut tajam menjadi Rp45 miliar pada 2025 dari Rp1,08 triliun pada tahun sebelumnya.
Bio Farma membukukan laba bersih Rp345 miliar, sedangkan rugi Kimia Farma turun menjadi Rp443 miliar dari sebelumnya Rp1,2 triliun. Indofarma juga masih mencatatkan kerugian, namun menunjukkan tren perbaikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Menurut Shadiq, perbaikan kinerja tersebut ditopang oleh keberhasilan restrukturisasi keuangan yang telah dijalankan lebih dari satu tahun pada sejumlah anak usaha, termasuk Kimia Farma dan entitas afiliasinya. Selain restrukturisasi, perusahaan juga melakukan efisiensi operasional melalui pengendalian harga pokok penjualan serta biaya penjualan dan administrasi di seluruh lini bisnis.
Holding BUMN Farmasi Bidik EBITDA Rp1,55 Triliun pada 2026
Pada 2026,holdingBUMN farmasi ini menargetkan pendapatan sebesar Rp15,9 triliun sebagaimana tertuang dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP). Target tersebut terdiri dari Bio Farma Rp5,5 triliun, Kimia Farma Rp10,4 triliun, dan Indofarma Rp351 miliar.
Perseroan juga membidik EBITDA sebesar Rp1,55 triliun, terdiri dari kontribusi Bio Farma Rp620 miliar, Kimia Farma Rp868 miliar, dan Indofarma Rp48 miliar. Melalui target tersebut, holding farmasi berharap dapat kembali membukukan laba bersih konsolidasi sekitar Rp2 miliar pada akhir 2026.
"[Laba bersih] Bio Farma [sendiri sesuai RKAP] harus mencapai Rp246 miliar, kemudian Kimia Farma ini walaupun masih negatif [rugi] Rp268 miliar, dan Indofarma itu [laba Rp13 miliar]," jelas Shadiq.
Hingga kuartal I/2026, kinerja grup menunjukkan tren yang sesuai dengan target. Penjualan konsolidasi telah mencapai Rp2,7 triliun dengan EBITDA sebesar Rp320 miliar dan laba bersih Rp175 miliar secara unaudited.
Ke depan, Bio Farma akan melanjutkan transformasi bisnis melalui peningkatan penjualan produk dengan margin lebih tinggi, pengembangan produk baru, serta pengurangan ketergantungan pada produk-produk generik yang memiliki tingkat profitabilitas lebih rendah.
"Kami juga harus merubah portfolio dari produk-produk yang generik salah satunya di produk farmasi, dan juga di Bio Farma ini harus merubah portofolionya dari produk-produk yang lama, sekarang harus diimbangi dengan produk-produk yang baru," jelasnya.
Manajemen juga menilai perubahan portofolio produk dan disiplin efisiensi operasional akan menjadi faktor penting untuk menjaga tren perbaikan kinerja dan mencapai target laba pada 2026.
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56