Bisnis.com, JAKARTA — Emiten pengelola Guardian dan Ikea di Indonesia, PT DFI Retail Nusantara Tbk. (HERO) menjelaskan alasan perseroan masih memilih menahan dividen pada 2026 ini kendati kinerja sepanjang tahun 2025 menunjukkan pemulihan.
Secara historis, perseroan tercatat membagikan dividen terakhir kali pada 1997.
Presiden Direktur HERO Hadrianus Wahyu Trikusumo mengatakan perseroan memprioritaskan untuk memperkuat keuangan dan bisnis terutama dalam kondisi pada tahun ini yang dipenuhi oleh ketidakpastian global.
"Di dalam RUPS disepakati untuk kami keep dulu dividen. Untuk memang memperkuat kondisi perusahaan dalam kondisi dunia saat ini. Kami memperkuat kondisi internal terlebih dahulu," ujarnya dalam public expose, Kamis (25/4/2026).
Senada Head of Finance Guardian Indonesia Melia Asmita mengatakan bahwa harapan pemegang saham untuk mendapatkan dividen merupakan hal yang wajar. Namun, perusahaan menilai saat ini masih menjadi momentum yang tepat untuk memperkuat struktur permodalan dan mendukung ekspansi usaha ke depan.
Melisa melanjutkan perbaikan kinerja yang dicatatkan oleh perseroan baru berlangsung dalam beberapa tahun terakhir.
Oleh karena itu, perusahaan masih memerlukan ruang yang cukup untuk mengakumulasi modal dan menjaga kesehatan keuangan agar pertumbuhan bisnis dapat berlangsung secara berkelanjutan.
"Dalam hal ini, peningkatan kinerja perseroan baru beberapa tahun hari ini. Jadi, kami sedang terus berusaha untuk memperbaiki. Sehingga sampai saat ini kami belum membagikan dividen," terangnya.
Mengacu pada data dividen dari laman Investing.com, HERO tercatat membagikan dividen secara berturut-turut pada periode 1992–1997. Perseroan mengumumkan dividen sebesar Rp3,75 per saham pada 23 Juli 1992, Rp2,125 per saham pada 5 Juli 1993, dan Rp2,50 per saham pada 4 Juli 1994.
Selanjutnya, HERO mengumumkan dividen sebesar Rp2,50 per saham pada 23 Juni 1995, Rp3,00 per saham pada 8 Juli 1996, serta Rp3,50 per saham pada 9 Juli 1997.
Strategi Pertumbuhan
Melisa melanjutkan strategi pertumbuhan Guardian pada tahun ini berfokus pada peningkatan aksesibilitas dan kepercayaan pelanggan.
"Kami berkomitmen untuk menghadirkan solusi kesehatan dan kecantikan yang semakin mudah dijangkau melalui ekosistem omnichannel yang kuat, produk-produk terpercaya, serta berbagai inisiatif yang mendukung gaya hidup sehat," jelasnya.
Managing Director Ikea Indonesia, Charlie Lansdale mengatakan strategi Ikea pada tahun ini adalah mengembangkan kapabilitas omnichannel untuk menghadirkan pengalaman berbelanja yang lebih seamless dan memudahkan pelanggan mengakses berbagai produk dan layanan Ikea.
Selain kinerja bisnis, Indonesia memainkan peran yang semakin penting dalam rantai pasok global Ikea melalui inisiatif ‘Made in Indonesia’, yang menunjukkan kontribusi manufaktur Indonesia yang semakin besar di pasar internasional.
“Prioritas kami adalah menjadikan Ikea semakin mudah diakses, terjangkau, dan relevan bagi masyarakat Indonesia. Di saat yang sama, kami memperkuat kontribusi Indonesia dalam rantai nilai global melalui pengadaan lokal dan inisiatif made in Indonesia," terangnya.
Sepanjang 2025, perseroan memaparkan berhasil membukukan penjualan sebesar Rp4,848 triliun, tumbuh 7% dibandingkan dengan pada 2024. Sementara laba bersih yang dihimpun pada 2025 sebesar Rp160 miliar dibanding tahun 2024 yang masih membukukan rugi bersih sebesar Rp6 miliar.
Sementara itu, per kuartal I/2026, HERO membukukan laba bersih senilai Rp87 miliar. Naik bila dibandingkan dengan periode yang sama pada 2025 sebesar Rp27,1 miliar.
Pertumbuhan laba bersih tersebut juga diikuti dengan pertumbuhan pendapatan dari Rp1,2 triliun menjadi Rp1,4 triliun pada kuartal I/2026.