Bisnis.com, JAKARTA — Kehilangan kromosom Y pada pria seiring bertambah usia, berkontribusi pada peningkatan risiko penyakit serius bahkan memengaruhi harapan hidup. Temuan dari berbagai studi ini mengubah pandangan lama bahwa hilangnya kromosom Y tidak berdampak signifikan pada kesehatan.
Kromosom Y, umumnya terkait dengan penentuan jenis kelamin dan fungsi reproduksi. Ternyata, kromosom ini sering hilang dalam sel tubuh pria seiring bertambahnya usia.
Studi terbaru yang dikutip dari Live Science, Selasa (17/2/2026), menunjukkan bahwa sekitar 40% pria berusia 60 tahun menunjukkan kehilangan kromosom Y, dan angka ini meningkat menjadi 57% pada usia 90 tahun. Faktor lingkungan seperti kebiasaan merokok dan paparan karsinogen juga berperan dalam fenomena ini.
Kehilangan kromosom Y tidak merata di seluruh tubuh, melainkan terjadi hanya pada sebagian sel. Sel-sel tanpa kromosom Y dapat bertahan dan bahkan berkembang lebih cepat dibandingkan sel normal dalam kultur laboratorium, menciptakan campuran sel normal dan sel tanpa Y di dalam jaringan.
Awalnya, para ilmuwan beranggapan bahwa hilangnya kromosom Y tidak berpengaruh besar karena kromosom ini hanya membawa sekitar 51 gen kode protein, dibandingkan ribuan yang ada pada kromosom lain.
Namun, bukti terbaru menunjukkan fenomena kehilangan ini berkaitan dengan sejumlah kondisi kesehatan serius, termasuk penyakit kardiovaskular, penyakit neurodegeneratif, ginjal, dan beberapa jenis kanker.
Misalnya, sebuah penelitian besar di Jerman menemukan bahwa pria berusia di atas 60 tahun dengan frekuensi hilangnya hormon Y yang tinggi memiliki peningkatan risiko serangan jantung. Hilangnya kromosom Y juga dikaitkan dengan kematian akibat Covid.
Frekuensi hilangnya kromosom Y sepuluh kali lebih tinggi telah ditemukan pada pasien penyakit Alzheimer. Sementara beberapa penelitian telah mendokumentasikan hubungan antara hilangnya kromosom Y dengan berbagai jenis kanker pada pria.
Kondisi ini juga dikaitkan dengan prognosis yang lebih buruk bagi mereka yang menderita kanker. Hilangnya kromosom Y umum terjadi pada sel kanker itu sendiri, di antara anomali kromosom lainnya.
Para peneliti mengakui bahwa meskipun hubungan antara kehilangan kromosom Y dan berbagai kondisi penyakit cukup jelas, menentukan apakah kehilangan ini merupakan penyebab langsung dari penyakit atau sekadar indikator penuaan masih menjadi tantangan.
Faktor lain seperti kondisi kesehatan yang sudah ada sebelumnya atau pola pembelahan sel bisa mempengaruhi keduanya secara bersamaan.
Eksperimen pada tikus yang ditransplantasi dengan sel darah yang kek kromosom Y menunjukkan peningkatan tanda-tanda penuaan dan disfungsi jantung, memperkuat dugaan adanya keterlibatan langsung dari fenomena ini terhadap kesehatan fisik.