Bisnis.com, JAKARTA – Presiden Trump mengatakan bahwa Perang di Gaza telah berakhir dan situasi di Timur Tengah akan dinormalisasi. Hal tersebut dikatakannya saat terbang ke Israel pada Minggu (12/10).
"Perang [Israel vs Palestina] sudah berakhir, Anda mengerti itu. Saya rasa situasinya akan kembali normal," kata Trump kepada wartawan di Air Force One saat ia memulai penerbangan dari Washington ke Israel.
Selain Trump, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pun ikut buka suara soal gencatan senjata di Gaza.
Besok adalah awal dari jalan baru. Jalan pembangunan, jalan penyembuhan, dan saya harap jalan penyatuan hati," ujar Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam siaran televisi.
Melansir Reuters, kunjungan Presiden Trump ke Israel akan dilanjutkan ke KTT di Mesir dengan tujuan untuk mengakhiri perang Gaza. Kunjungan ke Israel akan dimulai dengan berpidato di Parlemen Israel, Knesset, menjelang batas akhir pembebasan sandera oleh Israel dan Hamas pada Senin pukul 09.00 GMT (16.00 WIB).
Setelah itu, ia akan melanjutkan ke Sharm El Sheikh, Mesir, untuk menghadiri KTT soal Gaza pada hari yang sama. KTT Mesir akan dimediasi oleh Amerika Serikat, Mesir, Turki, dan Qatar juga akan dihadiri Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, dan Presiden RI, Prabowo Subianto.
Ribuan warga Palestina terus melakukan perjalanan ke utara menuju Kota Gaza, titik utama serangan Israel selama dua bulan terakhir semenjak gencatan senjata sejak Kamis (09/10).
"Banyak sekali kegembiraan di antara masyarakat," ujar Abdou Abu Seada, warga Gaza, yang bergembira setelah dua tahun perang yang telah menghancurkan sebagian besar wilayah Gaza.
Kegembiraan tersebut juga diselimuti dengan kesedihan atas kehancuran yang luas setelah perang dua tahun tersebut.
"Kami tidak percaya kehancuran yang kami saksikan. Kami gembira bisa kembali ke Gaza tetapi di saat yang sama kami juga merasakan kesedihan mendalam atas kehancuran yang terjadi," kata Rami Mohammad-Ali (37), warga Gaza, melalui telepon setelah berjalan kaki sejauh 15 km bersama putranya dari Deir Al Balah ke Kota Gaza.
Petugas keselamatan Gaza juga memperingatkan kepada warga sipil kemungkinan adanya bahaya senjata dan bom yang tersembunyi dan belum meledak. Amjad Al Shawa, organisasi koordinator bantuan untuk Gaza, memperkirakan kebutuhan 300 ribu tenda untuk menampung 1,5 juta warga Gaza yang mengungsi setelah kehancuran tempat tinggal mereka.
Mengenai para tahanan dan sandera, Reuters melaporkan bahwa Dinas Penjara Israel telah memindahkan beberapa tahanan Palestina ke fasilitas lain sebelum jadwal pembebasan mereka.
Kementerian Kehakiman Israel telah merilis 250 nama warga Palestina yang akan dibebaskan berdasarkan kesepakatan. Mereka dihukum karena pembunuhan dan kejahatan berat lainnya.
Namun, tidak ada nama komandan senior Hamas, atau tokoh terkemuka dari faksi lain seperti Marwan Al Barghouti atau Ahmed Saadat, yang diinginkan Hamas untuk bebas.
Meskipun hal itu tidak diharapkan mengganggu kesepakatan, kantor informasi tahanan Hamas mengatakan daftar tahanan yang akan dibebaskan sedang dimediasi dengan Israel.
Menteri Pertahanan Israel Katz mengatakan setelah para sandera dikembalikan, militer Israel akan menghancurkan terowongan bawah tanah di Gaza yang dibangun oleh Hamas.
Israel juga akan membebaskan sekitar 1.700 warga Palestina yang telah ditahan di Gaza sejak 7 Oktober 2023, dan 22 anak di bawah umur, beserta 360 jenazah pejuang.
Juru bicara pemerintah Israel Bedrosian mengatakan para tahanan akan dibebaskan setelah para sandera yang masih hidup mencapai wilayah Israel menurut laporan Reuters.(Stefanus Bintang Agni)