Bisnis.com, JAKARTA – Aksi baku tembak mewarnai demonstrasi yang meletus di ibu kota Somalia, Mogadishu, pada Rabu (3/6/2026) usai Presiden Hassan Sheikh Mohamud memperpanjang masa jabatan secara sepihak.
Melansir Al Jazeera, Jumat (5/6/2026), baku tembak terjadi antara pasukan pemerintah dan milisi yang bersekutu dengan oposisi. Bentrokan tersebut merusak sejumlah bangunan dan memaksa warga meninggalkan rumah mereka.
Pertempuran dimulai pada Rabu dan berlanjut hingga Kamis menjelang demonstrasi yang direncanakan untuk memprotes keputusan Presiden Hassan Sheikh Mohamud, meski masa kepemimpinannya telah berakhir bulan lalu.
Keputusan tersebut juga menunda pelaksanaan pemilu dan memicu kemarahan kubu oposisi yang menilai langkah Mohamud sebagai upaya memusatkan kekuasaan. Pemerintah menolak tuduhan tersebut.
Pihak oposisi menyerukan demonstrasi damai pada Kamis. Banyak warga turun ke jalan di tengah penjagaan keamanan ketat dengan patroli polisi di berbagai titik kota. Kepolisian menyatakan kekerasan dipicu oleh “serangan terorganisasi” dan mengaitkannya dengan kelompok politik yang berupaya merebut kekuasaan.
Krisis ini kembali menambah gejolak politik di Somalia yang sejak 2007 terus berperang melawan kelompok bersenjata al-Shabab. Somalia terakhir kali menggelar pemilu pada 1969 sebelum dilanda perang saudara selama lebih dari 30 tahun.
Mantan Perdana Menteri Hassan Ali Khaire, yang mengaku menjadi target aparat keamanan, mengecam pemerintah melalui unggahan di platform X. Dia menilai pemerintah menggunakan “persenjataan berat” yang sejatinya diperuntukkan bagi “operasi medan perang konvensional”.
“Ini adalah senjata yang dipercayakan kepada negara Somalia untuk melawan Al-Shabaab, namun kini digunakan terhadap para pemimpin dan warga Somalia sendiri dalam kampanye represi politik dan pembunuhan terarah yang belum pernah terjadi sebelumnya,” ujarnya seperti dikutip AlJazeera.
Dia menambahkan bahwa infrastruktur sipil tidak luput dari serangan dan pasokan listrik sengaja diputus.
Warga sipil kini berisiko menjadi korban di tengah konflik antara dua faksi politik yang bertikai.
Hingga kini belum ada laporan resmi mengenai jumlah korban jiwa. Pertempuran mulai mereda pada Kamis pukul 09.30 waktu setempat ketika pemerintah dan oposisi memulai pembicaraan.
Seorang analis keamanan yang enggan disebut namanya mengatakan bahwa terdapat korban sipil di beberapa wilayah.
Uni Afrika menyerukan semua pihak menahan diri dan menyatakan keprihatinan mendalam atas bentrokan di kawasan permukiman. Uni Eropa serta Kedutaan Besar Amerika Serikat di Mogadishu juga menyampaikan kekhawatiran serupa.
Mohamud bukan presiden Somalia pertama yang mencoba memperpanjang masa kekuasaan. Mantan Presiden Mohamed Abdullahi Farmaajo tetap menjabat lebih dari satu tahun setelah masa mandat resminya berakhir pada 2021, yang kala itu memicu kekerasan dan kecaman dari komunitas internasional.